Oleh Abdul Basyid Tralala
Abu Hasan al – Asyari lahir pada tahun 873 M. Atau 22 tahun sebelum Hijriyah. Beliu dilahirkan di Yaman. Yakni sebuah negara yang tergolong maju dibanding dengan negara-negara lain di Timur Tengah. Nama lengkap Abu Hasan al – Asyari adalah Abu al Hasan bin Ismail bin Abi Bisyr Ishaq bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abu Musa Abdullah bin Qais al Asy’ari. Kata Asy’ar diambil dari suku Qathan yang ada di Yaman. Kelebihan bangsa Yaman dari bangsa – bangsa lain pada saat itu adalah karakter dan kultur penduduknya. Yakni mudah mematuhi dan menerima kebenaran, intens dalam ilmu pengetahuan ( sains) serta selalu khusnuzdon berhadapan dengan keadaan yang menimpanya. Beliu wafat pada tahun 947 M / 44 H.
Dari perjalanan spiritualnya, Abu Hasan al – Asyari pernah bergabung dengan aliran Mu’tazilah hingga umur 40 tahun. Setelah sekian lama menjadi tokoh Mu’tazilah Abu Hasan al – Asyari sering mendapat kepercayaan dari gurunya untukmenghadiri berbagai forum debat ilmiah yang diadakan oleh pemerintah saat itu. Namun, semua tidak memberi kenyamanan hati dan ketentraman pikir dan Abu Hasan al – Asyari pun keluar Mu’tazilah dan kembali ke paham Ahlussunah Wal Jamaah.
Berita bergabung Abu Hasan al – Asyari ke paham Ahlussunah Wal Jamaah memberi tanda tanya kepada kepada masyarakat Yaman pada saat itu. Menurut data sejarah yang disampaikan oleh para ulama, seperti al Hafizh Ibn ‘Asakir al-Dimasyqi, Syamsudin Ibn Khalikan, dan Imam Tajuddin al Subki bahwa keluarnya Abu Hasan al – Asyari dari Mu’tazillah paling ada dua alasan kuat yang melatarbelakanginya.
Pertama, ketidakpuasan Abu Hasan al – Asyari terhadap ideologi Mu’tazillah yakni yang selalu mendahulukan akal (aqli ) dari dalil naqli disaat hendak menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan teologi atau sesuatu yang gaib. Dan itu selalu berakhir dengan jalan buntu. Belum lagi disaat diskusi ilmiah, banyak argumentasi yang dicaunter oleh lawan diskusi.
Tanda-tanda ketidakpuasan Abu Hasan al – Asyari terhadap Mu’tazillah sudah terlihat dari sikapnya yakni tidak keluar dari rumah selama lima belas hari. Di hari keenambelas, yakni tepatnya hari Jumat beliu pergi ke masjid dan berdiri di mimbar untuk berpidato. Dalam pidatonya beliau mengatakaan sebagai berikut:
“ Saudara. Saudaraku ! Sebenarnya Aku telah menghilang dari kalian selama lima belas hari adalah meneliti sekaligus menelaah dalil – dalil semua ajaran yang ada yang selama ini kita jadikan pedoman dalam berprilaku. Namun sayang, tidak menemukan jalan keluar yang memuaskan. Lalu akupun memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dan alhamdulillah , Allah memberi petunjuk kepadaku. Dan mulai saat ini aku cabut semua ajaran selama ini aku yakini ( Mu’tazilah ).
Dalam diskusi ilmiah tentang teologi yang diselenggarakaan oleh pemerintah saat itu Abu Ali al Jubbai ( guru Abu Hasan al – Asyari ) sudah dapat membaca prilaku atausikap Abu Hasan al – Asyari yang tidak puas terhadap argumen yang diungkapkannya gurunya.
Berikut ini petikan diskusinya !
Abu Hasan al – Asyari : “Bagaimana pendapatmu tentang nasib tiga orang yang meninggal
dunia, yakni satu orang mukmin, satu orang kafir, dan satu lagi
anak kecil ? “
Abu Ali Jubba’i : “ Orang mukmin akan memperoleh derajat yang tinggi, orang kafir
akan celaka sedangkan si anak kecil akan selamat !”
