Belajar Kepada Guru Bangsa

Judul Buku                   : “ PECI MIRNG ” Novel Biografi Gus Dur

Pengarang                    :  Aguk Irawan M N

Penerbit                       : PT Kaurama Buana Antara, Banten

Tahun Terbit               : 2015

Cetakan                        : Pertama, September 2015

Jumlah Halaman        : 404 halaman

Ukuran                        : 13,5 x 20,5 cm

ISBN                            : 978-602-72793-1-5

Harga                           : Rp. 70.000,-

                                      

             Buku ini mengangkat biografi sederhana Gus Dur yang dikemas dalam bentuk novel. Buku yang mengisahkan perjalanan hidup Gus Dur sejak  dalam kandungan hingga tumbuh menjadi pria dewasa yang melalang buana hingga ke benua biru. Dipilihnya judul “Peci Miring”  oleh pengarang bukan bermaksud untuk mengecilkan seorang ulama dan tokoh besar  di negeri  tapi lebih pada unsur tarbiyah  kepada generasi nahdliyin pada khusus dan generasi muda bangsa pada umumnya.  

             Peci merupakan indentitas muslim nusantara. Sedangkan berpeci miring ciri adalah dari kaum sarungan yang ikhlas, sabar, dan selalu mengedepankan ridlo Allah dalam berkarya kepada bangsa, negara dan agama.

              Harapan dikemasnya biografi Gus Dur ini dalam bentuk novel adalah mengajak kepada para pembaca untuk menjadi bagian dari cerita tersebut. Selain itu, juga untuk menghindari kesan menggurui sebagaimana buku – buku sebelumnya yang membicarakan tentang Gus Dur seperti Biografi Gus Dur karya Greg Burton, Menyusuri Dunia Spiritual Gus Dur karya Hendri Raharjo, atau 99 Keistimewaan Gus Dur karya KH. A. Nur Alam Bakhir.

Latar belakang penulis sebagai novelis  juga menjadikan daya tarik tersendiri dalam  menuturkan perjalan hidup beliau. Penyisipan pilihan kata bahasa jawa dalam dialog  dalam novel tersebut dapat membawa pembaca ke dalam tradisi pesantren, dan menjadikan novel ini mudah dipahami. Kejenakaan, nilai edukasi dan pendewasaan berpikir yang merupakan ciri dari pribadi Gus Dur juga disisipkan sela- sela cerita, misal ketika Ad-Dakhil mengajak dua santri untuk ziarah kubur pada malam hari. Dalam perjalan tersebut kedua ketakutan karena tempat yang dilaluinya menyeramkan. Oleh Ad-Dakhil, kedua santri disarankan membaca doa mau makan, agar si setan pergi karena takut dimakan oleh santri tersebut ( hal. 238 ).

Untuk meminimalisir kesan kefiksian buku ini, pengarang banyak melakukan konsultasi sekaligus mohon bimbingan kepada  orang – orang terdekat Gus Dur, seperti Ibu Nyai Sinta Nuriyah dan keluarga besarnya, KH. Mustofa Bisri, KH. Mahfudz Ridwan, KH. Husein Muhammad, Dr. Zastrouw Al-Ngatawi, Mas Andi Muawiyah Ramly, serta Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur. Hal ini dapat dilihat dari catatan tulisan tangan Wakhid Hasyim yakni “  Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakis pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkat derajat yang tinggi. Semakin keras kemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.

Jangan remehkan siasat sesuatu yang ( tampak ) lemah. Terkadang, ular ganas mati oleh kalajengking. Ternyata burung Hud-hud sanggup menumbangkan singgasana Ratu Bilqis, dan lubang tikus mampu merobohkan bangunan kokoh “  ( hal. 108-109 ).

Terpenting dari novel ini adalah pertama semangat Gus Dur  untuk membaca buku. Beliau tidak membatasi jenis buku yang dibacanya. Selagi baku itu belum dibacanya, buku itu tetap baru baginya. Maka sangatlah wajar bila Ad-Dakhil banyak memanfaatkan waktu senggangnya pergi ke perpustakaan sebagaiman ketika belajar di Mesir, Irak, atau di Eropa.

Kedua kemampuan berbahasa.  Gus Dur kecil oleh orang tuanya dileskan bahasa Ingris. Dia juga mengusai bahasa Arab sebagai ciri dari kaum santri. Selain itu beliau juga mampu berbahasa Jerman, Belanda, Perancis dan Rusia.

Kesimpulan akhir dari novel Peci Miring adalah hari ini adalah anugrah maka manfaatkan waktu yang dimilikinya untuk menempa diri, mengasah kemampuan salah satunya dengan membaca dan bekerja. Jangan pernah ada kata untuk berhenti belajar.

Sedang kemarin adalah sejarah. Putus asa bukan solusi. Takdir kadang memang tidak berpihak kepada kita. Ketika Gus Dur kecil tidak naik kelas justru itu awal dari kembalinya fitrah Gus Dur sebagai keluarga pesantren. Dia rela berpisah dengan ibunya untuk belajar di Krapyak Jogyakarta, Tegalrejo-Magelang, dan Tambak Beras-Jombang. Lalu masa depan adalah misteri.

Orang tidak dapat memastikan satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun ke depan. Yang dapat dilakukan seseoarang adalah menyiapkan dirinya untuk siap. Siap untuk menjadi pimpinan, siap untuk membimbing umat, serta siap untuk menerima panggilaan Yang Maha Kuasa. (Abdul Basyid, Pengurus Lakpesdam MWC NU Kaliwungu Selatan-Kendal)

Advertisement

Press ESC to close