Oleh : Ma'rifatun Maghfiroh
Di zaman yang serba digitalisasi seperti sekarang ini, semua perkara dan kebutuhan telah dipermudah oleh mesin berupa teknologi. Namun jika kita renungkan kembali apakah kemudahan itu tidak hanya memberi manfaat tapi juga mudharat bagi kita.
Melihat dan mengkajinya dari berbagai sisi saja tidak cukup, perlu adanya implementasi dari kajian tersebut berupa tindakan menguasai teknologi, bukan kita yang dikuasai teknologi.
NU dengan jumlah jamaah yang luar biasa banyaknya, sudah menjadi PR kita bersama dalam men-jam'iyahkan atau mengorganisasikan para jamaah, meningkatkan kualitas SDM warga Nahdliyin menuju Islam rohmatalil'alamin.
Tidak mudah mengumpulkan warga nahdliyin untuk memutarkan roda organisasi dan roda perjuangan dakwah ilahi, tidak semudah mengumpulkan warga Nahdliyyin untuk ber-tahlil. Banyaknya kemunculan Islam minoritas yang berasal dari luar ( trans nasional) yang sangat jauh berbeda dengan budaya Islam ala Nusantara kita, telah mempengaruhi sisi kehidupan kita diberbagai bidang, terutama pendidikan.
NU memiliki potensi dan juga kualitas yang sangat baik,hanya saja kurang terkoordinir dengan baik untuk menghadapi era globalisasi ini.
Banyak sekali orang NU yang pintar, tapi apakah pintar saja cukup? Jawabanya adalah "tidak" karena sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, se-sempurna teori adalah teori yang dipraktekkan. Untuk itu kita sebagai warga NU dan kader penggerak NU harus menjadi warga dan kader NU yang cerdas, yang mampu mengaplikasikan ilmu yang kita dapat untuk kemaslahatan umat. Tidak hanya meneruskan estafet perjuangan ulama tetapi juga menyelamatkan generasi yang akan datang dari kerusakan, akibat kelalaian kita sebagai kader penggerak yang tidak bergerak.
Tua, muda , jika kita bersama kita pasti BISAA !!
Ma'rifatun Maghfiroh, ketua PAC IPPNU kecamatan Sukorejo.