Oleh : Ma’rifatun Maghfiroh
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang
Beberapa waktu lalu Indonesia digemparkan dengan peristiwa ledakan Bom di tiga Gereja di Surabaya pada pukul 08.00 pagi , kemudian pada senin malam sekitar pukul 23.00 di belakang polsek Sidoarjo. Entah karena memang mendekati event penting yaitu pilkada serentak, atau karena pembubaran kelompok radikal di Indonesia. Isu teroris menjadi bahan pembicaraan yang kembali memanas setelah rentetan peristiwa tersebut. Apa sebenarnya yang terjadi pada Indonesia, mungkinkah ini hanya permainan politik para penguasa ataukah memang jalan jihad bagi mereka yang merasa “membunuh” sebagai jalan mereka masuk surga.
Terlepas dari ada atau tidaknya peristiwa tersebut, isu terorisme memang seharusnya menjadi perhatian bagi kita terutama para pelajar NU. Karena isu mengenai terorisme , kelompok radikal beserta teman-temanya merupakan bagian dari tantangan terbesar bagi kita. Sebagai generasi bangsa dan dasar pengkaderan di dalam tubuh NU kita memiliki tugas berat yaitu membentengi diri dari doktrinisasi islam radikal dan terorisme.
Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan dari paham radikalisme, pelajar NU juga memiliki tugas memangkas pengkaderan radikalisme karena sasaran utama mereka adalah para pelajar dan mahasiswa yang juga sebagai bidang garapan kita. Disini peran dan kontribusi kita sangatah besar dalam meng-counter radikalisme yang menyerang pelajar. Kita dituntut untuk lebih aktif dan gencar dalam mensyiarkan paham Aswaja an-Nahdliyah agar dapat menyelamatkan pelajar dari serangan radikalisme.
Tidak hanya sampai disitu, pelajar NU juga harus bisa menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menangkal radikalisme, yaitu dengan lebih aktif dalam melakukan kaderisasi dan lebih giat untuk mengajak para pelajar untuk ber IPNU dan ber IPPNU. Serta lebih memberikan pengetahuan kepada pelajar, mahasiswa maupun santri bahwasanya IPNU-IPPNU merupakan organisasi yang tepat bagi mereka dalam menemukan jati diri ataupun dalam meningkatkan kualitas diri mereka .
Kembali pada isu terorisme di Indonesia yang dikaitkan dengan isu politik, yaitu adanya pilkada serentak, tak banyak pihak beragumen bahwa yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan setingan kaum politik belaka. Namun ada juga yang berdalih bahwa ini merupakan serangan dan aksi protes dari pembubaran suatu organisasi radikal. Ketika kita melihat ke belakang ketika serangan Bom di Sarinah, Jakarta Pusat, Januari 2016 lalu, bom Bali pada tahun 2002 apakah bertepatan dengan pemilu atau pesta politik lainnya, betulkah terorisme di Indonesia lantaran setingan politik belaka atau sebenarnya Indonesia sebagai satu target penguasaan oleh negara-negara adikuasa
Terorisme yang terjadi, para pelaku mengatasnamakan tindakan mereka untuk Jihad menegakkan ajaran Allah, dengan cara kekerasan, pengeboman, menyebar teror hingga mendoktrin para generasi muda yang tidak betul-betul memahami makna Jihad yang sesungguhnya, Isn’t true ? apa tindakan yang seperti ini benar, wahai anak muda, generasi bangsa janganlah mudah tergoyah imanmu dengan iming-iming surga dan bidadari cantik dengan membunuh dan menghancurkan umat. Ingat, bahwa islam itu “Rohmatalil’alamin”, islam itu rahmat bagi seluruh umat, jika kamu merusak lingkungan, membunuh orang tidak bersalah apakah kamu pikir akan mendapatkan rahmat, jelas Tidak!! Allah sendiri tidak pernah mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, apalagi bertindak kejahatan kepada yang bukan jahat.
Dan kita sebagai pelajar, mahasiswa maupun santri Nahdlatul Ulama’ dimanapun kita berada, mari kita kuatkan konsolidasi, kita perkuat lagi ikatan kita dalam menegakkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah kita. Selamatkan teman-teman kita, rekan-rekan kita, saudara-saudara kita dan adik-adik kita dari rongrongan aliran radikalisme dengan terus melangakah mengibarkan panji-panji NU. Salam, Belajar, Bejuang, Bertaqwa.