Medsos dan Tahlilan

...

Oleh: Fahroji

Ada ungkapan bahwa "medsos (media sosial) dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Ungkapan ini ada benarnya, karena dengan medsos kita bisa berkomunikasi dengan saudara dan  teman yang berada nun jauh di sana.  Bahkan , dengan medsos kita bisa berkomunikasi dan menemukan kembali teman lama semasa SMP, SLTA,  teman bareng ngaji di pondok maupun teman kuliah dalam sebuah grup  alumni.  Sampai di sini, kita bisa merasakan betapa besarnya manfaat media sosial.

Namun sebaliknya, medsos juga bisa menjauhkan orang yang sudah dekat.  Ketika dua orang atau lebih duduk bersama tanpa  tegur sapa dan saling membisu,  karena sibuk dengan gadgetnya masing-masing, tentu ini menjadi pemandangan yang tidak enak di mata. Itu juga dampak dari keberadaan medsos. Medsos adalah label bagi teknologi digital yang memungkinkan orang untuk berhubungan, berinteraksi,  memproduksi dan berbagi isi pesan (BK Lewis, 2010). Sedangkan menurut wikipedia, medsos adalah media online dengan para pengguna (users) yang bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi, meliputi blog,  jejaring sosial,  wiki, forum dan dunia virtual. Sebagai media komunikasi, medsos dapat dimanfaatkan untuk sarana berbisnis, berbagi informasi dan inspirasi, ekspresi diri, pencitraan diri, hiburan,  curhat dan keluh kesah, perdebatan dan saling hujat. Bahkan medsos dapat digunakan untuk ajang pertarungan ideologi. Namun demikian, akhir-akhir ini banyak ditemukan fenomena penyalahgunaan medsos, misalnya untuk transaksi barang dan jasa haram, masuknya berita bohong (hoax), bullyingblack campaign (kampanye hitam), penebaran kebencian (pembunuhan karakter), saling fitnah dan adu domba antar golongan serta menteror. Oleh karenanya, dalam bermedsos kita perlu bijak dan bisa mengambil manfaat dari adanya medsos. Jangan sebaliknya, madlarat yang kita peroleh dengan bermedsos. Terlebih lagi jangan sampai yang jauh-jauh kita pertemukan lewat medsos, sementara yang sudah dekat seperti keluarga, saudara dan tetangga justru semakin jauh karena jarang disapa. Fenomena ini semakin tampak tidak hanya di perkotaan, namun juga sudah merambah pedesaan. Masyakat mulai sibuk dengan urusan masing-masing dan kurang memperhatikan bersosialisasi dengan orang-orang dekat di sekelilingnya. Di sinilah kegiatan semacam tahlilan di kampung mampu menjadi salah satu solusi dari menjauhnya orang-orang yang sudah dekat secara fisik dan bisa mengurangi dampak dari adanya medsos. Penulis sendiri, meskipun hidup di desa, selama sepuluh tahun menjadi komisioner KPU Kendal sangat bersyukur dengan adanya kegiatan tahlilan keliling setiap malam jum'at di kampung penulis.  Betapa tidak. Dengan adanya tahlil keliling, penulis bisa bertandang ke rumah tetangga seminggu sekali secara bergilir satu persatu dan ngobrol ngalor-ngidul setelah tahlilan dengan beragam tema. Sebulan sekali juga ada tahlil keluarga yang memungkinkan berkumpulnya keluarga besar tidak hanya saat lebaran atau saat hajatan saja. Penulis tidak bisa membayangkan jika tidak ada tahlilan keliling, mungkin penulis akan jarang nyambangi rumah tetangga atau saudara karena faktor kesibukan pribadi. Akibatnya, tentu akan jarang bertemu dangan tetangga dan saudara. Penulis tidak akan menulis apakah tahlilan itu bid'ah dholalah ataukah bid'ah hasanah? Apakah tahlil itu ada dasarnya atau sekedar tradisi belaka? Apakah bacaan-bacaan dalam acara tahlilan itu pahalanya sampai ke mayit atau tidak? Biarlah itu menjadi bahan tulisan para kyai dalam kesempatan lain. Penulis sendiri termasuk orang yang meyakini bacaan yang ada dalam kegiatan tahlillan itu pahalanya bisa sampai ke mayit dengan logika sederhana.  Islam mensyariatkan sholat jenazah yang didalamnya ada doa-doa untuk mayit. Kalau tidak sampai mengapa harus ada sholat jenazah? Dengan mengikuti kegiatan tahlilan, penulis juga tidak merasa perlu memakai kaos, topi yang bertuliskan kalimat tauhid ataupun ikut pawai mengibarkan berdera yang sampai saat ini masih dianggap membingungkan bagi sebagian orang. Apakah itu bendera HTI yang sudah dibubarkan pemerintah ataukah ada bendera tauhid, seperti yang terjadi di bunderan Sukorejo belum lama ini. Yang jelas ketauhidan penulis cukup dilafadzkan dengan lisan dan dimantapkan dalam hati, salah satunya lewat kegiatan tahlilan. Pernah ada seorang pendatang yang membangun rumah di kampung saya. Setelah jadi dan menempatinya, ia mengeluh kesulitan bersosialisasi dengan tetangga. Lalu, penulis menyarankannya untuk mengikuti kegiatan tahlilan. Persoalan belum bisa, itu nanti akan selesai dengan kebiasaan. Penulis juga mengatakan, kalau tidak ikut tahlilan, maka ia akan semakin terkucil karena rapat RT diselipkan dalam acara setelah tahlilan sebulan sekali. Dari sini jelas bahwa tahlilan juga bisa menjadi media atau sarana bersosialisasi yang tidak hanya menjadikan yang jauh menjadi dekat, tapi juga bisa memperat yang sudah dekat.  Oleh karenanya, di zaman digital ini, silahkan bermedsos dengan bijak, hindari hoax dan pertahankan tahlilan yang juga bagian dari media untuk bersosialisasi yang sangat banyak manfaatnya di masyarakat. Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo

Advertisement

Press ESC to close