oleh Lek Basyid Tralala
Dunia tidak seluas dulu lagi. Segala sesuatu yang terjadi dibelahan sana dengan mudahnya diketahui oleh mereka yang berada di ribuan kilo meter tempatnya. Sehingga sulit sekali, untuk menyimpan segala sesuatu yang di muka bumi ini. Kondisi ini ternyata juga berdampak terhadap pranata sosial mahluk di muka bumi ini. Sehingga wajar bila paradigma masyarakat sekarang mengalami perubahan.
Faktor yang sangat berpengaruh terhadap perubahan paradigma masyarakat adalah terbukanya jaringan informasi, sehingga dengan cepatnya alih informasi dari satu tempat ke tempat lain. Begitu pula yang dulunya dirasa jauh kini kian mendekat, sedang yang dekat kini kian merasa jauh.
Kondisi ini, merupakan buah dari mudahnya berkomunikasi dan memiliki alat komunikasi berupa Handphone (HP) android. Dengan segala aplikasinya, HP android ini semakin memanjakan kehidupan manusia sehingga banyak pengguna HP yang terlena dibuatnya. Akibatnya mereka selalu praktisnya dalam melaksanakan aktivitas sehari-harinya.
Namun sayang, kondisi tidak dibarengi dengan kesiapan rohani (psikologi) mereka. Akibatnya banyak mahasiswa dan pelajar yang melakukan cara instan setiap menjumpai kesulitan dalam belajar. Kondisi dari hari ke hari bukannya semakin berkurang tapi malah sebaliknya yakni kian menjadi. Bila ini terus dibiarkan akan berdampak lemahnya produktivitas mereka di kelak kemudian hari.
Selain persoalan di atas, HP juga membuat pelajar semakin malas beraktivitas dan berkarya. Mereka lebih suka memilih berjam-jam hanya bermain game di rumah atau bersama teman dari pada harus beraktivitas secara badaniah. Lupa waktu dan lupa makan merupakan pemandangan yang biasa. Bahkan tidak sedikit pula mereka yang melalaikan kewajibannya yakni sholat dan mengaji. Keadaan inilah yang membuat para orang tua pusing tujuh keliling untuk mengatasinya. Maka, tidaklah berlebihan jika HP disebut setan gepeng oleh para orang tua.
Mengapa HP android dijuluki dengan setan gepeng? Selain karena bentuknya tipis, ramping, mudah dibawa, HP android sering membuat orang khilaf bahkan hingga keblabasan. Ini terlihat dari maraknya orang memiliki HP untuk berbuat jahat kepada sesama, seperti membully, membuat berita hoax, menampilkan gambar–gambar porno atau ujaran kebencian. Bahkan tidak sedikit pula yang harus berurusan dengan kepolisian.
Eling lan waspodo
Salah satu cara menyelematkan dari eforia negative berHP adalah prilaku eling lan waspado (ingat dan waspada). Nasihat ini memang jadul namun tetap relevan sepanjang masa. Apalagi di era milenial seperti, dimana dalam hitungan menit sudah ribuan berita atau informasi berseliweran di jagat maya. Sehingga jika tidak hati–hati dan selektif dalam memilih berita akan menjadi korbannya kebohongan berita.
Rumusan petuah eling lan waspodo, adalah 'sadar', (ingat). Sadar yang pertama artinya ketika kita memulai beraktivitas sesuatu, paham terhadap yang akan dilakukan, seperti orang bangun tidur yakni paham kalau hari sudah pagi dan sebentar lagi matahari terbit. Begitu pula ketika membeli HP apakah penting atau tidak. Lalu apa niatannya? Kalau membeli HP untuk kepentingan penunjang pelajaran atau mencari berita, okelah ! Tapi kalau hanya sekedar trendy–trendyan atau kegengsian perlu ditinjau ulang. Karena yang seperti itu menjauhkan dari fungsi utama dari HP.
Kedua, sadar berarti mengawali sesuatu dengan pikiran terang, jelas, jernih, jujur, dan tulus. Kesadaran seperti ini merupakan bentuk kewaspadaan terhadap satu kondisi yang menuntut untuk berlaku selektif. Jangan sampai sesuatu yang dimilikinya justru membawa bencana, entah itu untuk diri sendiri atau keluarga. Maka silahkan membeli sesuatu akan tetapi harus mengetahui untung dan ruginya.
Di era milenial, kesadaran dan kewaspadaan sangat diperlukan, mengingat siapa yang menghampiri kita baik itu dari depan, belakang, atau samping terkadang menyimpan maksud tersembunyi. Dengan meningkatkan kesadaran berarti kita berupaya menutup segala celah yang dapat menyeret ke jurang kerugian. Sekaligus juga sebagai proteksi terhadap ajakan yang menggiring ke jalur negatif.
Bentuk kewaspadaan dan kesadaran yang paling tepat adalah beragama. Dengan kesadaran beragama secara benar akan membentengi diri untuk berperilaku merugi. Karena banyak di luaran sana orang yang terhipnotis dengan kesenangan sehingga melupakan tanggung jawabnya sebagai pelajar, atau mahasiswa. Bahkan tidak sedikit pula mereka yang sudah berumur dewasa masih terlena dengan berHP ria setiap harinya. Salah satu contoh prilaku merugi bermain HP adalah membuang–buang waktu, yakni dengan bermain play station atau game.
Ironisnya kegiatan tersebut dilakukan di tengah–tengah waktu belajar atau di saat bekerja. Mereka sengaja membolos sekolah guna memenuhi hawa nafsunya bermain game. Kondisi ini jelas berdampak kurang baik bagi pelajar tersebut dan harus segera dicarikan solusinya agar para orang tua lebih peduli terhadap aktivitas putra–putrinya di rumah.
Selain beragama untuk membentengi dari dampak negatif setan gepeng adalah budaya saling mengingatkan. Budaya saling mengingatkan diharapkan dapat terbangun dengan baik antara pemerintah selaku pemegang kebijakan, guru yang mendidik dan pelaksana kebijakan, orang tua, tokoh masyarakat serta polisi. Budaya saling mengingatkan menjadi indah manakala didasari rasa kasih sayang karena hal itu menjauhkan dari perasaan mendikte atau menyalahkan. Karena sebagus apapun kita mengingatkan kepada siapapun tapi kalau cara menyampaikannya tidak tepat, justru akan menimbulkan masalah baru. Apalagi penyampaiannya disampaikan di depan umum.
Oleh karena itu, bangunlah komunikasi yang sehat dalam rangka menciptakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan baik itu di rumah atau di sekolah. Serta berilah waktu yang cukup bagi putra–putrinya untuk bermain HP tetapi kita berwaspada terhadap waktu belajar, mengaji, dan bermain. Jangan sampai karena keekstriman orang tua dalam memproteksi menyebabkan anak gagap teknologi.
Penulis:
Lek Basyid Tralala
Pendidik di SMA N 1 Kaliwungu - Kendal