Abu Hasan al – Asyari : “ Mungkinkah si anak kecil tersebut minta derajat yang tingga
kepada Allah SWT ?“
Abu Ali Jubba’i : “ Oh, tidak mungkin, karena Allah akan berkata kepada anak itu,
“ Orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi amalnya,
sedangkan kamu belum beramal. Jadi kamu tidak bisa
memperoleh derajat itu “.
Abu Hasan al – Asyari : “ Bagaimana kalau anak kecil menggugat kepada Allah dengan berkata, “ Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal seperti orang mukmin itu ! “
Abu Ali Jubba’i : “ Oh tidak bisa, Allah akan menjawab, “ Oh bukan begitu, justru Aku mengetahui bila kamu Aku beri umur panjang, maka kamu akan durhaka, sehingga nantinya kamu akan disiksa. Oleh karena itu, demi menjaga masa depanmu, Aku matikan engkau sebelum menginjak usia taklif “.
Abu Hasan al – Asyari : “ Bagaimana seandainya orang kafir itu juga menggugat kepada Allah dan berkata, “ Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depanku juga masa depan si anak kecil itu. Tetapi mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, sebagaimana nasib si orang mukmin atau si anak kecil itu. Bahkan Engkau biarkan aku hidup menjadi kafir seperti sekarang ini ! “ Mendengar pertanyaan tersebut, Abu Ali Jubba’i buntu untuk menjawabnya.
Kedua, Abu Hasan al – Asyari bertemu dengan nabi. Permulaan bulan Ramadhan
Abu Hasan al – Asyari tidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Beliu berkata,
” Wahai Ali tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan diriku karena itu benar.” Setelah terbangun Abu Hasan al – Asyari merasakan bahwa pesan dalam mimpi itu sangat berat. Di pertengahan bulan Ramadhan, Abu Hasan al – Asyari bermimpi lagi bertemu Nabi Muhammad SAW dan beliu berkata “ Apakah sudah melakukan perintahKu dulu? “Abu Hasan al – Asyari pun menjawab,” Aku telah memberikan pengertian yang benar terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan dirimu”. Nabi SAW pun berkata, “ Tolonglah, pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu benar ! “.
Abu Hasan al – Asyari masih terasa berat untuk mengikut serta menindaklanjuti mimpinya. Sehingga Abu Hasan al – Asyari berkesimpulan untuk meninggalkan ilmu kalam dan berkonsentrasi kepada hadist dan Alquran. Di malam ke 27 Ramadhan, Abu Hasan al – Asyari serang hawa kantuk yang luar biasa. Dia pun tertidur dan bermimpi. Di mimpinya yang ketiga, Abu Hasan al – Asyari bertemu dengan Nabi SAW yang ketiga kali. Dia pun berkata “ Apakah kamu sudah melaksanakan perintahku dulu ! “. Abu Hasan al – Asyari pun menjawabnya,” Aku telah meninggalkan ilmu kalam, dan aku berkosentrasi Al Quran dan Al Hadist.
Nabi SAW berkata,” Aku tidak menyuruhmu untuk meninggalkan ilmu kalam. Tetapi aku hanya memerintahmu untuk menolong pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar.Abu Hasan al – Asyari pun menjawahnya : Wahai Rosulullah, bagaimana aku meninggalkan madzhab telah aku ketahui masalah-masalah dan dalil-dalilnya sejak tiga puluh tahun yang lalu hanya karena mimpi ? Nabi SAW berkata,” Andaikan aku tahu bahwa Allah SWT akan menolongmu dengan pertolonganNya. “
Setelah bangun dari tidur , Abu Hasan al – Asyari berkata, “ Selain kebenaran pasti hanya dengan ru’yah, syafaat dan lain-lain. Anehnya setelah peristiwa itu, banyak orang yang mengkajinya.
Pengirim : Abdul Basyid Tralala
Anggota Lakpesdam MWC NU Kaliwungu Selatan
( Sumber : Risalah Ahlussunah Wal – Jamaah ).