
Kendal, pcnukendal.com - Menyambut Bulan Bahasa 2025, gabungan komunitas seni, sastra, dan literasi di Kabupaten Kendal menggelar sayembara menulis cerpen bertajuk Kendal Cerpen Award (KCA) dengan hadiah yang unik yakni kambing.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi gotong royong antara Sangkar Arah Pustaka Kangkung, Pelataran Sastra Kaliwungu, Jarak Dekat Art Production Kangkung, Sarang Lilin Space Art Brangsong, dan Komunitas Lereng Medini (KLM) Boja.
Ketua panitia KCA, Lukluk Astmara Anjaina, menjelaskan bahwa lomba ini terbuka bagi seluruh warga Kendal dengan usia maksimal 35 tahun, dibuktikan dengan KTP atau kartu pelajar. Peserta diminta mengangkat tema yang berkaitan dengan legenda, sastra lisan, mitos, artefak, peristiwa sejarah, atau tragedi kemanusiaan di Kendal.
“Karya harus minimal 2.000 kata atau 11.000 karakter. Penilaian mencakup kesesuaian tema, orisinalitas, kekuatan ide, teknik bercerita, gaya bahasa, dan daya imajinasi. Dewan juri berasal dari kalangan cerpenis, kritikus sastra, dan pegiat literasi,” ujar Lukluk, Kamis (7/8/2025).
Naskah dapat dikirim melalui bit.ly/KendalCerpenAward2025 atau email kendalwedusaward@gmail.com. Informasi lebih lengkap tersedia di Instagram Pelataran Sastra Kaliwungu. Tenggat pengiriman karya adalah 30 September 2025, dan pemenang akan diumumkan pada 26 Oktober 2025 bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa.
Filosofi Hadiah Kambing
Direktur Sarang Lilin Space Art Brangsong, Setia Naka Andrian, mengungkap alasan di balik pilihan hadiah yang nyeleneh ini.
“Juara 1 akan mendapat seekor kambing peranakan etawa, juara 2 anak kambing, sedangkan juara 3 dan harapan akan mendapat hewan ternak lain seperti ayam atau bebek, selain hadiah tambahan lainnya,” jelas Naka yang juga Sekretaris Lesbumi PCNU Kendal.
Menurutnya, kambing adalah simbol karakter lokal yang otentik dan membumi. “Karya sastra lahir dari denyut kehidupan masyarakat. Kambing merepresentasikan kedekatan itu,” tambahnya.
Ia berharap semangat gotong royong ini menjadi bukti kemandirian komunitas dalam membangun iklim literasi yang sehat di Kendal. “Semoga kegiatan seperti ini terus bergulir dan berkelanjutan,” tutup penulis muda yang juga Dosen PBSI UPGRIS tersebut. (anish/muf)