Misteri  Candi Borobudur

Judul Buku : Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman

Pengarang  : KH. Fahmi Basya

Penerbit      : Zaytuna

                      PT Ufuk Publishing Hause

Cetakan     : VI

Tahun        : November 2013

Halaman    : xxxviii + 255 hal

Perbedaan pendapat untuk masalah ilmiah adalah berkah bagi umat. Perbedaan menjadi indah manakala dibungkus dengan kata – kata yang bijak sehingga masyarakat menjadi lebih dewasa dalam memahami itu perbedaan itu. Karena pada prinsipnya kebenaran mutlak hanya milik Yang Maha Pencipta. Salah satu perbedaan yang sempat mengemuka di Indonesia adalah candi Borobudur.

Sejak 1817 Van Erp  yakni orang Belanda mengatakan bahwa candi Borobudur adalah candi Agama Budha, pernyataan itu sampai sekarang pun tetap dinyakini kebenaraannya. Bahkan pernyataan juga dipertegas oleh para ahli sejarah yang berpendapat bila candi Borobudur merupakan tinggalan dari dinasti Syailendra pada abad 8 masehi.

Namun kini,  pendapat tersebut dibantah oleh KH. Fahmi Basya, seorang ahli matematika Islam dari Indonesia. Menurutnya, ada 40 fakta eksak bila candi  Borobudur  sangat erat kaitannya dengan nabi Sulaiman. Salah satu bukti yang sempat ditemukan di kolam pemandian Ratu Saba di daerah Sleman Jawa Tengah adalah  surat nabi Sulaiman  kepada Ratu Bilqis yang berupa plat emas yang bertuliskan bismillahirrohmanirrohim ( hal. 146 )

Optimisme KH. Fahmi Basya jika Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman adalah adanya daerah Wana Saba di Jawa. Kata Wana (Hutan) Saba. Kata Saba itu sendiri ternyata juga ada dalam Al Quran yakni surat ke - 34  dalam Al Quran dan ucapan burung Hud–Hud kepada nabi Sulaiman dalam surat An Naml ayat 22 yang artinya “maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-Hud), lalu ia berkata, Aku telah mengetahui sesuatu yang belum angkau ketahui. Aku datang kepadamu dari 'negeri Saba' membawa berita yang menyakinkan” Ditambah lagi,  pada surat An Naml ayat ke 15 yang artinya “Sungguh, bagi kami 'Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan),  “Makanlah olehmu rezeki yang (dianugrahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepadNya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman ) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (hal. 118)

Bukti berikutnya jika Borobudur ada sejak jaman nabi Sulaiman adalah buah Maja. Buah maja terkenal karena rasanya yang pahit dan tidak semua tempat dapat dijumpai buah tersebut. Alasan itu diperkuat oleh surat Saba ayat 16 “Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kebun mereka yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl, dan sedikit Sidr (hal. 90).  Adanya tempat bersujud di istana Ratu Boqo (hal. : 112). Banjir besar yang terjadi pada masa itu menyebabkan pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Semenajung Malaysia dan Asia  menjadi terpisah. (hal. : 80-81)

Angin Muson

Angin Muson adalah angin yang bertiup bergantian arah dalam kurun waktu yang lama. Angin muson bertiup dari Asia ke Australia, atau sebaliknya. Nabi Sulaiman hidup di tempat yang dilalui oleh dua angin tersebut, sehingga oleh KH. Fahmi Basya disimpulkan tempat di dunia ini yang dilewati oleh angin muson adalah Indonesia dalam hal ini pulau Jawa. Hal didasarkan pada surat Saba ayat 12 “Dan kepada Sulaiman, angin bertiup paginya sebulan dan petangnya sebulan, dan Kami alirkan baginya mata air tembaga. Dan sebagian dari jin orang yang bekerja dihadapannya dengan Rabb-nya, dan siapa dari mereka yang berpaling dari perintah Kami, Kami rasakan baginya dari azab yang menyala.  (hal. 199).

Selain bukti-bukti yang disuguhkan di atas, dalam buku tersebut juga diperjelas dengan bukti gambar–gambar atau foto kehidupan perjalanan nabi Sulaiman dan nabi diambil dari relief candi Borobudur. Dengan demikian bagi para sehingga pembaca punya kesempatan untuk membuktikan kebenaran gambar tersebut manakala berkesempatan ke candi Borobudur.

Namun, dalam buku tersebut masih ada penjelasan yang sulit dipahami yakni pada bagian Payung Yang Ditinggikan (hal 95-106). (Pengirim Lek Basyid Tralala, Bekas Pengurus IPNU Kab. Kendal)

Advertisement

Press ESC to close