Sukorejo, pcnukendal.id - Sudah lama sebenarnya MWC NU Sukorejo bermimpi memiliki gedung MWC NU yang representatif. Namun baru pada konferensi MWC NU tahun 2016, keinginan itu betul-betul diamanatkan, setelah pengurus sebelumnya berhasil membebaskan tanah di jalan Kartini Kebumen.
Melalui rapat MWC NU dan panitia pembangunan pada Sabtu ( 8/12) diputuskan untuk pemasangan atap akan dilaksanakan Ahad kliwon (16/12). Itu artinya pembangunan gedung MWC NU hampir terwujud. Meski baru dinding bata dan atap, nampaknya aktifitas NU, lembaga dan Badan Otonom serta jama'ah pengajian sudah bisa memanfaatkan lantai dua untuk beraktifitas.
Gedung NU mempunyai nilai strategis bagi jam'iyah NU. Karena sebuah kantor menjadi pusat pengendali jalannya roda organisasi. Terlepas dari persepsi sebagian warga NU yang nyinyir "untuk apa membangun gedung NU, toh nanti mangkrak". Pandangan seperti itulah yang sering menghambat program pembangunan gedung NU. Belum lagi pemahaman warga NU yang mempersempit amal jariyah hanya terbatas pada pembangunan masjid, musholla, pondok pesantren dan madrasah.
Bagi MWC NU Sukorejo pembangunan gedung NU mempunyai nilai sangat penting dan strategis, sekaligus politis, dalam pengertian politik membesarkan NU dan politik untuk kemaslahatan umat. Dengan adanya gedung MWC NU Sukorejo berlantai dua, diharapkan akan menjadi icon atau simbul baru kebesaran NU Sukorejo. Saat ini masyarakat memandang MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo dengan gedung lantai tiganya sebagai simbul kekuatan NU di Sukorejo. Akan tetapi icon itu melekat pada dunia pendidikan. Bagaimana dengan kebesaran jam'iyyah NU di Sukorejo?
Untuk urusan jam'iyyah, NU masih menghadapi persoalan besar. Banyak warga bahkan sekelas kader masih takut dan merasa kurang percaya diri menampakan ke NU annya seakan tidak percaya dengan kebesaran NU. Kasus ini bisa diambil contoh dari sulitnya pengurus MWC NU mencari figur ketua LP Ma'arif NU Sukorejo. Ada orang dipandang mampu tapi tidak mau. Yang kedua mau tapi tidak berbuat sesuatu. Padahal jelas, Ma'arif adalah lembaga yang vital karena mengurusi pendidikan formal NU. Semoga saja yang baru ini mau berbuat sesuatu dan mampu. Amin.
Ketidak percayaan diri akan kebesaran NU dari sebagian warga dan kader NU ini nampaknya sudah pernah dikatakan K.H. Wahab Hasbullah yang mengatakan :
"Banyak pemimpin NU di daerah-daerah dan juga di pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU, mereka lebih meyakini kekuatan lain. Orang- orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi diguncangkan hati mereka oleh propaganda luar yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam, tetapi hanya gelugu alias batang kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin NU yang tolol itu tidak sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatan sendiri" (Abdul Mun'im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011).
Dari persoalan itu setidaknya pembangunan gedung MWC NU Sukorejo diharapkan mampu menguatkan mental warga dan kader NU sekaligus menumbuhkan kebanggaan sebagai warga NU. Hal ini sudah bisa dirasakan, empat kali menggelar pengajian umum dalam rangka tahun baru hijriyah dan harlah NU di lokasi gedung NU mendapatkan dukungan dan sambutan luar biasa dari warga NU. Pengajian yang dimaksudkan untuk menggali dana pembangun, sekaligus telah membesarkan syiar NU di kecamatan Sukorejo.
Untuk kepentingan eksternal, pembangunan gedung NU juga menunjukan kepada pihak luar bahwa NU Sukorejo mampu menjadi kekuatan Islam moderat yang akan menjadi penyeimbang Islam radikal. Sahabat saya, Ali Martin, pernah bertutur bahwa Sukorejo menjadi salah satu titik di Kendal yang menjadi target pengembangan Islam radikal.
Menurut pengakuan Kapolsek Sukorejo , AKP H. Deka Dewa, saat peringatan hari santri, Sukorejo termasuk wilayah yang unik dengan berbagai kekuatan muncul di Sukorejo oleh karenanya NU harus kuat dalam percaturan dinamika di Sukorejo.
Wikipedia, dalam sejarah Sukorejo bahkan menulis penjajah Belanda pernah mati-matian untuk mengusai Sukorejo, karena Sukorejo sejak jaman dulu sampai sekarang mempunyai nilai yang sangat strategis.
Diharapkan dengan selesainya pembangunan gedung MWC NU Sukorejo mampu membangkitkan dan membesarkan NU di Sukorejo sekaligus menjadi arus besar dalam mewarnai kehidupan beragama dan berbangsa di kecamatan Sukorejo.
Begitu pentingnya gedung MWC NU bagi syiar Islam aswaja annahdliyah di kecamatan Sukorejo, sehingga upaya penyelesaiannya secara lahir dan bathin harus kita sengkuyung. (Fahroji)