
Memasuki tahapan Pilkada Serentak Tahun 2018 yang jatuh pada 27 Juni 2018 mendatang, KPU RI mengadakan Bimbingan Teknis (Bintek) Terpadu untuk seluruh KPU Propinsi dan KPU Kab/Kota se Indonesia yang dibagi dalam beberapa Region. Jawa Tengah masuk wilayah region tiga yang dilaksanakan di Banda Aceh (30/10-02/11)
Sebagai komisioner KPU Kendal, saya berkesempatan menjadi salah satu peserta. Sudah pasti kesempatan itu tidak hanya digunakan untuk menyerap informasi dari KPU pusat terkait pilkada Serentak. Lebih dari itu, disela-sela kegiatan, kesempatan baik itu saya manfaatkan untuk mengunjungi (ziarah) ke beberapa obyek yang menjadi destinasi unggulan di bumi "Rencong" yang dijuluki " Serambi Mekah", Aceh.
Begitu mendarat di bandara internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh pukul 14.30 WIB, rombongan langsung disambut oleh ketua KIP (Komisi Independen Pemilu) Banda Aceh Ridwan Hadi. Benner ucapan selamat datang kepada peserta dipasang di pintu masuk bandara yang ditunggu dua penerima tamu laki-laki dan perempuan dengan pakai adat Aceh. Kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk berfoto selfi peserta dengan penerima tamu.

Keluar dari bandara belum didapat tanda-tanda khusus yang menjadi ciri khas keistimewaan Aceh sebagai satu-satunya propinsi di Indonesia yang menetapkan syariah Islam sebagai hukum positif dalam kehidupan bernegara maupun bermasyarakat, kecuali banyak berdiri masjid dan musholla disepanjang perjalanan menuju penginapan. Hawa sejuk dan tata ruang kota yang rapi serta bersih didukung keramahan warga Aceh menjadi kesan pertama yang memang seharusnya berbanding lurus dengan nilai-nilai Islam yang sudah menjadi keistimewaan warga Aceh. Hal itu selaras dengan ajaran hidup bersih yang merupakan sebagian dari iman dan anjuran memulyakan tamu dalam Islam.
Kebersihan, keramahan serta kenyamanan itulah yang memberikan kesan bagi para wisatawan baik asing maupun domistik merasa betah di Aceh.Konon, orang yang pernah berkunjung ke Banda Aceh rata-rata berharap agar dapat berkunjung untuk kedua kalinya dan seterusnya.
Kesan buruk, bahwa Aceh adalah daerah konflik dan rusuh sebagaimana yang pernah kita dengar, benar-benar tidak terlihat. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh ketua KIP Aceh Ridwan Hadi dalam sambutan selamat datang saat pembukaan Bintek.
"Jika saudara-saudara tidak percaya bahwa Aceh aman dan kondusif, silahkan buktikan saat saudara-saudara berada di Aceh saat ini", kata Ridwan meyakinkan peserta yang sebagian besar dari Jateng.
Saat acara pembukaan bintek di pendopo Gubernur Aceh, sebagai propinsi yang menerapkan syariat Islam, acara pembukaan bintek KPU juga bernuansa Islami. Pembacaan ayat suci Al Qur'an, Untuk sesaat hampir melenakan saya bahwa acara itu adalah acara pembukaan Bintek KPU, bukan pengajian seperti di kampung halaman. Terlebih setelah master of ceremony mempersilahkan hadirin untuk berdiri membaca sholawat Badar yang kemudian dilanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya, hati ini semakin merinding.
Lantunan sholawat Badar yang dikumandangkan dengan gemuruh di arena itu serasa suasana pembukaan Muktamar NU atau Konferensi NU yang mewajibkan sholawat Badar berkumandang di acara resmi NU. Demikian juga dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, seakan mengukuhkan bahwa Aceh adalah bagian dari NKRI. Bayang-bayang GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang pernah saya dengar seakan sirna ditelan lagu Indonesia Raya gubahan WR. Supratman. Natijah Gus Mus bahwa kita adalah muslim yang hidup di Indonesia, bukan muslim yang kebetulan berada di Indonesia nampak sangat terasa dalam acara itu.
