Oleh: Muhamad Zubair Hasan
Sebagai seorang muslim, kita percaya bahwa Alquran adalah kitab yang memuat hukum yang mengatur segala hal di dunia. Selain itu, Alquran juga kitab yang memaparkan tentang penciptaan makhluk Allah, termasuk penciptaan manusia. Di dalam Alquran, ada banyak ayat yang menjelaskan tentang penciptaan manusia. Selain itu, dijelaskan pula sifat-sifat yang menyertai manusia ketika ia diciptakan.
Di antara semua makhluk ciptaan Allah, manusia adalah makhluk yang proses penciptaannya dalam Alquran dijelaskan paling rinci. Di antara ayat itu, ada yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan bentuk yang paling bagus (Shihab, 2010: 435). Lalu di ayat yang lain, Allah menegaskan bahwa Ia telah memuliakan Bani Adam dan memberinya kelebihan mengalahkan sebagain besar makhluk-Nya yang lain (Shihab, 2010: 149).
Banyak orang yang memahami dua ayat itu, dan beberapa ayat lain yang mirip, sebagai dasar anggapan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Anggapan itu juga muncul karena manusia adalah makhluk yang diangkat Allah untuk menjadi khalifah di bumi. Ada juga yang berpendapat bahwa anggapan kesempurnaan manusia itu muncul karena manusia mempunyai potensi untuk memiliki semua sifat yang dimiliki makhluk selainnya (Shihab, 1996: 428). Manusia mempunyai sifat patuh yang dimiliki malaikat, bejat setan, sampai berbagai nafsu yang dimiliki hewan. Bahkan manusia juga mempunyai sebagian sifat Tuhan, seperti penyayang, pemaaf, pemurah, kejam, sombong, dan sebagainya, meski tingkat ukuran sifat yang sama-sama dimiliki Tuhan dan manusia itu pasti jauh berbeda.
Tetapi apabila kita melihat kandungan Alquran lebih dalam, anggapan makhluk paling sempurna yang dimiliki manusia itu sebenarnya kurang tepat. Memang kandungan QS. Al-Isra [17]: 40 menegaskan kemuliaan dan kelebihan yang dimiliki manusia atas makhluk lain. Tetapi ada ayat lain yang memaparkan bahwa Allah adalah Dzat yang membuat semua ciptaannya menjadi ciptaan yang paling bagus, yaitu QS. As-Sajdah [32]: 7. Jadi selain manusia, makhluk ciptaan-Nya yang lain adalah makhluk yang sempurna sesuai fungsi masing-masing (Shihab, 2010: 366).
Kita bisa melihat kesempurnaan yang dimiliki makhluk lain. Malaikat adalah makhluk yang paling sempurna ketaatannya. Begitu sempurnanya ketaatan malaikat sampai ia tidak bisa sedikit pun melakukan kedurhakaan. Setan adalah makhluk yang sangat sempurna sisi kedurhakaannya. Sampai hari kiamat, kesempurnaan sifat durhaka itu tak akan berkurang dan ia akan selalu menyesatkan manusia dari jalan-Nya.
Hewan pun makhluk yang sangat sempurna, sesuai dengan fungsi yang dimiliki masing-masing di habitatnya. Ikan sangat sempurna di alamnya. Mereka bisa leluasa hidup di sungai dan lautan tanpa khawatir tenggelam. Burung juga sangat sempurna. Dengan sayapnya, ia mampu menembus cakrawala tanpa batas, tanpa takut jatuh karena tarikan gravitasi yang dimiliki bumi. Jadi bukan manusia saja yang sempurna. Semua makhluk Allah adalah ciptaan yang sempurna.
Superioritas Kenegatifan Manusia
Seperti yang penulis paparkan sebelumnya, kesempurnaan yang dimiliki manusia sebenarnya ada dalam bentuknya yang paling baik daripada makhluk lain. Di antara hal yang membuat manusia lebih dari makhluk lain adalah anugerah akal yang ia miliki. Meski begitu, akal manusia itu seperti pedang bermata dua. Karena mempunyai akal, manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Ia bebas menentukan nasib bagi dirinya sendiri, apakah ingin menjadi baik atau buruk.
Sayangnya, potensi negatif yang manusia miliki lebih besar dari potensi positif mereka. Berdasarkan penelusuran penulis, di antara ayat Alquran yang menjelaskan sifat yang dimiliki manusia dalam penciptaannya, semua menjelaskan sifat jelek manusia, yaitu bahwa mereka diciptakan lemah dan selalu mengeluh (QS. Al-Nisa [4]: 28