
Di tengah gencarnya propaganda iming-iming bidadari surga bagi anak muda yang siap 'berjihad mati syahid', adanya kelompok yang sering disebut "pengkapling surga" karena merasa paling benar sendiri dan sering mengkafir-kafirkan yang lain, kini muncul suatu gerakan yang menolak surga.
Surga bagi sebagian orang menjadi magnet beribadah. Surga digambarkan sebuah tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Banyak orang ingin masuk surga karena takut siksaan di neraka. Ada juga yang termotivasi beribadah karena mengejar pahala sampai kurang peduli sekitarnya. Bahkan ada yang mengklaim amar ma'ruf nahi mungkar tapi justru menggunakan cara-cara kekerasan. Sehingga tak heran jika ada yang mengatakan mengajak beragama kok seperti menjadi makelar. Maka jangan heran jika kemudian yang diajak juga bergaya seperti pedagang yang memperhitungkan untung rugi. Dirinya menganggap karena sudah rajin beribadah maka sebagai imbalannya harus masuk surga.
Gerakan menolak surga dapat dikatakan aneh karena kebanyakan orang ingin masuk surga. Gerakan yang menamakan dirinya Ajaran Spiritual Nusantara Islam Pancasila itu membagikan sebuah video yang dibagikan akun @Lone_Liynx_ pada Jum'at 20/09/2024 dan dapat diakses melalui https://www.facebook.com/reel/907520134654529.
Isi unggahan tersebut antara lain, "...Kalau yang lain rebutan untuk masuk surga, mengklaim surga hanya miliknya maka Ajaran Spiritual Nusantara Islam Pancasila melaksanakan gerakan menolak masuk surga. Untuk apa? Supaya tidak ada pamrih berbuat baik, hanya memohon ridho Tuhan Yang Maha Esa, bukan karena surga dan bukan karena takut neraka. Berbuat baik tulus atas nama Tuhan Yang Maha Esa".
Mazhab Cinta
Gerakan Ajaran Spiritual Nusantara Islam Pancasila ini mengingatkan kita akan sosok Rabiah Adawiyah dan Abunawas. Menukil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Rabi'ah_al-Adawiyyah , Rabiah Adawiyah bernama asli Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Rabi’ah lahir di Basrah (sekarang wilayah Irak) antara tahun 713-717 M pada masa dinasti Umayyah. Rabi’ah dikenal sebagai sufi wanita peletak dasar mazhab cinta yang beraliran Sunni.
Pada suatu waktu Rabi'ah pernah berkata, "Ya Illahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena berharap akan masuk surga, maka haramkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku beribadah kepada Engkau karena semata-mata karena kecintaanku kepada-Mu, maka janganlah, Ya Illahi, Engkau haramkan aku melihat keindahan-Mu yang azali."
Rabi'ah Adawiyah melakukan sholat secara khusuk dan isitqomah tanpa didasari harapan imbalan surga. Hal inilah yang mendorong Rabi'ah ingin membakar surga dan memadamkan api neraka.
Mazhab Cinta Rabi'ah ini bukan hanya menggemparkan masyarakat sekitarnya, namun mampu menarik perhatian dunia barat. Rabi'ah mendapat julukan "The Mother of Grand Master" atau Ibu Para Sufi Besar karena kezuhudannya. Banyak sufi yang terinspirasi dengan ajaran Mazhab Cinta Rabi'ah antara lain Ibnu al-Faridh dan Dhun Nun al-Misri. Ilmuwan Eropa juga banyak yang meneliti pemikiran Rabi'ah dan menulis riwayat hidupnya seperti Margareth Smith, Masignon, dan Nicholoson.
Rayuan Abunawas
Abunawas yang memiliki nama asli Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami (756-814) atau Abu Nuwas (Bahasa Arab) adalah sufi dan pujangga sastra Arab klasik. Ia pernah menciptakan syair yang berisi rayuan kepada Tuhan untuk mohon ampunan yang kemudian dikenal dengan I'tirof.
Meski I'tirof bukan sholawat namun amat populer termasuk di Indonesia. I'tirof sering dilantunkan di berbagai masjid dan mushola setelah azan menjelang sholat 5 (lima) waktu. Bahkan banyak masjid yang "wajib" melantunkan i'tirof ini setelah Sholat Jum'at.
Berdasarkan informasi dari https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-6401715/kisah-abu-nawas-saat-buat-syair-rayuan-untuk-tuhan, Abu Nawas lahir di Provinsi Ahwaz, Khuzistan di sebelah barat daya Persia, sekitar tahun 757 M.
