Jiping : Biar Benar Bukan Pintar

Jiping atau ngaji nguping merupakan tradisi mengaji yang sudah mengakar kuat dari waktu ke waktu. Jiping banyak dijumpai berbagai tempat di negeri ini, baik itu di kota maupun di desa. Jiping lebih menitikberatkan pada materi-materi keagamaan seperti tafsir Alquran, hadist atau kitab-kitab lainnya yang berhubungan dengan agama. Proses pembelajaran jiping berlaku satu arah yakni dari kiai/ustadz ke santri atau jamaah.

Tempat jiping bisa di masjid, musholla, masjid taklim atau rumah sang kiai. Waktu jiping sangat bervariasi, yakni  ada yang setelah sholat subuh, setelah sholat asar, setelah sholat magrib atau sholat isya. Semua sangat tergantung dari kesiapan sang kiai. Sedang untuk hari tidak satu minggu penuh, ada libur setiap Jumat dan Selasa, atau bahkan ada yang satu minggu sekali yakni pada hari Jumat atau hari Minggu.

Materi bahasan Jiping juga bermacam-macam seperti Al Ibriz (tafsir AlQuran) Bulughul Marom (hadist) Al Hikam, Ihya, Riyadus Sholikihn, Irsadul Ibad, Durotun Nasihin dan lain sebagainya. Materi-materi itu disajikan tanpa membedakan jamaahnya serta dalam jiping juga tidak dikenal pembagian kelas atau usia.

Metode yang dipakai dalam jiping hanya ceramah. Meskipun berlangsung satu arah dan monoton ternyata juga tidak mengurangi semangat belajar para santri atau jamaah. Buktinya  para jamaah tetap istiqomah menyimaknya dari awal sampai akhir setiap proses pembelajaran.  Kekuatan jiping terpusat pada figure sentral yakni sang kiai atau ustadz. Keluasan pengetahuan sang kiai menjadikan suasana belajar menjadi menarik.

Di kecamatan Kaliwungu Kendal kegiatan ngaji nguping dapat dijumpai setiap hari, waktu dan tempatnya pun bervariasi. Misalnya antara Sabtu sampai Kamis yakni di Masjid Al Muttaqin Kaliwungu yakni mengaji tafsir Alquran yang diampu oleh KH. Nidzomudin, waktunya dari 05.30-07.00 WIB.  Selasa dan Sabtu di Majelis Ta’lim Bani Umar Al Karim Kp Petekan Krajankulon yang dipandu KH. Muhibbudin. Waktunya dari pukul 08.00-10.00 WIB. Di rumah KH. Sholahudin Khumaedulloh jiping berlangsung ba’da sholat magrib sampai sholat isya. Materi pembelajarannya menitikberatkan pada fiqih.

Untuk ustad Lukman Hakim kp Kauman desa Krajan kulon,  jiping  yang berlangsung tiap malam hari yakni dari pukul 20.00-22.00 WIB. Padepokan Hariamu Putih juga menyelenggarakan tafsir Alquran Al Ibriz karya KH Bisri Mustofa pada Jumat sore dan Ihya’ juz 3 atau Al Hikam pada hari Minggu pukul 08.00 s.d 11.30 WIB yang diampu oleh KH. Muhibbudin Alkhafizd. Sedang di tempat-tempat lain di Kaliwungu yang membuka jiping seperti di rumah Ustazd Ali pada Sabtu Malam materi Dorotun Nasikhin, masjid desa Kuwayuhan Nolokerto oleh KH. Dimyati Zaini ( Bulughul Marom), musholla kp. Kepatihan oleh KH. Muhajirin Al Jufri, musholla kp. Citran Krajankulon oleh Ustazd Kang Toha, dan lain-lain. Khusus untuk para ibu pada  Selasa Sore di rumah KH. Zuhri Iksan (Alm) yakni sebelah barat masjid besar Al Muttaqien Kaliwungu.

Mind Set

Yang menarik dari  semangat jiping adalah petuahnya yakni ngajilah supaya bener bukan pinter. Benar yang dimaksud di sini adalah amalan ibadah mahdloh dan ghoiru mahdloh sesuai dengan tuntunannya yang disyariatkan.  Mengapa bukan pinter, kata sang kiai negeri ini  sudah banyak orang di negeri ini pinter namun tidak sedikit pula yang keminter (baca : merasa pintar) akibat banyak pernyataan di dunia maya yang membingungkan umat.

Selain itu, pernyataan tersebut pada dasarnya autokritik kepada manusia, dengan harapan agar manusia memahami posisi dan kemampuannya. Jika memang bukan keahlian dibidangnya jangan coba-coba merambahnya nanti yang terjadi beda kepentingan. Seorang politikus diharapkan bergelut di bidang politik. Orang ahli perdagangan diharapkan bergelut dengan dunia dagang. Yang rusak apabila ahli dagang terjun ke dunia politik akibat akan terjadi politik transaksional.

Yang mengkhawatirkan lagi jika merasa dirinya brahmana, tetapi berambisi untuk menjadi satria. Ditambah semakin kisruh lagi, jika para satria di negeri ini bermental waisya atau sudra. Sehingga semakin tidak jelas arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika sudah seperti ini mengajilah agar hidup ini menjadi tertata.

Konsep jiping adalah 5 D yakni datang, duduk, dengar, diingat (materinya-Red), dan dipraktikkan. Yang dimaksud datang adalah menghadiri pengajian dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati yang landasi semangat tholabul ilmi dan kekeluargaan. Setelah itu carilah tempat duduk sesuka hati. Tidak ada tempat permanen dalam mengaji. Siapa yang datang paling awal, maka banyak peluang mencari tempat yang paling asyik dan rileks.

Kunci keberhasilan jiping adalah dengar (baca : mendengarkan) penjelasan/uraian dari kiai atau ustad meski tak sedikit orang yang mengaji mengantuk namun demikian mereka tetap semangat. Buktinya ketika dibuka kesempatan untuk bertanya biasanya para jamaah berebut  mengajukan pertanyaan. Tak jarang persoalan yang ditanyakan adalah masalah yang aktual dan  bomming saat itu. Misalnya mengenai hukumnya bagi-bagi uang pada saat pilkada, belajar ngaji dengan google, sumbangan yang tidak tahu tasarubnya, LGBT  dan sebagainya.

Pada saat mengaji jamaah tidak dituntut harus membawa buku catatan atau memiliki kitab, mereka hanya diharapkan mengingat-ingat yang sudah disampaikan. Hal ini dapat dimaklumi karena jamaah ngaji nguping hiterogen latar belakang pendidikannya. Ada yang dari pondok pesantren,  tamatan SMP/ SMA atau mungkin  tidak bersekolah sama sekali.

Untuk soal mempraktikkan amalan –amalan ibadah, sang kiai atau ustad tidak pernah memaksa karena menurut sang kiai jamaah berkenan meluangkan waktu untuk menghadiri pengajian di majlis taklim/majelis ilmu di sela- sela kesibukan kerja itu sudah ’’luar biasa’’ mengingat akhir-akhir ini banyak orang hanya cari praktisnya dalam mengaji. Mereka hanya memanfaatkan internet atau tayangan telivisi tanpa pernah melakukan cek and balance.

Penulis : Lek Basyid Tralala

 Bekas Pengurus IPNU Cabang Kendal

Jamaah Jiping KH Muhibbudin Kaliwungu – Kendal

Pengurus LAKPESDAM  MWC Kaliwungu Selatan

Advertisement

Press ESC to close