oleh Abdul Basyid Tralala
| Judul Buku Pengarang Editor Penerbit Kota Terbit Tahun Jumlah Hal. ISBN Kata Pengantar | Risalah Aswaja ( Dari Pemikiran, Doktrin, Hingga Model Ideal Gerakan Keagamaan ) KH. Muhammad Hasyim Asy’ari Aziz Safa AR-RUZZ MEDIA Yogyakarta Cetakan Pertama, 2016 254 lembar 978-602-313-046-7 KH. Ahmad Hasyim Muzadi ( Mantan Ketua Umum PBNU |
Siapa yang tidak mengenal KH Hasyim Asy'ari ? Pahlawan nasional dan tokoh juga pendiri jam’iyah organisasi besar Islam di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama. Beliau lahir di Jombang, 10 April 1875. Beliau lahir dari keluarganya sangat memegang teguh dasar-dasar ajaran Islam yang berpaham ahlussunah wal jamaah. Orang tua beliau bernama Kyai Asyari dan ibu Halimah.
Ketokohan dan jiwa leadershipnya sudah terlihat sejak kecil. Bahkan ketika masih belia beliau sudah membantu ayahnya mengajar santri di pesantren. Setelah berusia cukup mapan beliau baru mengembara dari pesantren ke pesantren untuk menambah ilmu hingga sampai Mekah Al Mukaromah.
Sebagai seorang ulama yang cerdik dan cendikia serta mempunyai kemampuan menulis yang sangat baik, KH Hasyim Asy'ari banyak mewariskan ilmu dan amal. Realisasi mewariskan amal melalui pengabdian kepada umat, sedangkan ilmu diwariskan melalui kitab-kitab yang dikarangnya seperti kitab At-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama, Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah, Mawaidz, Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama, Al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin, Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi, dan Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadits al-Mauta wa Syuruth al-Sa’ah wa Bayani Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah dan lain – lain.
***
“ Sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah ( Al Quran ), sebaik-baiknya petunjuk ( yang dibawa ) nabi Muhammad SAW, dan seburuk-buruknya perkara adalah membuat perkara baru ( dalam agama Islam ); setiap perkara baru – buat adalah bidah, setiap bidah itu kesesatan; dan setiap kesesatan itu di neraka. Buku yang judul aslinya Risalah Ath-Sunnah wa Al Jamaah karya Hadhratussy Syaih KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini adalah sebuah pemikiran dari sang penulis untuk menjawab persoalan – persoalan yang muncul di tengah masyarakat juga sekaligus menolak kesesatan para ahli bid’ah lagi pendusta. Selain itu, dari buku ini diharapkan dapat menguatkan idelogi ahlussunnah wal jamaah mengingat di buku ini dilengkapi argument dan dalil – dalilnya.
Persoalan sunah atau bid’ah adalah persoalan klasik di masyarakat. Namun pada dasarnya persoalan itu sudah dikupas tuntas sejak jaman dahulu, entah dari sisi etimologis atau terminologis. Sehingga muncul kesimpulan bahwa pemaknaan sesuatu sangat tergantung sudut pandang atau latar belakang disiplin ilmunya ( hal. 28 ), seperti sunah itu sendiri. Secara umum sunah diterbagi menjadi tiga bagian yakni sunnah Qouliyah, sunah fi’liyah, dan sunah taqriyah ( hal. 31 ).
Sedangkan masalah bid’ah menurut Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yakni dedengkot wahabi, secara tegas mengatakan redaksi waqullu bid’atin dlollah berbentuk kulliyah’ ammah ( arti : umum dan mencakup ) yang dibatasi oleh kata alat yang menunjukkan komprehensitas dan keumuman, yaitu kata “ qullu “. Mengingat redaksi tersebut dari Nabi SAW yang dalam kontek
ini memiliki tiga kesempurnaan: nasihat dan kemauan yang sempurna; kejelasan dan kefasihan yang sempurna dan ilmu pengetahuan yang sempurna. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah pertama bukan bid’ah tetapi disangka bid’ah, atau yang kedua bid’ah yang buruk tetapi tidak diketahui keburukannya. ( hal. 47 ).
