NUKO: Tantangan Media, Budaya, dan Kaum Muda


Oleh: Muhammad Kridaanto

Perkembangan industri dari awal ditemukannya mesin uap oleh James Watt sampai pada revolusi industri 4.0 dengan lahirnya internet berlangsung begitu cepat. Mungkin tak seorang pun di abad ke-19 yang membayangkan bahwa peralihan ke dunia digital dapat terjadi dengan begitu terstuktur, masif, dan sistematis seperti sekarang ini. Perkembangan ini pun tak hanya di negara maju, tetapi merambah sampai kota dan merangsek pelosok-pelosok desa di sekitar kita. Tak ayal lagi, hal ini terpotret dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per 31 Januari 2024 mengungkap pengguna internet Indonesia mencapai 221 juta orang (https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-orang). Bukan angka yang kecil jika kita dibandingkan dengan sekitar 278 juta jiwa penduduk Indonesia di tahun 2023.

Dunia digital yang diakses melalui internet tentu saja membawa konsekuensi pada berbagai perubahan. Mulai dari cara individu mencari informasi, efektivitas dan efisiensi dalam pekerjaan, interaksi dan komunikasi bahkan sampai pada kemudahan mobilitas fisik yang ditunjang melalui beragam platform digital.

Kaum Muda dan Budaya

Secara demografi, penduduk Indonesia yang berusia 16-30 tahun berada pada kisaran angka 64,16 juta jiwa (data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2023, Badan Statistik Nasional). Menurut data APJII, hampir lima puluh persen (47,64%) pengguna internet merupakan penduduk dengan usia 25-49 tahun. Sementara itu, sebesar 14,69 persen pengguna internet yang berusia 19-24 tahun.

Dari data di atas, komposisi kelompok produktif di negara kita sedang berada di struktur piramida yang paling gemuk dan merupakan pengguna layanan internet. Meminjam istilah dari ahli teori komunikasi Marshall McLuhan, internet membentuk dunia menjadi sebuah global village atau ruang global yang terhubung melalui media digital. Dengan implikasi bahwa setiap orang di dunia dapat terhubung dan berbagi informasi, pengalaman, bahkan budaya walau secara fisik tidak dekat. Inilah yang menjadikan arus informasi bersifat global, dialektis, dan saling mempengaruhi.

Bagi generasi milenial (generasi yang lahir pada 1981-1996) angkatan saya, membaca ensiklopedia di perpustakaan atau sekolah menjadi cara terbaik mencari pengetahuan secara bebas dan luas. Koleksi kamus besar dan kamus terjemah dari beragam bahasa menjadi kebutuhan untuk mengerti dan memahami sebanyak mungkin informasi. Hal ini jauh berbeda pada era sekarang, seorang pelajar tak hanya mempunyai pilihan untuk menggendong beban buku di tas punggungnya. Melalui telpon pintar, buku dan kamus dapat diakses dengan mudah melalui website atau aplikasi dan menjadi e-book yang sangat simpel untuk dibaca kapanpun dan dimanapun.

Kemajuan teknologi memaksa kita memikirkan kembali pendekatan pada anak muda dan menangkap realitas baru baik secara sosial maupun cara berpikir. Seorang peneliti Khoirin Nida (2020: 46-55) dari Institut Agama Islam Negeri Kudus di Jurnal Sosial Budaya UIN Suska Riau mengungkap kemajuan teknologi dan smartphone menyebabkan pergeseran sikap generasi muda menjadi lebih individualis. Interaksi sosial pun kian berubah. Individu menjadi teralienasi dari dampak sentuhan teknologi yang begitu masif ini.

NUKO: Ruang Inspiratif Kaum Muda

Beragam konten dalam dunia digital baik website maupun media sosial banyak menyasar ke anak muda ataupun kelompok produktif karena persentase kuantitas segmen ini yang paling banyak. Nahdlatul Ulama Kendal Online (NUKO) merupakan badan khusus dan media dakwah resmi di bawah PCNU Kabupaten Kendal dalam ranah digital. Visi dan misi dalam menyuarakan khazanah keislaman Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah serta sebagai media dakwah Digital Islam Rahmatan lil’aalamiin di Kabupaten Kendal.

