Kekhasan Bahasa Orang Kendal dan Secercah Keakraban


Oleh: M. Azka Ulin Nuha

Usai dari sekolah menengah acapkali menjadi gerbang menuju keputusan dilema besar. Banyak anak muda Indonesia memilih—atau bahkan ditakdirkan— untuk meninggalkan kampung halaman, menjalani kuliah, kerja, atau mondok. Sebagai orang Kendal yang kini berkuliah di UIN Solo dan mondok di Boyolali, menyadari bahwa merantau tidak hanya tentang perpindahan hidup, tetapi juga tentang bertemu dengan pengalaman unik yang justru menjadi tonggak awal menjalin keakraban dengan orang baru.

Cerita berawal dari hal sepele, yakni bahasa. Tahukah, ternyata kata-kata yang kita anggap biasa dapat menjadi bermakna lain di daerah orang dan justru di situlah peluang kebersamaan mulai disulam. Mula-mula tiba di Pondok Ngeboran, saya langsung terkesan dengan kebersihannya. Halaman hingga sudut-sudutnya rapi, membuat lebih mantap memutuskan untuk tinggal di sana. Namun, di awal-awal singgah, sebuah percakapan sederhana justru melontarkan pembelajaran tak terduga tentang kekhasan bahasa yang malah membuka pintu keakraban.

Seorang santri bertanya, “Sampean kuliahe di UIN, mas?” Saya pun menjawab santai, “Iyo, ra.” Bukan anggukan yang saya dapati, justru tatapan bingung dan membuat garuk-garuk kepala. Ternyata, di sana, kata “ra” secara umum diartikan dengan “tidak”. Jadi, “Iyo, ra” terdengar seperti “Iya atau tidak?”— sebuah pertanyaan yang terkesan tidak serius atau bahkan malah beranotasi menghina. Padahal, sebagai orang Kendal, “Iyo, ra” itu hampir sama dengan “Iya, dong!"

Ironisnya, kesalahpahaman itu justru menjadi bahan obrolan yang mencairkan suasana. Seorang santri yang awalnya bingung lalu penasaran, meminta untuk menjelaskan makna kata "ra" dalam dialek tersebut. Dari satu kesalahan kecil, muncul diskusi ringan tentang asal-usul kami, kebiasaan bicara, hingga cerita lucu masing-masing daerah. Bukannya dijauhi, saya justru diajak lebih banyak ngobrol— karena mereka merasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang “logat Kendal” saya.

Tak hanya itu, saat makan bersama di dapur pondok, saya tanpa sengaja mengucap, “Duh, pedes meni!” Seketika, teman-teman santri tertawa menggelora. “Meni opo kui?” tanya mereka. Ternyata, kata “meni” yang bagi saya berarti “banget” (seperti “pedas banget”), adalah keunikan bahasa Kendal yang tidak umum didengar di khalayak Solo Raya.

Tawa yang pecah saat itu tidak terasa mengejek, justru bersifat merangkul. Mereka jadi ingin mengajarkan kata-kata khas Solo, dan saya pun membalas dengan kosakata khas Kendal. Makan dan dapur yang awalnya tempat biasa menjadi ruang berbagi cerita dan tawa. Dari sini, saya belajar, bahwa kekhasan bahasa daerah bisa menjadi jembatan keakraban, bukan penghalang, selama disikapi dengan lapang dan rasa ingin tahu.

Dalam kajian bahasa, kata seperti “ra” dan “meni” termasuk partikel bahasa— kata yang maknanya baru jelas ketika menyertai kata yang lain. Partikel memiliki makna gramatikal, bukan leksikal. Menurut Dinda dan Agusniar (2022), partikel adalah kelas kata tertutup yang tidak berubah bentuk, namun maknanya sangat tergantung konteks, intonasi, dan situasi. Contoh dalam bahasa Indonesia "dong, kan, kek, dan kok."

Nah, dalam bahasa Jawa misalnya, variasi dialek ini memperkaya komunikasi. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (2008) mengelompokkan dialek Jawa Tengah menjadi lima: Semarsuradupati, Pekalongan, Wonosobo, Banyumas, dan Tegal. Entah, Kendal sendiri termasuk dalam dialek yang mana, seperti penggunaan partikel “ra” dan “meni”.

Penelitian Menik Lestari dan Sri Munawarah (2022), menunjukkan bahwa Kendal memang tidak memiliki dialek sendiri yang terpisah, melainkan hanya variasi wicara dengan kata-kata khas. Jadi, apa yang saya alami adalah bentuk benturan variasi linguistik dalam satu dialek besar. Keunikan kecil itu menjadi bumbu dalam pengalaman merantau— dan lebih dari itu, menjadi tonggak menjalin keakraban.

Dari “Iyo, ra” yang dikira ajakan ribut, hingga “meni” yang membuat satu sirkuit makan tergelak, bisa diambil pelajaran bahwa merantau mengajarkan kita bahwa keintiman itu justru sering lahir dari kerentanan. Saat kita tidak takut terlihat kikuk, justru akan membuka ruang untuk diterima apa adanya.

Tak pelak, rasa malu yang awalnya muncul justru berubah menjadi ikatan. Orang-orang mulai mengingat kita lewat keunikan cara bicara kita, dan mereka merasa lebih dekat karena telah melewati momen guyonan bersama. Bukankah persaudaraan kerap dimulai dari cerita-cerita sepele yang bisa ditertawakan bersama?

Jadi, kalau sedang merantau dan mengalami hal serupa, jangan malu atau menutup diri. Kekhasan bahasa bisa jadi pintu masuk untuk berkenalan, dan perbedaan dialek merupakan salah satu bahan percakapan yang hangat. Hidup di tanah orang memang kerap dimulai dengan kekikukan, tetapi di situlah akan mengalami sedikit kebingungan, banyak hikmah, dan sisanya dinikmati dan ditertawakan bersama hingga integritas bangsa dapat direalisasikan.

Penulis adalah mahasiswa UIN Raden Mas Said, Surakarta. Berkelindan di Prodi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia.

Advertisement

Press ESC to close