
Wafatnya orang tua seringkali datang tiba-tiba, menyisakan duka sekaligus kepanikan. Pada momen awal, jam-jam pertama hingga hari pertama, yang paling dibutuhkan bukan banyak acara, tetapi ketepatan langkah.
Syariat memberi panduan yang jelas agar keluarga tidak bingung dan tidak terbebani.
1. Segera Mengurus Jenazah Begitu orang tua wafat, prioritas pertama adalah pengurusan jenazah: memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan.
Poin penting juga disini, adalah mengkhabarkan berita kematian kepada handai taulan.
Tips nya adalah, segera menghubungi tokoh masyarakat/tetangga yang biasa mengurus hal ini. Sehingga hal-hal yang harus dilakukan bisa dibagi bebannya kepada saudara atau orang lain.
Dalam Nihayatuz Zain dijelaskan bahwa ini adalah kewajiban bersama (fardhu kifayah).
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ
“Segerakanlah pengurusan jenazah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karena itu, di saat awal kematian, fokuskan tenaga pada hal ini. Tidak perlu menunda hanya karena menunggu hal-hal di luar kebutuhan syar’i.
Contoh, harus menunggu saudara hadir di rumah duka, yang membuat jenazah harus tertunda untuk segera dikuburkan.
2. Menginventarisir dan Menyelesaikan Hutang
Di saat suasana masih hangat dengan duka, keluarga inti sebaiknya mulai mengingat dan mencatat tentang hutang almarhum.
Hutang kepada manusia. Dalam Al-Majmu’ dijelaskan bahwa hutang didahulukan sebelum warisan dibagikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Ruh seorang mukmin tergantung karena hutangnya sampai dilunasi.” (HR. Tirmidzi)
Maka sejak awal, penting membuka komunikasi dengan kerabat atau pihak yang mungkin memiliki piutang.
Hutang kepada Allah (shalat dan puasa)
Dalam pembahasan ulama di I’anatut Thalibin, hutang puasa dapat diganti oleh wali atau dibayarkan fidyahnya.
Shalat menurut mayoritas ulama tidak bisa diganti (diqodho oleh orang lain) namun ada pendapat yang membolehkan fidyah
Langkah awalnya adalah mendata, bukan langsung menyelesaikan semuanya. Yang penting tidak dilupakan.
3. Menghidupkan Doa di Tengah Duka
Di saat orang-orang berdatangan, jangan sampai rumah hanya dipenuhi obrolan, tapi sepi dari doa.:
اقْرَؤُوا يٰسٓ عَلَىٰ مَوْتَاكُمْ
“Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal di antara kalian.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Di saat-saat awal:
Bacakan Yasin, bacakan kalimat thoyyibah dan doa, perbanyak istighfar. Niatkan setiap amal sebagai kiriman pahala
Dalam I’anatut Thalibin dijelaskan bahwa doa dan sedekah dapat sampai kepada mayit.
4. Menata “Kewajiban Sosial” dengan Bijak
Pada fase awal kematian, biasanya tetangga dan masyarakat datang membantu. Di sinilah adab sosial harus dijaga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا
“Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far.” (HR. Abu Dawud)
Artinya, keluarga yang berduka tidak seharusnya dibebani untuk menjamu.
Masih dalam I’anatut Thalibin dijelaskan bahwa jika jamuan justru memberatkan keluarga mayit, maka hal itu tidak dianjurkan.
Praktik baik yang bisa dilakukan:
Tetangga melalui pengurus PKK mengelola makanan untuk keluarga inti.
Dana berasal dari iuran warga (dana sosial/dana kematian).
Dengan begitu, keluarga bisa fokus pada pengurusan jenazah tanpa direpotkan urusan dapur.
5. Jaga Diri di Tengah Duka
Di saat seperti ini, energi terkuras, fisik lelah, pikiran penuh, emosi tidak stabil. Namun jangan sampai tidak makan kurang minum, tidak istirahat sama sekali
Dalam kaidah disebutkan:
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Apa yang menjadi penopang terlaksananya kewajiban, maka itu juga menjadi kewajiban.”
Menjaga kondisi tubuh tetap fit dan sehat adalah bagian dari tanggung jawab, agar semua kewajiban terhadap jenazah bisa ditunaikan dengan baik.
Waba'du, jangan lupa untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas orang-orang yang hadir membantu di saat paling berat.
Dan disinilah biasanya orang tersadar, betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga.
Ahmad Abid Manshur
Santri PP Roudhotul Muta'allimin Pamriyan Gemuh Kendal.