PENGARANG KITAB ALFIYAH : IBNU MALIK VS IBNU MU’THI
(YUNIOR VS SENIOR – MURID VS GURU)
muhammad umar said
(Kisah ini sangat menarik untuk dibaca, dan mengingatkan kepada kita sebagai murid/yunior untuk senantiasa menghormati dan menghargai jasa seorang guru atau senior kita. Betapa pun, mungkin kita lebih pandai, lebih hebat dan lebih sukses dibanding guru/senior kita. Perlu diingat…! guru atau senior kita, beliau adalah orang yang memulai, merintis dan begitu besar ilmu dan jasa yang diberikan kepada kita. Kita–yang hidup sesudah-nya telah mendapat ilmu/bekal dari-nya, dan tinggal meneruskannya).
Bagi orang yang pernah belajar di pesantren sudah tidak asing lagi dengan Kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sebuah kitab monumental yang memuat Qawaid al- Lughat al-Arabiyyah (Tata Bahasa Arab) terutama Nahwu Shorof. Kitab yang digandrungi di lingkungan pesantren, bahkan telah menjadi referensi/rujukan utama Perguruan–Perguruan Tinggi Tersohor di dunia terutama dalam bidang ilmu Nahwu Shorof.
Adalah Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin Malik, Pengarang kitab Alfiyah. Seorang ulama besar dan ternama yang lahir di kota Jayyan Andalusia (kini termasuk wilayah Spanyol).
Tetapi tahukah Anda? Dibalik kesuksesan Alfiyah Ibnu Malik sebagai mahakarya dalam bidang ilmu Tata Bahasa Arab, ternyata ada kisah yang menghebohkan dan sangat menarik untuk disimak–yang mengiringi kehadiran kitab tersebut. Kisah ini mengandung hikmah dan manfaat yang luar biasa bagi Generasi masa kini dan yang akan datang.
Pada suatu hari, Syaikh Jamaluddin Muhammad (sang Pengarang Alfiyah) hendak membuat pendahuluan (muqaddimah) terhadap kitab Alfiyahnya. Dengan talenta dan keahliannya beliau merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga kemudian menjadi bait-bait muqoddimah kitab Alfiyahnya. Namun entah mengapa ketika muqoddimah-nya sampai pada bait:
? ?????? ???? ?? ????? *** ????? ????? ??? ?????
Dan aku memohon kepada Allah dalam (menyusun) Alfiyah, bisa mencakup semua tujuan Ilmu Nahwu
???? ?????? ???? ????***? ???? ????? ???? ????
Mendekatkan yang jauh dengan lafadz yang ringkas,
? ????? ??? ???? ??? *** ????? ????? ??? ???
Yang menuntut keridloan tanpa kebencian, Yang mengungguli Alfiyahnya Ibnu Mu'thi
????? ??? ???? ??????..............?
Yang mengungguli dengan seribu bait, .......................
Tiba-tiba, jlebbb. Beliau merasa ngeblank. Pikirannya seperti buntu dan kosong untuk meneruskan potongan bait (????? ??? ???? ???) tersebut. Ia merasa kesulitan untuk menyempurnakan bait yang secara tidak langsung di dalam hatinya tersirat “sesuatu hal” yang sifatnya mengunggulkan Alfiyah karyanya sendiri dibanding Alfiyah karya Ibnu Mu’thi, sehingga ada sebab yang tidak beliau ketahui tiba-tiba pikiran menjadi buntu tidak bisa berfikir.
Dan saat beliau tidur, tiba-tiba beliau bermimpi bertemu dengan sosok laki-laki tua yang berwibawa, namun laki-laki itu tidak ia kenali. Beliau mengatakan pada laki-laki tua itu, “aku penadzom alfiyah”. Kemudian laki-laki tua itu memintanya memperdengarkan alfiyah tersebut. Lantas Syeikh Jamaludin pun membacakan bait-bait alfiyahnya.
