TILIK HAJI

...

oleh Lek  Basyid Tralala

Lebaran Haji sebentar lagi tiba. Jamaah haji Indonesia yang yang berasal dari berbagai daerah dan terbagi dalam beberapa kloter sudah mulai terbang menuju ke Makah dan Madinah. Di balik cerita lebaran haji ada satu tradisi yang sekarang  masih terpelihara dengan baik di kalangan masyarakat Indonesia yakni tilik haji.

Menurut antropolog, Prof. DR. H. Mujahirin Thohir, M.A dalam bukunya yang berjudul Talbiyah Di Atas Kabah yang dimaksud tilik haji adalah berkunjung ke rumah orang yang akan berangkat atau  pulang ibadah haji (2004 : 55 ). Dari lihat segi waktu, pelaksanaan tilik haji  sekitar satu bulan sebelum pemberangkatan atau sesudah pulang ibadah haji. Atau biasanya setelah melaksanakan selamatan haji ( walimatul hajj ). Kunjungan ( silaturrohim ) dari kerabat, handai taulan, tetangga, serta teman sejawat menjadi meningkat manakala waktu pemberangkatan semakin dekat, sehingga banyak calon jamaah melupakan kondisi fisiknya.

Kunjungan ( silaturrohim ) ke calon haji atau pak haji/ bu haji sebagai wujud rasa senang, empati dan  memberi doa restu atas anugrah Yang Maha Kuasa berupa kesempatan untuk menjadi tamu Allah SWT. Bahkan ada juga yang niatan tilik haji yakni titip nama dan berharap agar  colon haji mau berkenan mendoakannya atau memanggilnya tatkala berada di Makkah Almukaromah. Atau sekedar ingin mendengar cerita tentang pengalaman spiritual, dan pengalaman lucu selama di tanah haram, mengingat menurut cerita orang-orang, bahwa setiap jamaah haji akan mendapat ujian  masing-masing yang setiap orang berbeda tergantung pada pergolakan batinnya.

Tradisi tilik haji bukanlah bagian dari syariat ibadah haji. Tetapi tilik haji urgen bagi mereka yang memiliki jalinan pertemanan yang kuat. Restu dari tetangga,  teman sejawat, sanak family merupakan motivasi tersendiri bagi yang akan melaksankan ibadah haji. Suasana tilik haji  pun menjadi lebih gayeng bila yang datang teman-teman sepermainan atau sejawat. Mereka tak henti-hentinya memberi saran, nasihat hingga sampai provokasi batin. Sang calon haji menjadi bimbang dan terkadang dibuat mati gaya. Namun, semua menjadi lebih indah manakala disikapi dengan arif dan bijaksana. Itulah godaan awal orang akan menunaikan ibadah haji.

Bagi calon haji, sebelum berangkat ke tanah suci biasanya akan mohon restu sekaligus mohon maaf atas segala kesalahannya kepada tetangga, teman sejawat, dan sanak famili. Ini dimaksudkan agar calon jamaah haji menjadi ringan langkahnya untuk menghadap Sang Khalik. Orang naik haji tak ubahnya orang yang akan pergi perang ke jalan Allah ( jihad ). Anak, sanak famili dan harta semua ditinggal. Yang dibawa bekal secukupnya demi menjaga kekhusukan beribadah.

 Argumen para calon haji pamitan sekaligus mohon maaf kepada tetangga kanan kiri adalah risalah dari Umar bin Khotob. Saat itu, tatkala  Umar bin Khotob akan berangkat haji, Beliau sempatkan terlebih dahulu menghadap kepada Rosululloh. Dari pertemuan itu Umar bin Khotob menyampaikan maksud kedatangannya kepada  Rosululloh yakni pertama mohon ijin untuk menuaikan ibadah haji. Kedua mohon doa restu kepada rosululloh agar perjalanan ibadah hajinya selamat dari berangkat hingga pulang. Ketiga. Agar rosululloh berkenan memaafkan segala kesalahannya.

Mohon Doa

Orang yang baru pulang dari menuaikan ibadah haji sebelum empat puluh hari doanya sangat maghbul atau didengar oleh Allah SWT itulah alasan mengapa orang minta doa barokah dari mereka – mereka yang baru pulang dari tanah suci agar segala cita-citanya diberi kelancaran olehNya.  Namun tidak sedikt orang yang  tilik haji ingin mendapat oleh-oleh yang special dari Mekah atau  Madinah berupa air zam-zam, kurma, kacang arab, dan celak arab.

.

Penulis:

    Lek  Basyid Tralala

Pernah Menjadi Pengurus IPNU Cab. Kendal

Advertisement

Press ESC to close