Kiai Paox: Pemuda Harus Nekat, Nakal, Tapi Tetap Sembodo


Weleri, pcnukendal.com - Budayawan penjelajah sekaligus pengasuh Pesantren Darul Mudhofar, Kiai Paox Iben Mudhofar menggugah kesadaran kalangan muda agar berani mengambil peran dalam perubahan sosial.

Hal itu disampaikannya saat mengisi Ngaji Budaya usai pengukuhan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWC NU Weleri masa khidmat 2025–2029, yang digelar di Gedung MWC NU Weleri, Jumat malam (30/5/2025).

Kiai Paox mengkritisi label-label negatif yang kerap disematkan pada generasi muda. “Pemuda selalu dituding ceroboh, malas, ngawur. Padahal, justru dari ‘kenekatan’ pemuda lahir perubahan besar,” tegasnya. Ia pun mencontohkan peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dimotori oleh keberanian empat pemuda yang “menculik” Soekarno demi mempercepat proklamasi.

“Jadi pemuda jangan takut salah. Harus nekat, kalau perlu nakal dan sembrono, tapi tetap sembodo—tahu tanggung jawab dan tujuan,” ujarnya lantang.

Ia juga menyinggung sosok KH Wahab Chasbullah, pemuda pemberani yang menginisiasi berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama. “Kalau tidak ada beliau, belum tentu NU lahir seperti sekarang,” tambahnya.

Namun, Kiai Paox tak hanya berbicara soal sejarah. Ia mengajak pemuda Weleri untuk waspada terhadap tantangan masa depan. Menurutnya, Weleri diprediksi akan berkembang pesat sebagai pusat ekonomi karena letaknya yang strategis—diapit dua kawasan industri besar, yaitu Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Batang (KIB), serta adanya exit tol Weleri yang memudahkan akses bagi investor dan pekerja dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.

“Akan banyak berdiri apartemen dan rusunawa. Budaya baru ikut masuk. Kalau pemuda tidak siap, bisa hilang jati diri. Maka, pemuda Weleri harus siap jadi garda pelestari budaya dan tradisi lokal,” tegas Kiai Paox.

Sementara itu, narasumber kedua Gus Ulil Albab dalam forum tersebut mengulas bagaimana penjajah pada zaman dulu mencoba memisahkan agama dari budaya untuk melemahkan keduanya.

“Padahal agama dan budaya adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Agama perlu rasa, agar tak jadi keras dan kering. Budaya juga perlu rasa, agar tak kehilangan makna. Maka, keduanya harus berjalan beriringan secara kolaboratif,” jelasnya.

Acara juga dihadiri oleh Ketua MWC NU Weleri KH Muhammad Taubat, ketua Banom NU, lembaga-lembaga NU, serta anggota DPRD Kendal Komisi D, Riski Ari Tonang. (Maz Al/muf)

Informasi Berita Lainnya

Tak Pudar oleh Usia, Ratusan Anggota Muslimat...

Weleri, pcnukendal.com - Semangat berkhidmah para anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Weleri tampak tetap menyala meski usia tak lagi...

Mahasiswa KKN STIK Kendal Ajari Siswa SDN 1...

Gemuh, pcnukendal.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK) Desa Galih menggelar pelatihan kreativitas dengan...

Mahasiswa KKN STIK Kendal Tanamkan Budaya...

Gemuh, pcnukendal.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK) Posko IV Desa Galih menanamkan budaya gemar menabung...

Atraksi Garfanada Kendal Semarakkan Apel...

Batang, pcnukendal.com - Apel Kemanusiaan memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) versi tahun Masehi yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul...

Advertisement

Press ESC to close