|
Gerakan ekstrim “ jihadi “ umumnya bertolak dari sejenis tauhid yang secara ironis menganjurkan takfir. Yakni paham “ tauhid “ yang mensyaratkan penganut “ tauhid “ ini untuk mengkafirkan siapapun yang berasal dari luar paham ini. Rumusan jenis “ tauhid “ ini kurang lebihnya : “ Beriman kepada Allah dan kafir kepada thogut. Thogut dalam persepsi mereka ( ISIS) adalah semua produk buatan manusia, seperti undang-undang atau dasar negara.
Para pelaku paham takfirisme sering menyebut dirinya “ Singa Tauhid “. Mereka tak perduli meskipun harus mendekam dalam penjara atau nyawa mereka melayang. Ciri orang yang mengindap paham takfirisme adalah mereka yang selalu membawa stempel khilafah, daulah Islammiyah dalam setiap pembicaraan. Inilah sejatinya bom angkara nafsu yang diberi label tauhid.
Dalam sejarah Indonesia persinggungan dengan daulah Islamiyah sudah sejak tahun 50-an. Bahkan sampai sekarang ini gerakan yang mengatasnamakan daulah islamiyah terus bermetamorfosis seirama perubahan waktu. Seperti AMIN ( Angkatan Mujahidin Indonesia Nusantara ), NII atau JAT (Jamaah Anshorut Tauhid ). Sehingga ketika mendengar ada 400-an WNI yang bergabung dengan ISIS tidaklah mengagetkan. Ditambah lagi adanya pernyataan dari juru bicara ISIS yang mengatakan bahwa ISIS akan melakukan serangan terhadap musuh-musuh ISIS yang ada di belahan dunia manapun.
Ternyata gerakan ISIS di Indonesia mengalami penolakan keras dari organisasi yang mempunyai akar rumput budaya Indonesia. ISIS bukanlah pejuang agama, melainkan teroris yang berlabel agama dan ini sudah diprediksi oleh rosulluloh. Selain itu juga, alasan ketenangan hidup. Hidup yang damai dan tentram menjadikan khusuk dalam beribadah.
Sekilas Tentang ISIS
Dalam buku yang dihimpun oleh ulama besar Al-Muttaqi Al Hindi dalam kitab Kanzul Ummal Ali bin Abi Tahlib berpesan “ Jika kalian melihat bendera – bendera hitam, tetaplah di tempat kalian berada. Jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian. ( hal. 43 ). Lalu apa maksud dari sahabat Ali bin Abi Thalib berpesan demikian ? Sebagai pintu ilmu spiritual hadist nabi Muhammad, pesan Ali layak untuk dicermati, apakah hal tersebut ada hubungannya dengan ISIS yang marak di abad ini.
Lalu siapkah itu ISIS ? ISIS sejatinya muncul karena oplosan tiga fenomena yang saling berkaitan. Pertama, invasi illegal Amerika terhadap Irak pada tahun 2003. Invasi ini berhasil membebaskan rakyat Irak dari rezim Sadam Husen. Kedua rezim boneka bermazhab Syiah pengganti Saddam melakukan diskriminasi sistematis terhadap mayoritas pengikut mazhab Sunni. Ketiga pecahnya konflik horizontal di Suriah. Dari ketiga alasan tersebut factor kedualah yang memunculkan tokoh yang bernama Abu Mushab Al Zarqawi. Al Zarqawi adalah veteran perang Afganistan tahun 80-an yang sangat anti terhadap syiah mendirikan Islamic State in Iraq and Syria ( ISIS ).
Sedangkan menurut Edward Snowden, mantan pegawai nasional security Agency Amerika Serikat bahwa ISIS merupakan organisasi bentukan hasil kerja intelgen tiga negara yakni FBI-CIA ( Amerika Serikat ), Mossad ( Israel ), dan M16 ( Inggris ).Tujuannya adalah membentuk organisasi teroris untuk menarik semua eksremis dari seantero dunia. Dipilihnya taktik sarang lebah tak lebih dari sekedar melindungi kepentingan Zionis, maka muncullah isu khilafah.
ISIS mengalami alih kepemimpinan beberapa kali dalam kurun lima tahun. Salah satu pimpinan ISIS yang paling menonjol adalah Abu Bakar Al Bagdadi. Dia berhasil membentuk ISIS menjadi oragnisasi lintas bangsa. Al Bagdadi yang memiliki nama asli Ibrahim Awwad Ibrahim Al Badri berasal dari keluarga yang religious di Samarra. Dia memperoleh gelar doktor sejarah Islam di Bagdad pada akhir 1990.
Islam Nusantara
Menolaknya sebagian warga Indonesia untuk berjihad di Irak dan Suriah adalah prilaku semena-mena ISIS membunuh anak-anak serta konsep khilafah. Memang sebagian organisasi muslim di dunia ada merindukan konsep khilafah. Dengan konsep khilafah diharapkan dapat mengatasi masalah keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran dan ragam kenestapaan lainnya Di sisi lain konsep khilafah jelas masih problematic dan utopis diantara para pemikir Islam sendiri. (hal. 70 )
Dalam sejarah oragnisasi Islam Indonesia pernah membentuk Cafilat Comite pada tahun 1924. Pembentukan itu bermaksud untuk membela dan menuntut agar khilafah di Turki dihidupkan lagi. Melihat fenomena kurang sehat tersebut “ The Grand Old-Man” Haji Agus Salim menyatakan bahwa komite itu, dan khilafah tidak relevan dengan Indonesia.
Selain itu, dalam wacana pembentukan negara pasca kemerdekaan guna sarana perekat dalam mengatur rakyat, para pendiri juga menawarkan bentuk negara apakah sosialis-marxis, sosalis-komunis, persemakmuran, liberal, demokrasi atau negara Islam. Pilihannya sebagaimana yang telah disepakati dalam UUD 1945 dengan Pancasila sebagai dasar negara.
Pengirim : Abdul Basyid Tralala
(Pengurus LAKPESDAM MWC NU Kaliwungu Selatan)