Sebentar lagi bulan Syawal akan tiba. Bagi umat Islam yang berpuasa pada bulan Ramadan tentu merupakan bulan yang ditunggu-tunggu, sebab pada tanggal 1 Syawal itulah umat Islam se-dunia merayakannya dengan istilah “Idul Fitri”. Yaitu Hari Raya dimana bagi yang berpuasa pada bulan Ramadan telah diperbolehkan kembali untuk makan, minum dan melakukan segala macam yang menjadi larangan selama berpuasa. Dalam bulan Syawal tersebut juga digunakan untuk ajang silaturrahim, berkumpul bersama keluarga, kerabat serta saudara. Dengan perasaan suka cita satu sama lain saling berbagi informasi dan pengalaman masing-masing dari mulai pengalaman pribadi yang menyangkut pekerjaan maupun kabar baik dari keluarga masing-masing. Selain itu, bulan Syawal yang secara tradisonal juga dijadikan momentum untuk reuni dengan sesama teman yang dulu pernah duduk di bangku sekolah, teman se-kantor atau teman se-perantauan.
Berdasarkan uraian di atas, lalu apa makna bulan Syawal bagi umat Islam, dan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam setelah selama bulan Ramadan menjalankan ibadah puasa? Bagi umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa tentu sangat berbahagia dengan harapan segala dosa yang dilakukan akan diampuni oleh Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “ Barangsiapa yang menjalankan puasa di bulan Ramadlan dengan disertai iman dan mencari ridla Allah, maka akan diampuni segala dosa yang telah dilakukan”.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita kaji lebih dahulu tentang pengertian Syawal baik secara etimologis maupun terminologis agar bisa dipahami, bahwa setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, bagi umat Islam termotivasi untuk senantiasa meningkatkan amal ibadah dan menjalankan berbagai macam keutamaan (fadlilah) yang terdapat di bulan Syawal. Dan diharapkan pula umat Islam dapat lebih meningkatkan peranannya sebagai makhluk sosial yang menebarkan kasih sayang, kedamaian dan ibadah sosal lain sebagaimana terdapat dalam ibadah puasa.
Pengertian dan Makna Syawal
Sebagaimana dikutib dari www.almaany.com Kamus Bahasa Arab online, Syawal adalah bulan kesepuluh tahun Qamariyah yang jatuh setelah Ramadan dengan jumlah 30 atau 29 hari. Syawal berarti naik atau meningkat. Hal ini dikandung maksud, bahwa setelah umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan selama sebulan, diharapkan ada peningkatan amal ibadah dan prestasi pada 11 bulan berikutnya. Ibnul ‘Allan asy Safii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Syaalat ai-ibil yang artinya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, sebab dahulu orang-orang Arab menggantungkan alat-lat perang mereka, dikarenakan sudah mendekati bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang”. (Dalilul Falihin li Syarh Riyadh al-Shalihin). Pemahaman makna Syawal yang demikian, sudah menjadi tradisi masyarakat Arab jika telah memasuki bulan Syawal, dan memasuki bulan-bulan haram ( Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram) mereka dengan kesadarannya melakukan genjatan senjata, tidak ada lagi permusuhan dan peperangan di antara suku, qabilah dan golongan manapun.
Terlepas dari pengertian yang berbeda sebagaimana tersebut di atas, bahwa tanggal 1 Syawal merupakan Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Pada tanggal 1 Syawal itu pula umat Islam berbondong-bondong keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Pada hari-hari berikutnya di bulan Syawal, umat Islam dianjurkan menyempurnakan puasa Ramadan dengan berpuasa Enam Hari di bulan Syawal. Dengan melaksanakan puasa enam hari tersebut, umat Islam yang menjalankannya akan memperoleh pahala setara dengan puasa satu tahun. Sebagaimana dari Abu Ayyub Al-Anshori, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan lalu berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim). Dalam sanad Hadits lain yaitu dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan lalu berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia akan dihapuskan dosanya sebagaimana dia dilahirkan oleh ibunya”.
Bulan syawal juga merupakan awal dimulainya bulan-bulan ibadah haji, karena sejak bulan inilah bagi umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji sudah diperbolehkan berniat ihram. Umrah yang dilakukan di bulan ini juga bisa digabung dengan ibadah haji di bulan Dzulhijjah sehingga menjadi Haji Tamattu.
Berdasarkan uraian di atas, selain berpuasa Enam Hari di bulan Syawal masih banyak amal ibadah yang bisa dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas maupun kuantitas ibadah dan amal salih, seperti memperbanyak zikir, membaca al-Qur’an dan bershalawat kepada nabi, memperbanyak sedekah dan kegiatan-kegiatan sosial lain yang bermanfaat. Jadi, bulan Syawal merupakan momentum untuk berubah ke arah yang lebih baik dan maju, dan bukan sebaliknya amal ibadah di bulan Syawal dan berikutnya masih tetap sama, atau semakin berkurang bahkan semakin menurun, karena sesungguhnya amal ibadah yang mengalami penurunan itu adalah bagi mereka yang merugi. Hal yang demikian mempertegas, bahwa setiap muslim yang berpuasa seyogyanya ada perubahan sikap yang lebih baik, baik yang menyangkut nilai spriritual maupun sosial, dan hal ini tidak hanya dilakukan pada saat menjalankan ibadah puasa, akan tetapi akan menjadi “pembiasaan” dan character building dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan nilai yang terkandung dalam ibadah puasa menjadi karakter yang baik memang tidak mudah, seorang muslim perlu memiliki tekad dan niat yang kuat seperti pada saat melafalkan niat untuk menjalankan ibadah puasa. Selanjutnya berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa memperbaiki diri dengan perilaku-perilaku yang baik, penuh dengan kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dispilin dalam bekerja, jujur dalam perkataan, sopan santun dan bertanggungjawab atas segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya, berbaik sangka kepada siapa pun, loyal dan dedikasi, dan komitmen pada tujuan yang akan dicapai, maka dengan perilaku seperti inilah seorang muslim akan mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.
Drs. H. Mukhamad Umar, M.SI
(Ketua P.C. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kabupaten Kendal)