Bendera : Secarik Kain yang Berbicara

oleh : Abdul Basyid Tralala

Dikisahkan dalam peristiwa perang Tabuk yakni Zaid bin Haritsah sang pembawa bendera terbunuh oleh pasukan kaum Quraish, serta merta bendera bendera tersebut diraih  Ja’far bin Abi Thalib, ia pun berperang hingga terbunuh. Bendera itu lalu diselamatkan oleh Abdullah bin Rawahah, iapun juga  berperang hingga ia pun turut terbunuh. Lalu, bendera itu pun diraih oleh Tsabit bin Arqam Al-Ajlani dan diserahkan kepada Khalid bin Walid, karena kehebatannya bendera itu tetap berkibar hingga perang Tabuk pun berakhir.

Gugurnya  Ja’far bin Abi Thalib dalam mempertahan bendera dalam perang tabuk adalah satu teladan yang dapat dijadikan pembelajaran bagi semua orang. Dia begitu mati-matian mempertahankan tanggung jawabnya sebagai pembawa bendera. Ketika tangan kanannya yang membawa bendera terpotong, serta merta benderanya dipindah ke tangan kiri. Dia tidak memperdulikan rasa sakit yang dideranya. Begitu pula ketika tangan kiri ikut terpotong, Ja’far pun merangkul bendera tersebut dengan kedua pundaknya. Hingga akhirnya iapun menjadi syuhada’ dalam perang Tabuk tersebut. Melihat patriotisme Ja’far, Rosululloh SAW pun berdoa agar Allah mengganti kedua tangan Ja’far dengan sayap di surga.

***

Membaca kisah tersebut bendera adalah secarik kain yang bermakna. Warna dan gambar yang terpampang bendera juga mengandung maksud dan nilai yang luhur. Sehingga wajar jika sebuah bangsa / organisasi begitu mati-matian mempertahankan tetap berkibarnya bendera tersebut dimanapun, begitu pula dengan bangsa Indonesia.

Bendera merah putih adalah saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Bendera merah putih juga sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia. Bendera merah putih dijadikan simbol perlawanan terhadap orang dzalim di negeri ini. Bahkan  merah putih dijadikan nafas para pahlawan untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Cucuran darah, nyawa melayang hingga harus berpisah dengan keluarga adalah satu konsekwensi untuk meraih satu cita – cita  mulia yakni bangsa merdeka dan bermartabat.

Dengan semangat membara, dan keterbatasan sarana prasarana  para bapak bangsa ingin  menjadikan momentum 28 Oktober 1928 sebagai ajang untuk sosialisasi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan bendera Merah Putih kepada seluruh elemem bangsa pada saat itu. Sehingga  lahirlah keputusan politik yaitu satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yakni Indonesia.

Secara filosofis bendera merah putih memiliki makna yaitu merah berarti berani sedangkan putih melambangkan kesucian. Sehingga merah putih dapat dibaca bahwa orang Indonesia untuk  mencapai kemerdekaannya dengan berbekal keberanian, tekat yang kuat dan yang dilandasi dengan nilai-nilai yang luhur.

Dalam kontek kekinian warna merah dan warna putih bersih dapat menjadi perlambang akan kobaran semangat rakyat  Indonesia dalam hal apapun. Sehingga warna merah diibaratkan seperti kobaran api yang membara, pantang menyerah atau putus asa dalam usaha meraih cita –cita mulia bangsa ini. Sedangkan putih dalam bendera Indonesia, suci diibaratkan netral dan tidak memihak, berkeadilan dan tanpa pamrih.

Melihat begitu pentingnya arti sebuah bendera bagi sebuah bangsa, masihkah ada larangan oleh sekolah atau organisasi terhadap  anak para bangsa untuk menghormat bendera pada saat upacara ?

Sejarah Merah Putih

Bendera Indonesia merah putih tidak serta merta lahir. Dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Warna merah mirip dengan warna gula jawa (gula aren) dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa. Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.

Warna merah-putih bendera negara diambil dari warna panji atau pataka Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur pada abad ke-13. Akan tetapi ada pendapat bahwa pemuliaan terhadap warna merah dan putih dapat ditelusuri akar asal-mulanya dari mitologi bangsa Austronesia mengenai Bunda Bumi dan Bapak Langit; keduanya dilambangkan dengan warna merah (tanah) dan putih (langit). Karena hal inilah maka warna merah dan putih kerap muncul dalam lambang-lambang Austronesia — dari Tahiti, Indonesia, sampai Madagaskar. Merah dan putih kemudian digunakan untuk melambangkan dualisme alam yang saling berpasangan. Catatan paling awal yang menyebut penggunaan bendera merah putih dapat ditemukan dalam Pararaton; menurut sumber ini disebutkan balatentara Jayakatwang dari Gelang-gelang mengibarkan panji berwarna merah dan putih saat menyerang Singhasari. Hal ini berarti sebelum masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan, mungkin sejak masa Kerajaan Kediri. Pembuatan panji merah putih pun sudah dimungkinkan dalam teknik pewarnaan tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari daun pohon jati, bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), atau dari kulit buah manggis.

Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya, bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.

Menurut seorang Guru Besar sejarah dari Universitas Padjajaran Bandung, Mansyur Suryanegara semua pejuang Muslim di Nusantara menggunakan panji-panji merah dan putih dalam melakukan perlawanan, karena berdasarkan hadits Nabi Muhammad. Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran. Di zaman kerajaan Bugis Bone, Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone. Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang. Panji kerajaan Badung yang berpusat di Puri Pamecutan juga mengandung warna merah dan putih, panji mereka berwarna merah, putih, dan hitam yang mungkin juga berasal dari warna Majapahit.

Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Kemudian, warna-warna yang dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kemudian nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda. Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Bendera ini resmi dijadikan sebagai bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan resmi digunakan sejak saat itu pula.

Penulis :

Abdul Basyid Tralala

Pengurus LAKPESDAM MWC NU Kaliwungu Selatan

Advertisement

Press ESC to close