Suara yang Terlalu Sering Kita Dengar, Hingga Kehilangan Makna


Ada suara-suara dalam hidup yang karena terlalu sering kita dengar, akhirnya tidak lagi kita rasa. Ia lewat begitu saja—tanpa makna, tanpa getaran. Dan salah satu suara itu… adalah adzan.

Lima kali sehari, ia berkumandang. Dari masjid ke masjid, dari desa hingga kota. Suaranya bukan sekadar penanda waktu, tapi seruan langit yang mengajak manusia kembali kepada Tuhannya. Namun karena ia hadir begitu rutin, sering kali ia berlalu begitu saja—didengar, tapi tidak dihadirkan dalam hati.

Padahal, adzan bukan sekadar tradisi. Ia memiliki landasan hukum yang kuat dalam syariat Islam. Para ulama sepakat bahwa adzan adalah syi’ar Islam yang agung. Dalam madzhab Syafi’i, adzan dihukumi fardhu kifayah—jika sudah ada yang melaksanakan, gugurlah kewajiban yang lain. Namun jika ditinggalkan oleh suatu kaum, maka seluruhnya berdosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

"Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan mengundi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain:

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Para muadzin adalah manusia yang paling mulia kedudukannya pada hari kiamat." (HR. Muslim)

Namun dalam praktiknya, ada dua titik penting yang sering terabaikan: niat muadzin dan sikap orang yang mendengar adzan.

1. Niat Seorang Muadzin: Menyampaikan, Bukan Menampilkan

Seorang guru pernah menasihati penulis, "Kalau kamu adzan, niatkan bahwa kamu sedang menyampaikan panggilan Allah. Kamu hanya penyambung suara, bukan pemilik panggilan."

Nasihat ini sederhana, tapi dalam. Sebab sering kali tanpa sadar, adzan berubah dari ibadah menjadi ajang menunjukkan suara terbaik. Lagu dilagukan, nada diperindah, hingga hati pun terselip harapan: “Semoga orang datang karena suaraku.”

Di situlah letak bahayanya. Ketika adzan dilantunkan dengan orientasi pada diri, bukan pada Allah, maka ia kehilangan ruhnya. Lebih berbahaya lagi, ketika jamaah yang datang sedikit, hati menjadi kecewa. Seolah-olah yang kita panggil adalah manusia, bukan menjalankan perintah Tuhan. Padahal sejatinya, adzan adalah seruan ilahi:

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

"Mari menuju shalat, mari menuju kemenangan."

Seorang muadzin adalah utusan. Ia tidak dituntut untuk “melariskan jamaah”, tapi untuk menyampaikan panggilan Allah dengan ikhlas.

2. Sikap Pendengar Adzan: Menjawab atau Mengabaikan? Di sisi lain, ada tanggung jawab besar bagi yang mendengar adzan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ

"Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin." (HR. Muslim)

Ini bukan sekadar anjuran ringan. Menjawab adzan adalah bentuk penghormatan terhadap panggilan Allah, sekaligus tanda kesiapan hati untuk memenuhi seruan-Nya. Sebagian ulama salaf bahkan mengungkapkan peringatan yang sangat keras:

لَأَنْ يُصَبَّ فِي أُذُنِي رَصَاصٌ مُذَابٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَسْمَعَ النِّدَاءَ فَلَا أُجِيبَ

"Sungguh, dimasukkan timah panas ke dalam telingaku lebih aku sukai daripada aku mendengar adzan lalu tidak menjawabnya."

Ini bukan hadits Nabi ﷺ, namun dinukil dalam kitab-kitab adab dan atsar salaf seperti Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim, sebagai ungkapan betapa buruknya sikap meremehkan panggilan adzan.

Allah berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا

"Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling darinya?" (QS. As-Sajdah: 22)

Adzan adalah dzikir, pengingat, dan panggilan. Ketika ia terdengar namun sengaja diabaikan, itu tanda hati mulai mengeras. Rasulullah ﷺ bahkan memberikan peringatan keras tentang meninggalkan shalat berjamaah tanpa uzur, sampai beliau hampir memerintahkan untuk membakar rumah orang-orang yang tidak menghadirinya (HR. Bukhari dan Muslim, makna hadits).

Ini menunjukkan bahwa mengabaikan panggilan shalat—yang diawali dengan adzan—bukan perkara ringan. Adzan mengajarkan dua hal sekaligus: tentang keikhlasan dalam menyeru, dan kesungguhan dalam memenuhi panggilan. Muadzin menjaga niatnya agar tetap lurus kepada Allah. Pendengar menjaga hatinya agar tidak berpaling dari Allah. Jika keduanya berjalan benar, maka adzan bukan sekadar suara, tapi akan menjadi penggerak kehidupan.

Mungkin sudah saatnya kita kembali mendengar adzan, bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati. Karena bisa jadi, yang sering kita abaikan itu bukan sekadar suara, melainkan panggilan langsung dari Allah.

Musthofa Abdurrahman

Muadzin Mushola Nurul Yaqin Langenharjo Kendal

Informasi Berita Lainnya

Halalbihalal IPNU-IPPNU Cepiring, Perkuat...

Cepiring, pcnukendal.com - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)...

Ketua IPPNU Kendal Tekankan Pentingnya Sinergi...

Kendal, pcnukendal.com - Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten...

Halalbihalal FUSPAQ Singorojo, Al-Qur'an...

Singorojo, pcnukendal.com - Badan Khusus Forum Ukhuwah Silaturrahim Pendidikan Al-Qur’an (FUSPAQ) NU Kecamatan Singorojo membagikan mushaf...

Pengurus Ansor Sidomukti Resmi Dilantik,...

Weleri, pcnukendal.com - Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda Ansor Desa Sidomukti, Kecamatan Weleri, masa khidmah 2025–2027 resmi...

Advertisement

Press ESC to close