Judul : Bukti Gus Dur Itu Wali
99 Kesaksian Tak Terbantahkan dari Sahabat,
Orang Dekat, Kolega, dan Keluarga.
Pengarang : Acmad Mukafi Niam dan Syaullah Amin
Penerbit : Renebook - Jakarta
Tahun : 2014 ( cetakan II, Maret 2014 )
Halaman : xxviii + 224
( 14 X 21 cm )
KH. Abdurrohman Wahid atau biasa disapa Gus Dur adalah negarawan sekaligus guru bangsa di negeri ini. Rekam jejak kebesaran Gus Dur masih terekam rapi dalam memori pengikutnya atau lawan politiknya. Sehingga, kemanapun Gus Dur pergi para pemburu berita selalu mengejarnya, meski sekedar ingin tahu, atau mencari tahu reaksi Gus Dur terhadap permasalahan bangsa, seperti prilaku para anggota dewan, partai politik, kebijakan pemerintah hingga sampai goyang Inul.
Banyak pendapat Gus Dur yang otentik, orisinal, dan kontroversial yang menjadi alasan tersendiri bagi para kuli tinta untuk mengikutinya kemanapun Gus Dur pergi. Para pengikutnya juga sering dibuat tertawa, penasaran, kebingungan, atau bahkan terheran-heran ketika mendengar stetmen Gus Dur tentang penyakit negeri ini. Namun, bagi lawan politiknya, akan menjadi panas, geram dan jengkel, seperti pernyataan beliau ketika menjadi presiden dan itu menjadi head line beberapa hari koran nasional.
Beliau mengatakan kalau anggota DPR itu laksana anak-anak TK. Sontak saja seluruh penghuni senayan ramai. Suhu politik negeri ini pun menjadi meninggi. Anggota dewan pun kuping memerah memohon kepada Gus Dur supaya minta maaf atas pernyataannya karena dianggap melecehkan lembaga negara yang suci ini.
Bagi pengamat politik penyataan tersebut justru menarik untuk dikupas dan didiskusikan. Bahkan tak sedikit para pengamat politik yang mendukung pernyataan Gus Dur karena itu bentuk kritik sesama antarlembaga tinggi negara. Lucu, ketika dikonfirmasi oleh para wartawan ke Gus Dur cukup mengatakan, gitu aja kok repot !
Buku Bukti Gus Dur Itu Wali mengisahkan sebagian dari perjalanan spiritual Gus Dur yang kadang berjalan di luar nalar manusia. Seperti ketika menyambut kedatangan Ibrahim Woyla dari Aceh. Dalam pertemuan itu tidak ada dialog sama sekali, yang ada hanya tidur – tiduran bersama, setelah itu pulang.
Untuk menambah daya tarik pembaca dalam buku ini juga diselipi cerita-cerita lucu seputar pengalaman Gus Dur sehingga pembaca dapat tersenyum simpul sejenak manakala selesai membacanya. Keanehan-keanehan Gus Dur selama menjabat ketua PBNU dan presiden RI ke 4 oleh para pengikutnya dijadikan bukti empirik bila Gus Dur itu wali. Perihal faktanya hanya Allah yang tahu.
La ya’riful wali illal wali adalah tester untuk mengukur kewalian orang. Makanya banyak tokoh NU yang begitu hati-hati menyikapi sepak perilaku aneh Gus Dur. Mereka tidak ingin masyarakat NU terjebak dalam pengkultusan Gus Dur seperti Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan. Beliau mengatakan hanya wali yang tahu wali dan saya husnuzhon billah, bila beliau termasuk orang yang saleh. Sedangkan Alwy Shihab mantan menlu di era Kabinet Gus Dur mengatakan” Dia orang cerdas, pandangannya jauh ke depan. Banyak sifat istimewa yang ada pada Gus Dur, tapi kalau mengatakan apakah itu karomah, itu butuh persyaratan tertentu.
Dalam pandangan KH. Dimyati Rois pengasuh ponpes Al Fadlu dari Kaliwungu Kendal lain lagi. Beliau mengatakan “ Kami tidak menyalahkan kalau orang mengatakan bahwa Gus Dur adalah seorang wali, sebab kelas saya kan bukan wali. Bagi Ki Ageng Cemeng, spiritualis Jawa bahwa kemunculannya Gus Dur sudah diprediksi dalam serat Jongki Joyoboyo yakni bahwa akan muncul di tanah jawa orang yang tidak bias melihat, tetapi mampu menghitung bintang, tidak bisa berjalan, tetapi mampu mengelilingi dunia, dan orang ini yang akan mengadakan penataan, pemerataan, dan pembaharuan. ( hal. 185 ).
Sedang keluarganya berharap orang-orang NU jangan sampai eforia dan terjebak persoalan kewalian Gus Dur. Tugas NU masih banyak untuk negeri ini. Karena menurutnya yang lebih layak disebut wali adalah kakek dan ayah Gus Dur ( hal. 198 ).
Yang terpenting lagi adalah siapa gerangan oang yang siap melanjutkan tali estafet Gus Dur. Jangan sampai keberadaan hanya menjadi legenda di negeri ini. Kedua bagaimana Gus Dur dapat mempunyai kecerdasan seperti itu dan memiliki komitmen setiap tugas yang diembannya. Inilah tugas untuk orang generasi muda sekarang. Dan semoga dengan adanya buku ini para pembaca memiliki estafet cerita untuk anak-anaknya. Amin.
Pengirim : Abdul Basyid Tralala
( Pengurus LAKPESDAM MWC NU Kaliwungu Selatan- Kendal Jawa Tengah )