
Menutup aurat bukan sekadar soal penampilan, tetapi bagian dari ketaatan seorang muslim kepada syariat. Dalam Islam, aurat laki-laki memiliki batas yang tegas, yakni antara pusar hingga lutut. Batas ini berlaku dalam segala keadaan, baik saat melaksanakan shalat maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ
“Apa yang berada antara pusar dan lutut adalah aurat.” (HR. Imam Ahmad)
Hadis ini menjadi landasan jelas bahwa bagian tersebut wajib ditutup. Tidak hanya ketika beribadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Berlaku di Dalam dan di Luar Shalat
Para ulama menegaskan bahwa batas aurat tidak berubah meski di luar shalat. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan:
والعَوْرَةُ وَاحِدَةٌ فيِ الصَّلاَةِ وَخَارِجَهَا
“Aurat itu sama, baik di dalam shalat maupun di luarnya.
Senada dengan itu, Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan:
وَيَجِبُ سَتْرُالْعَوْرَةِ عَنْ أَعْيُنِ النَّاسِ فِي كُلِّ حَالٍ
“Wajib menutup aurat dari pandangan manusia dalam setiap keadaan.”
Penegasan ini menunjukkan bahwa menjaga aurat bukan pilihan situasional, melainkan kewajiban yang konsisten.
Tren Boleh, Syariat Jangan Dikorbankan
Di tengah perkembangan gaya hidup modern, muncul berbagai tren berpakaian yang sering kali mengabaikan batas aurat, seperti: celana di atas lutut, pakaian olahraga yang terbuka, atau busana ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh.
Dalam kaidah ushul fikih disebutkan:
اَلْخَاصُّ مُقَدَّمٌ عَلىَ الْعَامِّ
“Dalil yang khusus didahulukan daripada yang umum.”
Artinya, meskipun suatu tren diikuti banyak orang, ketika bertentangan dengan ketentuan syariat yang jelas, maka syariat harus tetap menjadi prioritas. Popularitas tidak bisa mengalahkan kebenaran.
Malu adalah Cermin Iman
Lebih dari sekadar aturan, menutup aurat juga berkaitan erat dengan rasa malu sebagai bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْحَيَاءُ مِنَ الْأِيْمَانِ
“Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, menjaga aurat bukan soal “ketinggalan zaman” atau tidak mengikuti tren, melainkan wujud keimanan dan kesadaran diri sebagai hamba Allah.
Mengukur Kebenaran
Seorang muslim tidak semestinya mengukur kebenaran dari apa yang sedang populer. Ukurannya adalah syariat. Sebab yang dicari bukanlah pengakuan manusia, melainkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pantun Penutup
Pergi ke pasar membeli kain,
Tak lupa singgah membeli pala.
Kalau aurat sudah diabaikan,
Hilang malu, rusaklah jiwa.
Kalau hidup tanpa rasa malu,
Mengumbar aurat dimana saja
Ingatlah satu pesan selalu,
Yang tak punya malu hanyalah orang gila.
Ahmad Abid Manshur
Santri Pondok Pesantren Roudhotul Muta'allimin, Pamriyan Gemuh Kendal