Dalam i'tirof ABunawas menyatakan dirinya tidak pantas menjadi ahli surga (Firdaus) namun dirinya tidak kuat menahan panasnya api neraka. Berikut syair i'tirof:
Ilahi lastu lil firdausi ahla, Wala aqwa ala naril jahimi, Fahab li taubatan waghfir dzunubi, Fainnaka ghafirudz dzambil adzimi.
Artinya : Tuhanku, tidaklah pantas hamba menjadi penghuni surga, namun hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka, maka beri hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Agung.
Syair ini masih ada terusannya sebagaimana yang ditemukan oleh Imam Syafi'i di saku baju Abunawas saat wafat. Imam Syafi'i yang pada mulanya tidak mau mensholati jenazahnya. Imam Syafi'i salah menilai karena syair-syair Abunawas sebelumnya sering dianggap kontroversial. Namun, berkat syair i'tirof akhirnya Imam Syafi'i menjadi menangis dan berkenan mensholati jenazah Abunawas ( https://mamira.id/bulir-bulir-bening-zikir-sang-pemabuk-dan-tetas-air-mata-sang-imam/ ).
Nabi Muhammad Pernah Menolak Surga
Dalam beberapa cuplikan video di media sosial, KH. Bahaudin Nur Salam atau Gus Baha mengatakan bahwa keliru bila ada yang meyakini jika amal ibadah di dunia, seperti sholat, zakat, dan puasa bisa menjamin seseorang menjadi penghuni surga.
"Amal ibadah kita itu nggak meyakinkan, yang meyakinkan itu adalah syafaatnya kanjeng Nabi Muhammad," kata Gus Baha.
Dalam Kitab Asy-Syafaah ada satu kisah dimana Nabi Muhammad pernah menolak masuk surga (https://www.liputan6.com/islami/read/5410194/kisah-mengharukan-saat-nabi-muhamad-saw-menolak-masuk-surga). Diceritakan, Allah SWT memerintahkan semua nabi untuk masuk surga dan menduduki kursi-kursi yang telah disediakan.
Setelah semua nabi masuk, Allah melihat masih ada satu kursi yang kosong. Kursi itu adalah kursi untuk Nabi Muhammad SAW. Allah pun bertanya kepada Nabi Muhammad kenapa dia belum mau masuk ke surga.
"Ya Allah, jika aku masuk, maka pintu-pintu surga akan ditutup. Nanti ummatku tidak bisa masuk," jawab Nabi. Begitulah rasa cinta Nabi Muhammad kepada umatnya.
Gus Baha juga menceritakan dialog antara Tuhan dan seorang penghuni surga. Tuhan bertanya kepadanya. "Kenapa kamu bisa masuk surga?”,
“Saya masuk surga karena selama 500 tahun usia saya, tak pernah bermaksiat dan selalu rajin beribadah”.
Mendengar jawaban itu, Tuhan berkata: "Kalau kamu masuk surga berdasarkan amalmu, maka kamu 500 tahun saja di surga".
"Ya Allah, bukankah surgamu kekal abadi selamanya?,"
"Yang selamanya itu rahmatku. Kalau amal kamu terbatas, maka surganya juga terbatas sesuai lamanya amal ibadahmu".
Masuk surga atau neraka itu menjadi misteri dan rahasia Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa mengharap ridho dan rahmat-Nya semata. Jadi kurang pantas jika manusia mengkapling-kapling surga hanya untuk yang sudah dianggap berbuat baik saja sementara ampunan Allah masih amat luas. Yang baik bisa menjadi buruk karena tersesat. Yang buruk bisa menjadi baik karena mendapat hidayah.
Ada kisah tentang seorang ulama yang tiba-tiba menangis saat ditanya seorang pemuda yang dianggap berandal.
“Apakah saya bisa berubah menjadi baik?”
“Tentu sangat bisa anak muda,” jawab ulama itu dengan mantapnya.
“Apakah Tuan juga bisa berubah menjadi seperti saya saat ini?” kata pemuda itu polos.
Mendengar pertanyaan pemuda tersebut justru membuat ulama tersebut menangis dan berterimakasih karena mengingatkan bahwa Allah-lah yang Maha Berkehendak dan Berkuasa atas segala sesuatu. Jangankan bermimpi masuk surga, kita juga tak akan pernah tahu apakah mencapai akhir hidup baik (husnul khotimah) atau tidak.