Dengan melihat karakter generasi zaman now yang cenderung individualis, ditambah belum berkesempatan mengenal pondok pesantren, agar tidak salah jalan dalam memilih guru yang bersanad hingga Rasulullah SAW maka keberadaan media yang menjadi corong dakwah di lingkungan NU jelas sekali urgensinya. Hal ini sebagai upaya memperkokoh pemahaman Islam ala Ahlus Sunnah wal Jamaah di kalangan generasi muda.

Pada hari Sabtu tanggal 30 Maret 2024, bertepatan dengan Hari Lahir (Harlah) NUKO ke-5 yang digelar di Gedung Aswaja lantai 2 PCNU Kabupaten Kendal. Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kendal KH Mokh. Mustamsikin berpesan agar NUKO dapat menjadi rumah maya bersama semua pengurus NU, lembaga maupun Banom. Kiai Mustamsikin juga mengutip firman Allah SWT dalam An-Nahl Ayat 125, sebuah perintah untuk mengajak (menyeru) manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pengajaran yang baik.

NUKO menjadi saluran/media pengurus melalui untuk membagikan ide, nilai, dan pesan dari sebuah kegiatan. Karena melalui rumah maya bersama ini, kita dapat mengisi dan memperindah melalui beragam informasi kegiatan, hasil kajian, ide gagasan, dan produk jurnalistik reflektif lainnya.

Menangkap Realitas Kontemporer

Kaum muda dalam masa proses pencarian jati diri dan pembelajaran harus dijembatani melalui konten-konten positif dan menarik baik melalui medsos maupun website, lewat tulisan maupun visual. Saya rasa di sini peran NUKO untuk menjadi tempat berselancar di dunia digital yang positif dalam memberi oase di tengah arus banjir informasi.

Representasi badan otonom (banom) kepelajaran dan kepemudaan seperti IPNU, IPPNU, Ansor dan Fatayat siapkah merapat dakwah bersama NUKO? Menjadikan ruang digital yang konstruktif untuk dirawat menjadi cakrawala dan gerakan ide serta menjadi jaringan informasi masyarakat yang meluas. Pembaruan-pembaruan yang telah dilakukan oleh NUKO dengan kajian yang lebih luas dan podcast-podcast terstruktur dan kekinian.

Menilik podcast di channel youtube maupun sosial media Habib Husein Ja’far Al Hadar dengan program “Login” adalah cara beliau menyampaikan topik agama dengan santai dan sederhana tetapi berbobot, sangat relevan, dan cenderung digandrungi kaum muda. Topik-topik yang bersifat kekinian dan menjadi ketertarikan anak muda, seperti bagaimana NU memandang teknologi blockchain, kedaulatan ekonomi, dan penguatan etika.

Berbagai informasi dalam berbagai macam bahasa dan bidang serta disiplin ilmu memasuki berjuta-juta kepala dan menanamkan serta membentuk opini-opini serta berbagai keyakinan. Penting kiranya mengingat kaidah fiqih al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Artinya, memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Membuka cakrawala baru bagi penempatan agama dalam situasi masyarakat pluralis dan serba digital. NU membangun generasi muda yang berilmu, berwawasan universal, kosmopolit dan berpikir ke depan. NU Kendal Online melalui website https://pcnukendal.com/menjadi media digital konten positif yang mengartikulasikan Islam secara Indonesia dan membawakan Indonesia secara Islam.


Penulis adalah Koord. Bidang Penulisan Artikel Nahdlatul Ulama Kendal Online (NUKO), Sekretaris LAZISNU Kecamaatan Patebon, dan Wakil Sekretaris Bidang Siber PAC GP Ansor Kec. Patebon.

Advertisement

Press ESC to close