POLUSI OTAK

...

oleh Lek Basyid Tralala

            Meningkatnya prilaku kriminal di kalangan remaja dan anak-anak salah satunya adalah lemahnya kontrol orang tua  dan kurangnya kepedulian masyarakat. Kemudahan mengakses internet juga turut andil membuat siswa sulit dikendalikan oleh orang tua atau guru.  Dampak dari berbagai kemudahan media komunikasi itu adalah polusi otak. Polusi otak adalah pencemaran dalam otak disebabkan factor ekternal yang mengakibatkan otak selalu berimajinasi negatif. Polusi otak berbeda dengan polusi udara, polusi air atau polusi tanah. Polusi otak tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar dan tidak dapat pula dirasakan. Polusi otak adalah virus yang menyenangkan, sehingga orang yang terkena polusi otak tidak merasa dirinya berbahaya atau merugi bagi diri atau orang lain.

Selain itu, orang yang terjangkit polusi otak biasanya akan berbagi dan terus mencari baik secara sembunyi atau terang-terangan. Maka tidaklah mengherankan bila korban polusi otak sangatlah banyak dan hampir menyerang di semua level kehidupan ini.

            Melihat fenomena tersebut hendaknya para orang tua, guru dan pemerintah lebih tanggap terhadap bahaya polusi otak. Ketika melihat  gelagat yang mencurigakan pada anaknya, seperti malas belajar, menyendiri, atau suka pilih – pilih maka para orang tua harus kreatif  dalam membuat kegiatan anaknya. Atau paling tidak dengan  melakukan  langkah-langkah preventif yang konkrit sehingga anak - anak tidak sampai mempunyai pikirannya yang mengarah pada prilaku yang menyimpang, seperti anak diikutkan club olahraga, berkarya seni, atau memelihara binatang. Namun bila semua tidak terpenuhi, ajaklah untuk bersholat jamaah.

Korban polusi otak bukan hanya mahasiswa atau remaja dewasa, bahkan dapat pula terjadi dikalangan pelajar SD dan SMP. Virus polusi otak yang paling mengkhawatirkan adalah pornografi dan kekerasan. Banyak sudah cerita yang berawal dari kebiasaan nonton film porno hingga berakhir ke penjara. Pedofilia, pemerkosaan, adalah satu bukti jika pornografi sudah mencapai pada persoalan yang akut di negera ini, meskipun pemerintah akan memberikan sanksi berat berupa penambahan hukuman tahanan atau dikebiri.

Peran Keluarga

            Keluarga merupakan garda terdepan dalam  memantau merebahnya polusi otak di kalangan pelajar dan remaja. Keluarga yang hubungan antar anggotanya harmonis akan terbangun jaringan komunikasi yang sehat sehingga antaranggota keluarga akan saling mengingatkan terhadap persoalan yang bersifat rutinitas. Riak-riak kecil dalam keluarga merupakan hal yang biasa, dan itu akan memberi nilai edukasi bagi anaknya.

           Keluarga tempat pertama pengenalan pendidikan karakter bagi anak-anak bangsa. Bangun pagi, makan bersama, berpamitan, serta sholat berjamaah adalah satu penanaman karakter  yang diperkenalkan sejak dini. Selain itu, juga dapat dijadikan media untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak. Di saat proses tersebut, para orang tua menyisipkan pesan prinsip – prinsip beragama. Mereka tidak mudah terkontaminasi terhadap paham radikalisme yang moral, juga sekaligus mengingatkan kepada anak –anaknya untuk lebih waspada dan kreatif dalam menghadapi gejolak globalisasi.

Keluarga sehat, negara menjadikan kuat, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan rumusan BKKBN terdapat 8 fungsi keluarga :

pertama Fungsi Agama. Keluarga tempat pertama anak dikenalkan dan diajarkan tentang ketuhan oleh orang tuanya serta bagaimana tata cara beribadah yang benar berdasarkan kenyakinan yang dianutnya. Penanaman kenyakinan sejak dini menjadikan si anak  tersebut kuat dalam memegang akhir – akhir ini merusak instabilitas berbangsa dan bernegara.

Kedua Fungsi cinta dan kasih sayang. Indikator keluarga yang kuat biasanya ada  rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam antaranggota keluarga.  Dari rasa cinta dan kasih sayang antra keluarga akan menumbuhkan keharmonisan serta kebiasaan saling mengingatkan dalam berkeluarga. Selain itu juga akan berdampak terhadap hubungan bertetangga.

Ketiga Fungsi Sosial dan Budaya. Keluarga sangat berperan sebagai tempat  pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur sosial dan budaya yang selama ini ada dalam tata kehidupan. Sehingga nilai luhur yang selama ini sudah ada  dapat dipertahankan dan dipelihara di tengah tantangan globalisasi dunia.

Keempat Fungsi Perlindungan.  Keluarga harus menjadi wahana untuk menciptakan  rasa aman, nyaman, damai dan beradilan bagi anggota keluarganya. Setiap anggota keluarga punya tanggung jawab yang sama untuk menciptakan baiti jannati dalam  lingkungan keluarga.

Kelima Fungsi Kesehatan Reproduksi. Masih ada sebagian keluarga yang menganggap, pendidikan reproduksi adalah hal – hal yang berhubungan alat vital atau sex. Pemahaman itu harus diluruskan supaya si anak memahami sekaligus membentengi dirinya dari hal-hal yang buruk dan tidak diinginkan, seperti pelecehan seksual yang sedang marak terjadi dalam kurun dua tahun ini. Keluarga punya andil besar memberikan pemahaman mengenai alat reproduksi, cara kerjanya, cara merawatnya, dan bagaimana ketika sudah memasuki masa remaja.

Keenam  Fungsi Lingkungan.  Keluarga harus dapat   menciptakan warganya untuk hidup harmonis dengan  lingkungan masyarakat dan alam sekitarnya. Tanamkan dalam diri anak – anak bahwa bumi dan air adalah titipan untuk generasi berikutnya. Untuk itu hindari kebiasaan yang dapat membuat alam itu bersedih.

Ketujuh Fungsi Ekonomi. Keluarga merupakan tempat  ideal untuk membina kehidupan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Setiap anggota keluarga punya kewajiban yang sama untuk melakukan kegiatan ekonomi guna menambah kesejahteraan keluarga. Artinya seluruh anggota keluarga dapat bersikap ekonomis, realistis serta dapat membedakan mana kebutuhan primer, sekender dan tersier dalam kehidupan sehari-hari

Kedelapan  Sosialisasi Pendidikan.    Jadikanlah keluarga kecil kita sebagai  tempat  paling baik dalam proses sosialisasi dan pendidikan bagi anggota keluarganya. Pendidikan dalam keluarga  sebetulnya adalah pendidikan inti yang  menjadi fondasi untuk perkembangan anak selanjutnya. Untuk itu, hendaknya para orang tua memberikan waktu meskipun hanya sepuluh menit sehari untuk bercengkrama dan mendengarkan harapan anaknya.

Janganlah karena alasan kesibukan mencari uang, hak anak untuk mendapatkan perhatian dan pendidikan terbengkalai.

Penulis Lek Basyid Tralala

Pernah Jadi Pengurus PC. IPNU kab. Kendal

 

Advertisement

Press ESC to close