
Boja, pcnukendal.com - Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Kendal menerjunkan 20 personel Banser Tanggap Bencana (Bagana) untuk mengikuti Jambore Relawan Penanggulangan Bencana Kabupaten Kendal yang digelar oleh BPBD bekerja sama dengan BNPB di Bumi Perkemahan Parikesit, Desa Blimbing, Kecamatan Boja, Sabtu–Minggu (1–2/11/2025).
Keberangkatan dua puluh personel Bagana dilepas langsung oleh Kasatkorcab Banser Kendal, Primardiyanto, di halaman Balai Desa Kaligading, Boja, Sabtu (1/11/2025). Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan semangat pengabdian tanpa batas.
“Selamat menjalankan tugas kemanusiaan. Jambore ini menjadi tempat menempa diri sekaligus bersosialisasi. Bagana harus selalu siap kapanpun dan di manapun dibutuhkan,” pesan Primardiyanto didampingi Kasatsus Bagana, Ahmad Sahri.
Kasatsus Bagana Kendal, Ahmad Sahri, menjelaskan bahwa Banser Kendal mendapat kuota 20 peserta, yang semuanya diambil dari personel Bagana terpilih.
“Harapannya, Bagana Kendal bisa diandalkan sebagai garda depan dalam menjalankan tugas kemanusiaan, khususnya di bidang kebencanaan,” ujarnya.
Selama dua hari, para peserta akan mengikuti serangkaian pelatihan yang meliputi sistem komando penanganan darurat bencana, potensi sesar aktif di Kendal, pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, hingga simulasi pencarian dan pertolongan. Materi juga akan mengulas rencana aksi komunitas, klaster penanggulangan bencana, serta kebijakan dan strategi nasional kebencanaan.
Narasumber yang hadir berasal dari BPBD Provinsi Jawa Tengah, BNPB Jawa Tengah, BAZNAS Semarang, Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Kabupaten Kendal, serta sesi serap aspirasi oleh DPRD Kabupaten Kendal.
Salah satu peserta, Abdul Rofiq dari Bagana Satkoryon Sukorejo, mengaku semangatnya tidak pernah padam meskipun sudah beberapa kali mengikuti jambore dan pelatihan kebencanaan.
“Setiap kegiatan selalu memberi pengalaman baru. Selain menambah ilmu, jambore seperti ini menjadi ajang silaturahmi antarrelawan lintas komunitas. Di sini, baju apapun yang kita pakai melebur menjadi satu: relawan kemanusiaan,” ungkapnya. (anish/muf)