Oleh Lek Basyid Tralala
Petuah jawa yang tetap sarat dengan penanam budi pekerti dan bisa membawa mereka membawa kenyamanan hidup adalah nasihat empan papan. Nasihat empan papan ini memang sederhana, tapi bila direnungkan nasihat ini sangat tajam akan pesan moral bahkan dapat menyelamatkan dari prilaku rakus dan takabur bagi yang melaksanakan.
Dalam kontek kekinian , nasihat empan papan adalah segala sesuatu yang berkaitan aktivitas, penciptaan, dan rekayasa peristiwa harus senantiasa sesuai dengan situasi dan kondisi ( dalam budaya jawa : saiki, kene, ngene ). Implementasi empan papan dalam kehidupan sehari – hari yakni tumbuhnya prilaku bijaksana ketika hendak mengadopsi dan adaptasi sesuatu yang baru di lingkungan kita. Jangan sampai prilaku adopsi dan mengadaptasi menyebabkan kita bersikap egocentris dan mengubah tatanan yang sudah mapan di mana kita bertempat tinggal. Keadaan ini, sudah mulai menggejala di tengah masyarakat, seirama tuntutan mereka yakni kebebasan berkumpul atau berserikat. Mereka tidak peduli apakah masyarakat suka atau tidak suka yang penting inilah kenyakinan kita.
Empan papan juga mendidik untuk berprilaku mawas diri di saat mencari rizki. Menjauhkan dari perasaan serakah dalam dunia pekerjaan atau berpenghasilan. Serta bisa memahami mana harta yang menjadi haknya dan mana pula yang menjadi haknya. Ketika memperoleh jabatan di instansi atau perusahaan para pengamal empan papan tetap berprilaku bersahaja. Jabatan hanyalah sekedar tugas tambahan yang tidak harus dipertahankan secara mati – matian. Jabatan merupakan wasilah untuk berprilaku adil kepada sesama.
Untuk mempraktikan wasiat empan papan memang tidaklah mudah. Apalagi di jaman seperti ini. Yang terpenting adalah bagaimana prilaku empan papan dapat bersemayam baik dalam sanubarinya. Dalam kontek tertentu ada yang menafsirkan empan papan dengan pernyataan yang panjang jangan dipotong dan yang pendek jangan di sambung. Artinya jangan merekayasa sesuatu untuk hal-hal yang sementara dan demi sekedar mencari sanjungan semata.
Kebiasaan masyarakat sekarang sering berprilaku anarkis atau destruktif hanya karena perbedaan kenyakinan atau kurang mendapat penghargaan dari orang lain. Seperti, hanya sekedar menyelamatkan martabat yang semu, banyak anak yang dipaksa bersekolah yang paling favorit di tempatnya. Berbagai cara dilakukan guna mendapatkan keinginannya. Bahkan mereka juga tak perduli ketika harus membeli kursi sendiri dengan harga puluhan juta.
Perilaku tersebut membawa image yang kurang baik untuk kelangsungan hidup bermasyarakat. Karena prilaku tersebut melukai rasa keadilan masyarakat sekaligus juga merusak sistem yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Namun, kondisi tersebut sering dianggap yang lumrah karena mereka yang punya jabatan, koneksi, atau uang.
Untuk mengurangi perilaku kurang terpuji di masyarakat yang dilakukan oleh segelintir orang perlu langkah-langkah preventif, salah satunya menanamkan nasihat jawa pada nurani mereka yakni rumusan nem-sa ( 6-sa ) yaitu sakepenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samestine, dan sabenere. Sakepenake( secara nyaman) ketika hendak melakukan sesuatu pilihlah yang dapat dilaksanakan dengan suasana batin yang nyaman dan bahagia. Apalah artinya sesuatu yang diperolehnya jika hati selalu dirasuki perasaan galau yang tak pernah berhenti. Sabutuhe( sesuai kebutuhan ) adalah di saat memenuhi kebutuhan hidup hendaknya tidak terpengaruh atau dirisaukan oleh sesuatu yang tidak penting. Pilihlah dan belilah sesuatu yang benar dibutuhkan oleh diri, keluarga atau masyarakat. Dan jangan sampai over target.
Saperlune ( sesuai keperluan ). Beranikah ketika mematok mangan, sandang, dan papan sesuai keperluannya. Sulit memang mempraktikannya terutama bagi yang berduit. Banyak catatan di tengah masyarakat jika dicermati sangat memprihatinkan. Mereka selalu memaksakan diri untuk memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak perlu alasannya demi anak dan cucunya kelak. Tapi bagi yang tidak punya duit, memaksakan membeli di luar jangkauannya akan menambah beban hidup yang sangat luar biasa. Untuk itu,hidup harus cermat.
Sacukupe ( secukupnya ) maksudnya jangan menimbun barang atau kebutuhan di luar yang dibutuhkan. Keinginan untuk menimbun sesuatu barang merupakan bagian dari sifat manusia. Entah mobil, entah tanah, emas dan lain – lain yang berupa benda dapat menjadi pemicu munculnya prilaku yang tidak sehat seperti korupsi, nepotisme dan kolusi. Samestine ( seharusnya ). Jarang sekali kita mau jujur terhadap dirinya sendiri dalam memenuhi hajat hidup ini. Kadang pujian dan sanjungan lebih didahulukan daripada kebutuhan yang mendesak. Pujian dan sanjungan yang disampaikan orang lain sebenarnya adalah tamparan yang penuh kemesraan. Jadi wajar bila sanjungan dan pujian membuat orang jadi mabuk kepayang dan lupa diri. Sabenere( sebenarnya ).Resah merupakan salah satu penyakit hati manusia. Namun dapatkah keresahan hati ini dieliminir secara perlahan demi kedamaian hidup. Jika dapat, itu tandanya hati ini masih hidup. Tapi, bila berlaku sebaliknya kita wajib waspada mengapa itu dapat terjadi ? Apakah hati sudah buta atau telingan ini sudah rungu.
Ayo kita sadarkan diri kita dengan sikap empan papan. Agar keselamatan dunia juga mewarnai keselamatan akhirat. Apalah artinya nikmat yang diterima jika berujung laknat. Maka tidak ada salahnya jika kita merenung bersama ketika menerima satu nasihat orang tua agar nasihat tersebut dapat diturunkan kepada anak-anaknya seperti Melestarikan sesuatu yang sudah baik, dan mengambil sesuatu yang lebih baik demi menyempurnakan yang sudah baik .
Penulis :
Lek Basyid Trala
Pernah Menjadi Pengurus IPNU cab. Kab. Kendal
Santri Jiping Ahad Pagi KH. Muhibbudin Kaliwungu-Kendal