
Kendal, pcnukendal.com - Penganugerahan Kendal Cerpen Award digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalireyeng Kebondalem Kendal, Minggu (26/10/2025).
Ajang ini diinisiasi oleh berbagai komunitas literasi dan seni Kendal, di antaranya Komunitas Lereng Medini Boja, Pelataran Sastra Kaliwungu, Sangkar Arah Pustaka, dan Jarak Dekat Art Production, serta didukung sejumlah komunitas budaya lain di Kabupaten Kendal.
Sebanyak 17 cerpenis muda Kendal lolos sebagai peserta finalis. Mereka memperebutkan anugerah bergengsi yang diharapkan menjadi ruang tumbuhnya semangat menulis dan berkarya di kalangan generasi muda.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kabupaten Kendal, Wahyu Yusuf Ahmadi, turut hadir dan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi atas kerja keras para penggerak literasi yang konsisten menciptakan ruang kreatif bagi anak muda.
“Komunitas ini luar biasa. Mereka memberi ruang bagi generasi muda untuk berkarya dan menumbuhkan budaya literasi di Kendal. Kami dari pemerintah siap mendukung dan membersamai proses kreatif para seniman muda agar terus lahir ide-ide segar di dunia sastra dan budaya,” ujar Wahyu.
Tiga juri turut menilai karya para peserta, yakni Sawali Tuhu Setya (penulis dan sastrawan nasional), Heri Condro Santoso (jurnalis dan pegiat literasi), serta Arif Fitra Kurniawan (cerpenis sekaligus seniman).
Hasilnya, Intan Tika Sari dari Kemiri Ciut Singorojo berhasil merebut juara pertama lewat cerpen berjudul Empat Jam Api di Boja. Posisi kedua diraih Muhammad Fauzi dari Kaliwungu dengan karya Jan, dan M. Abdul Daffa dari Kaliwungu menempati juara ketiga melalui cerpen Bayangan Hitam di Pabrik Gula.
Sementara dua karya lain, Mata Hati karya Abdullah Khanif dan Dahana karya Sabrina Aulia Muslimah, mendapat apresiasi khusus dari dewan juri.
Sastrawan Sawali Tuhu Setya menegaskan pentingnya keberlanjutan dari kegiatan seperti ini.
“Saya tidak ingin kegiatan ini berhenti di sini. Menulis itu proses panjang. Kompetisi seperti ini adalah tanda bahwa pergerakan literasi di Kendal hidup. Teruslah menulis, karena dari sinilah lahir cerpenis muda yang profesional,” pesannya.
Tak seperti lomba menulis pada umumnya yang menawarkan hadiah uang tunai atau piala, Kendal Cerpen Award 2025 justru menghadirkan sesuatu yang unik: hadiah berupa kambing peranakan etawa, anak kambing, ayam, hingga bebek.
Ketua Panitia Lukluk Astmara Anjaina menjelaskan, hadiah berupa hewan ternak memiliki filosofi tersendiri.
“Hewan ternak adalah simbol kehidupan. Kami ingin menggambarkan bahwa seni, sastra, dan literasi di Kendal juga hidup dan terus berkembang,” ujarnya. (anish/muf)