
Ungkapan Jawa lama, “adigang, adigung, adiguno”—merasa paling kuat, paling besar, dan paling berkuasa—seakan menemukan relevansinya hari ini. Ketegangan antara Iran, Amerika, dan Israel bukan sekadar konflik geopolitik, melainkan cermin bagaimana kekuatan dunia saling unjuk dominasi. Serangan dibalas serangan, strategi dibalas strategi, seolah dunia sedang menilai siapa yang paling kokoh berdiri. N
amun, di balik dinamika itu, ada pola yang menarik untuk dicermati. Dalam berbagai eskalasi yang terjadi, respons yang muncul kerap menunjukkan prinsip timbal balik—target militer dibalas target militer, serangan dijawab dengan kadar yang relatif sebanding. Ini memberi isyarat bahwa bahkan dalam konflik keras, masih ada batasan-batasan tertentu dalam cara bertindak.
Dalam perspektif Islam, prinsip tersebut bukan hal baru. Al-Qur’an telah menegaskan:
“Barangsiapa menyerang kamu, maka balaslah dengan serangan yang sebanding dengan serangannya kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 194)
فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ
“Barangsiapa menyerang kamu, maka balaslah dengan serangan yang sebanding dengan serangannya kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 194)
Namun, Islam tidak berhenti pada pembolehan membalas. Ada garis tegas yang tidak boleh dilampaui:
وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Dua ayat ini menegaskan bahwa keadilan tetap menjadi prinsip utama, bahkan dalam situasi konflik. Balasan dibolehkan, tetapi harus terukur, terkendali, dan tidak melampaui batas kemanusiaan.
Di sisi lain, sejarah juga memberi peringatan tentang bahaya kesombongan yang menjadi akar kehancuran. Al-Qur’an mengabadikan kisah Fir’aun sebagai simbol kekuasaan yang melampaui batas:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi.” (QS. Al-Qashash: 4)
Sejarah selalu berulang. Yang merasa paling kuat, sering lupa batas. Yang merasa paling benar, sulit menerima kebenaran. Kesombongan itulah yang pada akhirnya menjadi sebab kehancurannya. Apa yang tampak kokoh dan tak tergoyahkan, dalam sekejap dapat runtuh tanpa daya.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Para ulama juga menegaskan:
من تكبر وضعه الله
“Siapa yang sombong, Allah akan merendahkannya.”
Hari ini mungkin ada yang tampak tak tersentuh. Namun Fir’aun dahulu juga demikian—kuat, berkuasa, dan merasa tidak mungkin dikalahkan. Pada akhirnya, ia tenggelam tanpa daya.
Pelajaran ini menjadi penting, terutama bagi kalangan santri dan umat Islam secara umum. Setidaknya ada tiga hal yang dapat dipetik.
Pertama, Islam mengajarkan keadilan bahkan dalam membalas—tidak semua boleh dibalas seenaknya. Ada aturan dan batas yang harus dijaga.
Kedua, kekuatan tanpa iman melahirkan kesombongan. Ssejarah membuktikan, kesombongan kerap menjadi pintu awal kehancuran.
Ketiga, sikap adil dan pengendalian diri harus dikedepankan dan tidak larut dalam emosi, karena kebenaran tidak diukur dari amarah, tetapi dari ketundukan pada aturan Allah.
Dunia boleh sibuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Namun bagi santri, yang terpenting bukan menjadi yang paling kuat, melainkan menjadi pribadi yang tahu batas, menjaga adab, dan tunduk kepada Allah.
Waba'du, kita tunggu ramalan atau firasat Syekh Ahmad Yassin, pendiri Hamas yang disampaikan dalam satu wawancara nya tentang prediksi kehancuran Israel pada tahun 2027.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْغِلِ الظَّالِمِينَ بِالظَّالِمِينَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِينَ وَعلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين
Muhammad Husain Athoillah
Siswa kelas X.A MANU 05 Gemuh Kendal