Oleh : Muhammad Danial Royyan
Ibu Pertiwi merupakan personifikasi atau perwujudan tanah air Indonesia. Orang-orang terdahulu di kepulauan Nusantara dari berbagai suku sudah menghormati bumi tempat kelahiran mereka dan mengibaratkannya sebagai ibu yang memberikan kehidupan kepada anaknya. Kemudian kita sebagai penduduk negeri ini mengibaratkan tanah air Indonesia dengan nama Ibu Pertiwi, karena kita lahir dan besar daripadanya. Kita telah mengkonsumsi produk-produk yang dieksploitasi dari perutnya, baik makanan atau minuman atau bahan pakaian dan bangunan rumah tempat kita. Kita menjadi bangsa yang besar karena hidup di atasnya.
Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan bertema patriotik, seperti lagu "Ibu Pertiwi" dan "Indonesia Pusaka". Dalam lagu kebangsaan "Indonesia Raya", lirik dalam bait "Jadi pandu ibuku", kata "ibu" di sini merujuk kepada Ibu Pertiwi. Meskipun Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan, perwujudan fisik dan citranya jarang ditampilkan di media massa Indonesia.
Lirik lagu ini adalah sebagai berikut :
Kulihat ibu pertiwi Sedang bersusah hati Air matanya berlinang Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan Simpanan kekayaan Kini ibu sedang susah Merintih dan berdoa
Kulihat ibu pertiwi Kami datang berbakti Lihatlah putra-putrimu Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta Putramu yang setia Menjaga harta pusaka Untuk nusa dan bangsa
Oleh karena itu, kita harus membela negara kita sebagai ibu kita seperti kita membela diri kita sendiri dan orangtua kita. Kita harus marah kalau ada orang atau kelompok orang yang ingin memecahbelah Negara Kedatuan Republik Indobesia (NKRI). Bahkan kecintaan dan pembelaan terhadap tanah air, bagi warga NU, dianggap sebagai bagian dari iman, sebagaimana lagu mahakarya KH. Wahab Hasbullah, pendiri NU, yang selalu disenandungkan oleh nahdliyyin sebagai berikut :
??? ????????? ??? ????????? ??? ????????? ????? ???????? ???? ??????????? ????? ?????? ???? ??????????? ??????????? ?????? ???????? ??????????????? ????????? ?????? ????????? ??????????? ????? ???? ?????????? ??????? ???????? ?????? ????????
“Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku Siapa datang mengancammu ‘Kan binasa di bawah durimu!”
Pada lambang NU ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat kesatuan Indonesia. Kalau tali itu terlepas, maka Indonesia akan terpecahbelah. Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat dan harga diri. Para pendahulu telah memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, dan itu adalah perjuangan merebut harga diri. Mereka dahulu telah mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan itu adalah perjuangan mempertahankan harga diri. Dan kita harus memperjuangkan cita-cita proklamasi karena itu adalah perjuangan membela martabat kemanusiaan, membela agama dan membela negara sekaligus.
Jika Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah ibu kita. Lalu siapa Bapak kita?. Adakah kita ini anak beribu tanpa Bapak? Secara logika, jika ibu kita adalah yang melahirkan kita atau tempat kita lahir, makan, minum dan hidup berbangsa dan bernegara, maka bapak kita adalah yang membimbing kita, mendidik kita, mengarahkan kita, mengenalkan kita kepada Tuhan kita dan mengajari kita bagaimana cara menyembah-Nya dan bagaimana cara menata kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan yang demikian itu adalah agama kita, ideologi kita dan keyakinan kita. Dan dia adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja), Islam moderat yang bersifat Rahmatan Lil-Alamin, Islam yang bersinergi dengan Pancasila dan Undang- undang negara. Islam aswaja yang dicetuskan oleh NU adalah ideologi Islam moderat yang mengakomodir budaya. Aswaja NU berakar pada jalur keilmuan dan keulamaan yang mengambil “jalan tengah” atau tidak terpaku pada satu aliran madzhab, maka dengan demikian NU mampu mengakomodir budaya yang bersifat lokal atau nasional yang sejalan dengan ajaran agama Islam. Pemikiran bahwa "Islam Aswaja adalah Bapak Kita" ternyata sesuai dan merujuk.kepada pemikiran Syaikh Al-Azhar bernama Syaikh Ahmad Ali Jarjawi yang tertuang dalam kitabnya yang berjudul "Hikmatut Tasyri' Wa Falsafatuhu" yang berbunyi sebagai berikut :
???? ?????? ?????? ???? ????? ???? ???? ???????? ???? ?????? ??????? ???? ?? ???? ?? ??? ?????? ?????? ? ???? ??????? ? ???
Allah Subhanahu WaTa'ala berfirman dan firman-Nya adalah kebenaran : "Sesungguhnya orang-orang mulmin itu bersaudara". Maka bapak kita adalah Islam yang diperankan dalam pribadi pemimpin yang adil (Hikmatut Tasyri', halaman 240).
Dalam pandangan NU budaya harus diarahkan untuk sesuai dengan ajaran agama Islam bukan sebaliknya. Dan NU sebagai rumah besar telah memiliki rumusan Aswaja yang baku yang tetap welcome terhadap budaya yang positif untuk kemudian dengan budaya tersebut kita dapat membudayakan agama, bukan mengamakan budaya. Islam yang kita anut di bumi nusantara bisa mengakomodir tradisi dan budaya Nusantara, sehingga dia bertitel "Islam Nusantara". Kita wajib membela faham Ahlussunah wal Jama’ah ala NU yang akhir-akhir ini mendapat rongrongan dari berbagai kelompok Islam Radikal. Ubudiyah warga Nahdliyin diserang secara psikis, mulai caci maki, hujatan, pengkafiran, bahkan mulai ada serangan secara fisik, seperti yang terjadi di beberapa daerah. Kita juga harus meneguhkan komitmen keaswajaan ala NU untuk menggugah semangat berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita juga harus menjaga wilayah yang rawan konflik sebagai akibat dari upaya kelompok-kelompok anti NKRI dan anti kemajemukan yang ingin menunjukkan eksistensinya.
Isi tulisan ini telah penulis ceramahkan dan tausiyahkan dalam berbagai forum di lingkungan NU dalam rangka menyambut hari kelahiran NU ke-94. Semoga bermanfaat. Amien.