Namun ketika bacaannya sampai pada bait (????? ??? ???? ???) beliau mendadak merasakan kebingungan luar biasa, sehingga beliau tidak bisa melanjutkan menyusun bait berikutnya. Selanjutnya
Laki-laki tua berkata, “Ayo lanjutkan!”. Namun Syeikh Jamaludin tidak bisa melanjutkannya. Maka laki-laki tua itu pun menawarkan dirinya untuk melanjutkan bait Alfiyah tersebut. Dan Syeikh Jamaludin mempersilakannya. Kemudian laki-laki tua melanjutkan dengan bait yang berisi semacam sindiran :
????? ??? ???? ??? *** ? ???? ?? ???? ??? ???
Yang mengunggulinya dengan seribu bait, Dan orang yang hidup terkadang menimpa seribu mayat
Bait di atas mengingatkan, “bahwa kita tidak boleh merendahkan keilmuan orang terdahulu yang sudah meninggal. Karena orang meninggal tidak bisa memberi pembelaan”.
Akhirnya, Syeikh Jamaluddin sadar bahwa laki-laki tua itu adalah Yahya Bin Mu’thi Az-Zawawi (Ibnu Mu’thi). Hingga akhirnya ia terbangun dari tidurnya. Dan langsung melanjutkan bait Alfiyahnya dengan menyusuli bait sebelumnya yang mengandung kesombongan. Ia melanjutkan dengan bait :
??? ???? ???? ?????? *** ?????? ????? ???????
Namun beliau memiliki keutamaan karena sebagai pendahulu, yang mesti mendapat sanjungan yang indah
? ???? ???? ????? ????? *** ?? ? ?? ?? ????? ??????
Semoga Allah memberi lumuran hibah derajat akhirat untukku dan untuknya.
Dari kisah di atas, hikmah yang dapat diambil adalah bahwa seorang guru atau senior atau orang yang pernah memimpin kita dalam jabatan tertentu, misalnya di lembaga, atau organisasi atau tim apa pun tetap harus kita hormati dan kita hargai ilmu serta jasa-jasanya, meskipun beliau sudah meninggal dunia. Jangan mentang-mentang guru/senior kita sudah tidak menjabat/memimpin, lantas kita ungkap kejelekan dan kekurangannya bahkan kita permalukan, padahal kita pernah diajari ilmu, pernah menjadi pengikutnya. Guru/senior harus dihormati sebagaimana layaknya. Karena dari guru/seniorlah kita pernah diajar, dipimpin, bahkan mungkin berkat wasilah atau rekomendasi guru/seniorlah kita menjadi pemimpin berikutnya.
Inilah pentingnya akhlak dan etika antara yang muda kepada yang lebih tua/senior, antara murid kepada gurunya, antara yang dipimpin kepada pemimpin. Dalam hal keilmuan boleh berbeda pendapat antara murid dengan guru/senior, akan tetapi etika dan moral harus tetap terjaga. Prinsip inilah yang harus dijaga dan dilestarikan oleh generasi yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah yang selalu mengedepankan ajaran leluhur, “Ngangkat dhuwur mendhem jero” terhadap orang yang lebih tua/senior. Kita ingat kata Bung Karno, “Jas Merah” (“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”). Sebagai santri/murid//yunior kita harus ingat juga kata Sayyidina Ali Karramallahu wajhahu yang begitu mengagungkan terhadap jasa seorang guru dengan mengatakan, “jika aku dikehendaki oleh guruku menjadi seorang budak, aku siap menjadi budak untuknya”.
Hal ini mengandung pengertian bahwa sebagai seorang murid/yunior harus siap jika diperintah oleh guru/seniornya untuk melaksanakan tugas kebaikan kapan pun. Loyalitas dan kerjasama seorang murid/yunior kepada guru/seniornya dalam sebuah institusi/organisasi/tim sangat penting demi tegaknya institusi/organisasi/tim tersebut. Akan tetapi jika dalam institusi/organisasi/tim sudah tidak ada loyalitas dan kerjasama yang solid antara murid/yunior kepada dan dengan guru/seniornya, maka institusi//organisasi/tim tersebut akan lemah dan rapuh, yang ujung-ujungnya akan mengalami kemunduran bahkan kehancuran. Naudzubillah.