Oleh Lek Basyid Tralala
Dalam suatu peperangan yang berlangsung sengit, Ali bin Abi Thalib berhasil menjatuhkan lawannya. Seketika itu juga Ali langsung menghunus pedang siap memenggal lawannya. Di tengah suasana terjepit, musuh itu meludahi muka Ali. Mendapat perlakuan seperti itu, Ali bin Thalib segera mengurungkan niat memenggal leher musuhnya.
Dengan sangat heran, musuh itu bertanya, “Mengapa engkau tidak jadi membunuhku?”Ali menjawab, “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Tetapi engkau meludahiku, niatku membunuhmu bukan karena Allah, melainkan karena nafsu amarahku kepadamu.”
Mendengar penjelasan itu, orang tersebut langsung mengucapkan syahadat dan segera bergabung dengan pasukan Ali bin Abi Thalib. Tidak terbayangkan bila lawannya itu bukan Ali, niscaya pada saat itu lehernya telah terputus kena sabetan pedang.
Perbuatan Ali itu menggambarkan kepribadian yang sangat agung. Kebesarannya bukan hanya terlihat dari kepiawaiannya dalam berperang. Kemuliannya bukan hanya terlihat dari pemikiran dan ucapan-ucapannya. Tetapi lebih dari itu, Ali menempati posisi sangat terhormat dalam kelompok sahabat dan keluarga Nabi justru karena kemampuannya mengendalikan hawa nafsu.
Berperang melawan hawa nafsu sesungguhnya jauh lebih sulit dibandingkan dengan berperang melawan musuh-musuh yang nyata secara fisik. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW mengatakan bahwa perang di medan pertempuran adalah jihad kecil, sementara perang melawan hawa nafsu adalah jihad besar.
*****
Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran bahwa janganlah ketika melaksanakan tanggung jawab atau tugas keprofesian disusupi nafsu amarah, karena hal tersebut dapat mempengaruhi obyektivitas atau akal sehat ketika mengambil keputusan. Maraknya praktik patgulipat diberbagai sendi kehidupan ini tak lepas dari rapuhnya sikap obyektifatas dalam bersikap. Sesuatu yang seharusnya lurus-lurus saja tiba-tiba sedikit bengkok karena adanya pesanan atau transaksi kepentingan. Kondisi inilah terkadang membuat sebagian orang prihatin dan perlunya adanya gerakan moral agar tradisi patgulipat dapat dikurangi dari waktu ke waktu.
Lembaga pendidikan atau majlis taklim punya andil penting dalam rangka mengurangi praktik patgulipat di masyarakat. Para pendidik atau pak kiai selain punya tanggung jawab tarbiyah, dia juga punya tanggung jawab sosial untuk membimbing serta memilah dan memilih sesuatu yang benar dan tidak benar menurut konsepsi agama. Jangan sampai tugas mulia tersebut hancur martabatnya dihadapan anak didik dan lingkungan sekitarnya karena tidak punya kemampuan memisahkan antara tugas dan syahwat keduniaan. Satu kesalahan dalam membina umat yang disebabkan ketidakobyektifnya dalam memberikan satu putusan akan menjadi bomerang bagi dirinya dan itu akan menjadi memori sepanjang masa bagi masyarakat sekitar.
Mendidik bukanlah pekerjaan gampang, mengingat yang dihadapi adalah mahluk tuhan yang mempunyai sejuta impian dan sejuta ragam budaya, belum lagi dari sisi psikologi mereka masih labil dan butuh pembinaan ekstra. Ditambah lagi dengan kondisi jaman yang sulit sekali membedakan antara yang baik dan yang tidak baik. Percepatan informasi dan semakin tipis sekat-sekat budaya juga turut mempengaruhi perubahan mental masyarakat Indonesia.
Maka, sebagai seorang pendidik (entah itu guru, ustazd, atau kiai) tidak hanya dibutuhkan kemampuan menyampaikan materi tapi juga kepribadian yang luhur. Kepribadian ini merupakan pengejawentahan dari luasnya pengetahuan serta besarnya rasa ikhlas dalam diri mereka, sehingga dimanapun sang pendidik tersebut bertugas atau bermukim selalu membawa kesejukan bagi lingkungan sekitar.
Pribadi Yang Hebat
Sosok Ali bin Abu Tholib adalah sosok yang luar biasa. Terbentuknya pribadi seperti itu tidak terjadi sekoyong-koyong melainkan butuh proses yang panjang dan berliku. Kedekatan beliau dengan Rosulullah merupakan satu tarbiyah yang luar biasa untuk manusia sekarang ini. Dengan kecerdasan yang dimilikinya Ali dapat dengan mudah mengambil pelajaran dan hikmah dari perbuatan yang dilakukan Rosulullah. Maka, ketika Ali memiliki pribadi agung seperti itu kepada lawannya adalah satu keberhasilan Rosululloh dalam membentuk karakter Ali bin Abi Tholib.