Fenomena tersebut, tidak lepas dari munculnya pemikiran dalam Islam. Hal inilah yang mendorong kepada umat untuk memilih aliran yang tepat, sebagaimana yang dinajurkan Nabi SAW. Secara historis munculnya gerakan sunni adalah akibat adanya huru-hara politik yang memporak-porandakaan persatuan umat Islam. Pelopornya gerakan sunni adalah Hasan ibn Yasar Al Bashri yang kelak kemudian hari disebut dengan paham ahlussunnah wal jamaah. Ciri dari gerakan aswaja adalah penerapan kultur dalam berdakwah. Alasan yang melatarbelakangi pendekatan cultural dalam berdakwah adalah agama itu fitri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang dimilikinya ( hal. 71 ). Dari alasan tersebut lahirlah satu konsep yakni sikap tawasuth dan I’tidal, tasamuh, tawadzun, dan amar makruf nahi mungkar ( hal.72 ).
Untuk menghindari kesalahan dalam memilih pahamisme dalam beragama di masa kini adalah dengan mengikuti golongan mayoritas ( al-sawad al a’zham ) dan berpegang pada salah satu dari empat mazhab. ( hal. 104 ). Barang siapa yang senantiasa mengikuti ulama salaf maka dia termasuk orang yang berada pada jalur yang benar. Mengingat ulama salaf merupakan kelompok al-sawad al-azham sekaligus juga ahl al Haq. Hal ini senada hadis dengan yang diriwayatkan oleh HR Al Tirmidzi “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku kedalam kesesatan. Kekuasaan Allah berada pada jamaah. Barang siapa menyendiri, maka dia akan menyendiri hingga ke dalam api neraka”.
Bagi orang yang tidak memiliki keahlihan dalam berijtihaj memiliki kewajiban untuk bertaqlid sebagaimana yang ditegaskan dalam Al Quran surat al Nahl ayat 43” maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. Bertanya berarti taqlid kepada orang alim. Seorang yang bertaqlid diperkenankan untuk bertaqlid kepada imam yang lain dalam persoalan-persoalan tertentu. Tapi bagi para mujtahid, bertaqlid itu tidak boleh. Khusus bagi orang alim selama dia belum dapat mencapai tahapan mujtahid maka dia tetap berkewajiban untuk bertaqlid ( hal. 119 )
Untuk menghindari kesalahan memilih guru ketika belajar agama, Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Malik r.a yakni “ janganlah engkau belajar dari ahli bid’ah dan jangan pula engkau belajar dari orang yang tidak diketahui pencaharian ilmunya ( riwayat pendidikan ) dan juga dari orang – orang yang berdusta dalam perkataan manusia, meskipin ia tidak berdusta dalam hadist Rosulullah SAW” ( hal. 126 ). Alangkah berutungnya bagi manusia jika mereka memperoleh ilmu dari para sahabat nabi karena di kelak kemudian hari banyak orang berselisih lagi bercerai berai dan itu masa itulah pertanda kiamat akan semakin dekat. Banyaknya ulama yang diambil oleh Yang Maha Kuasa, merupakan indikator bila kemanfaatan ilmu yang ada di muka bumi mulai diambil secara pelan – pelan oleh Sang Maha Pemilik Ilmu.
Dalam Fath al Bari yang diriwayatkan dari Masruq dari Ibnu Mas’ud r.a yakni “ Tidak akan datang kepada kalian suatu zaman, kecuali zaman tersebut lebih buruk dari zaman sebelumnya. Ingat, sesungguhnya aku tidak menentukan seorang amir ( pejabat / pimpinan ) yang lebih baik dari amir yang lain; dan juga tidak menentukan tahun yang lebih baik dari tahun yang lain. Akan tetapi ulama dan fukoha kalian akan hilang ( wafat ), kemudian kalian tidak menemukan pengganti mereka. Setelah itu, akan dating suatu kaum yang member fatwa tentang permasalahan – permasalahan berdasarkan pikiran ( rasio ) mereka sehingga merusak dan merobohkan Islam” ( hal. 140 ).
Pudarnya amaliah ajaran Islam memberikan peluang kepada budaya di luar Islam semakin berkibar. Akibatnya Islam itu menjadi asing bagi pemeluknya. Fenomena negative ini kian hari semakin membuih dan harus segera diantisipasi. Namun sayang, sebagian dari umat Islam itu sendirilah yang menyebab ajaran Islam semakin pudar seirama maraknya gerakan pemurnian agama yang dilakukan oleh kelompok – kelompok tertentu.
Marilah kokohkan langkah – langkah kita agar gerakan kekerasan atas mana agama tidak lagi muncul di negeri ini karena itu akan merusak nama baik agama itu sendiri.
Penulis :
Abdul Basyid Tralala
Anggota LAKPESDAM MWC NU kec. Kaliwungu Selatan – Kendal.