Setelah dua hari berkutat dengan regulasi Pemilu, tiba juga saatnya peserta untuk sekedar recovery mengembalikan suasana batin dan merefresh jiwa agar siap melakukan tahapan berikutnya. Pulau Sabang menjadi pilihan utama. Di sana peserta akan melihat tugu kilometer nol (kilomer 0) yang merupakan ujung paling Barat wilayah Indonesia. Dengan menumpang kapal very sekitar satu jam perjalanan dari pantai/ pelabuhan Ulee lheuee sampailah kemudian ke pulau We, Sabang.
Selama perjalanan dalam kapal veri terlihat jelas hamparan laut yang sangat indah, pemandangan kanan kiri pulau kecil sangat memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Demikian juga ketika perjalanan darat, setelah sampai di Pelabuhan Sabang. Pemandangan menakjubkan menghiasi pulau kecil yang dulu pernah dihuni Belanda dan Jepang.

Obyek wisata yang tak kalah menarik selanjutnya adalah museum Tsunami Aceh. Museum ini mengingatkan kita pada peristiwa Desember 2004 silam. Saat itu terjadi musibah gelombang Tsunami yang menewaskan ratusan ribu warga Aceh. Dalam museum itu kita bisa melihat puing-puing sejarah yang menunjukkan kedasyatan musibah Tsunami, diantaranya Al Qur'an yang sudah rusak terendam air. Sangking dasyatnya gelombang Tsunami waktu itu, ada kapal PLTD terdampar ke daratan sepanjang 5 Km dari bibir pantai. Saat ini kapal itu juga menjadi destinasi obyek wisata " Kapal Apung".
Selanjutnya berkunjung ke Banda Aceh nampaknya juga kurang afdhol jika tidak menyempatkan diri sholat di Masjid Raya Baiturrahman terutama saat sholat shubuh dan magrib. Masjid yang menjadi icon Banda Aceh itu keberadaanya tidak bisa lepas dengan sejarah Aceh itu sendiri.Jika pagi hari selepas sholat subuh dan pengajian kuliah subuh, di sana bisa kita nikmati suasana terbitnya matahari dengan berfoto ria memanfaatkan background kemegahan masjid raya Banda Aceh. Demikian juga saat sore menjelang sholat magrib, kita bisa melihat pancaran sinar merah jingga matahari yang akan bersembunyi diufuk barat seakan menambah keindahan pemandangan Masjid Raya Banda Aceh.
Nampaknya keindah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh juga tidak berakhir disitu. Selepas magrib, air mancur yang dipadu dengan permainan lampu warna warni semakin membuat masjid raya serasa terus hidup sepanjang waktu.
Sungguh, berkunjung ke Banda Aceh memang sangat mengesankan bagi penyuka traveling. Disamping disuguhi panorama keindahan alam, keramahan warga Aceh juga menjadi daya dukungnya. Beragam souvenir dan kuliner di Aceh seperti beraneka macam jenis kopi juga menjadi nilai plus untuk wisatawan datang ke sana. Malam hari, kota Banda Aceh terasa hidup dengan ramainya geray-geray coffe yang bermunculan disepanjang jalan-jalan utama kota itu. Banyak orang laki -laki yang rata-rata anak muda berkumpul disitu entah sekedar ngobrol atau diskusi serius. Sungguhpun demikian keamanan dan kenyaman kota Banda Aceh tetap terjaga.
Sebelum bertolak ke Semarang, Jum'at (3/11), Kamis sore saat umumnya warga nahdliyin berziarah, kesempatan itu saya gunakan untuk berziarah ke makam ulama besar yang pernah bermukim di Mekah dan Madinah selama 19 tahun. Beliau adalah Syiah Kuala atau Syech. Abdurrouf as Singkily atau di Jawa terkenal dengan Syekh Abdurrouf Singkel. Beliau adalah putra Ali Fansury adik kandung tokoh ulama sufi Hamzah Fansury. syeikh Abdurrouf lahir di Singkil dan meninggal di Banda Aceh dekat muara (kuala) Kreung Aceh.
Subhanallah, saya sempat tidak percaya bahwa saya akan berkesempatan ziarah ke makam ulama besar bertaraf internasional. Dalam literatur Islam, Syekh. Abdurrouf juga tercatat menjadi salah satu penyebar agama Islam di Indonesia terurama di luar Jawa yang hidup pada abad 17 Masehi. Untuk mengenang jasa Syiah Kuala (Syech Abdurrouf), namanya kemudian diabadikan menjadi nama Perguruan Tinggi tertua di Banda Aceh yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Semoga perjalanan kali ini membawa barokah. Amin
Banda Aceh, Jum'at , 03 November 2017
Feuture Perjalanan
Fahroji.