Kedekatan Ali kepada Rosululloh terbangun bukan semata-mata karena ikatan keluarga tetapi adanya satu kesamaan visi dan misi yakni menyebarkan agama Allah yang rohmatal lil alamin di muka bumi ini. Semangat rela berkorban juga ditunjukan oleh Ali bin Abu Tholib di saat menjelang hijrah dari Mekah ke Madinah. Dengan risiko nyawa Ali siap menggantikan posisi Muhammad di tempat tidurnya.
Dikaitkan dengan pendidikan karakter sekarang ini, kedekatan Nabi Muhammad SAW dan Ali bin Abi Tholib dapat dijadikan kaca benggala bagi para pelaku pendidikan. Dalam kedekatan beliau yakni antara Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Tholib paling tidak ada tiga proses pembelajaran yang dapat disimpulkan yakni keteladanan, diskusi (kontak person), dan nasihat. Keteladanan berasal dari kata "teladan" yang memiliki arti sesuatu yang patut ditiru untuk dicontoh tentang perbuatan, kelakuan, sifat dan lain sebagainya. Sedangkan keteladanan merupakan perilaku seseorang yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan atau dijadikan contoh bagi orang yang mengetahuinya atau melihatnya. Dalam bahasa Arab, teladan adalah uswatun Hasanah.
Uswatun hasanah merupakan suatu perbuatan baik seseorang yang patut ditiru atau diikuti orang lain. Memberikan contoh dan panutan yang baik merupakan satu bentuk metode pendidikan inquiri, karena adanya keinginan kuat mengikuti dan meniru orang lain, terlebih pada diri anak-anak. Pada umumnya, anak-anak lebih mudah terbentuk melalui mencontoh dan meniru. Hal ini juga terjadi pada diri Ali bin Abi Thalib. Keteladanan Nabi Muahammad SAW ketika di tengah-tengah umatnya, dihadapan kaum quraish, atau di keluarga sangat berpengaruh besar dasar membentuk karakter Ali bin Abi Tholib.
Rasulullah mengingatkan kepada umatnya tentang peran orang tua dalam membentuk karakter anaknya yakni "Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani" (HR. Bukhari). Rasulullah Saw. menganjurkan agar orang tua hendaklah menjadi suri tauladan dalam berakhlak yang benar di tengah pergaulan mereka dengan anak-anak. Imam Ahmad meriwayatkan hadist dari Abu Abu Hurairah r.a dari Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda: "Barang siapa memanggil seorang anak untuk mendekat dengan mengatakan akan memberi sesuatu, namun ia tidak memberinya apa-apa, maka panggilan tersebut merupakan dusta". Beranjak dari sini, sangat baik apabila kita membiasakan anak-anak untuk melakukan berbagai perbuatan terpuji dan baik dengan memberikan kepada mereka teladan dan panutan yang baik.
Nabi Muhammad SAW bukan sosok pemimpin yang otoriter. Beliau selalu mengajak kepada sahabatnya untuk berdiskusi manakala hendak melakukan peperangan. Bahkan untuk menempatkan pimpinan selalu disesuaikan dengan kemampuan. Jangan sampai orang yang dipilihnya tidak proporsional dan professional di tempatnya, karena itu dapat menjadi bom waktu. Kasus kegagalan dalam uhud adalah satu gambaran jika komunikasi antara pimpinan dan anak buah harus tetap terjaga. Begitu pula dalam dunia pendidikan, hendak komunikasi antara pendidik dan siswa harus terbina dengan baik karena itu akan membantu siswa manakala menemukan kesulitan.
Nilai pembelajaran dari kedekatan Nabi Muhammad SAW dan Ali bin Abi Tahlib adalah nasihat. Nasihat akan berproses dengan baik manakala terjadi hubungan yang baik pula. Menurut para ahli nasihat adalah suatu petunjuk yang memuat pelajaran terpetik dan baik dari si penutur yang bisa dijadikan sebagai bahan referensi ataupun alasan bagi si mitra tutur untuk melakukan sesuatu hal. (Prayitno : 2011). Sedang menurut Widada (1999) adalah suatu bentuk perintah kepada orang lain supaya melakukan tindakan tertentu dengan cara memberikan petunjuk dan cara-cara lain. Nasihat disampaikan dalam rangka mengingatkan kepada seseorang atas perbuatan yang dilakukannya. Namun demikian ketika kita memberi nasihatnya tidak di muka umum karena hal tersebut dapat dipersepsikan lain oleh yang bersangkutan. Hal ini sesuai dengan nasihat Imam Syafii yakni Nasihatilah aku ketika sendiri, jangan nasihati di kala ramai, karena nasihat di kala ramai bagai hinaan yang menusuk hati.
Kesimpulan
Untuk membentuk karakter yang unggul terhadap anak bangsa diperlukan kedekatan antara pendidik dan siswa. Di balik kedekatan tersebut akan berproses tiga hal yang merupakan inti dari kegiatan pembelajaran yakni keteladanan, diskusi dan nasihat. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh Allah lewat kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW dan Ali Bin Abi Thalib.
Penulis :
Lek Basyid Tralala
Pernah Menjadi Pengurus IPNU cabang Kendal
Anggota Lakpesdam MWC Kaliwungu Selatan
Anggota Pergunu Kab. Kendal