Penguatan Aswaja Bagi Guru NU

...

Oleh: Drs. H. M. Umar Said, M.SI Kelahiran Ahlussunnah wal Jamaah, disingkat Aswaja atau lebih tepatnya terminologi Aswaja, merupakan respon atas munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama pada abad ketiga hijriah. Aswaja yang didirikan oleh Imam Abul Hasan Asyari berkembang pesat hingga di beberapa negara Islam antara lain Indonesia. Aliran keagamaan yang berkembang di Indonesia diikuti oleh warga Nahdlatul Ulama sehingga disebut Aswaja NU atau dikenal dengan nama Aswaja Nahdliyah, yaitu Aswaja yang menjadi keyakinan dan dasar utama bagi warga NU dalam semua bidang, agama, sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik. Namun sayang, mayoritas warga NU belum memahami secara mendalam apa itu Aswaja, apa yang membedakan Aswaja dengan aliran lain, dalil-dalil mana saja yang menjadi dasar amaliyah warga NU seperti tahlilan, manaqiban, yasinan, dan lain-lain, apakah benar amaliyah warga NU termasuk bid%u2019ah dhalalah (sesat). Kalau tidak, apakah termasuk kategori sunnah?. Wacana bid%u2019ah selalu dijadikan senjata untuk menyerang amaliah warga NU secara terus menerus. Pelurusan wacana sangat penting dan mendesak supaya warga NU bisa mengamalkan tradisinya secara nyaman dan tenang. Di satu sisi, tantangan modernisasi dan globalisasi membuat formulasi Aswaja klasik mengalami kemunduran, karena dirasa kurang mampu menjawab tuntutan dinamika zaman. Maka menjadi suatu keniscayaan melakukan penyegaran dan pembaruan doktrin Aswaja. Salah satunya adalah menjadikan Aswaja sebagai manhaj al-fikr (metodologi berpikir) dalam membaca realitas secara dinamis, analitis, produktif, dan solutif. Persoalan muncul lagi, bagaimana mengaplikasikan Aswaja sebagai manhaj al-fikr dalam organisasi/lembaga dan program-programnya. Disinilah pentingnya membumikan Aswaja sebagai manhaj al-fikr dalam organisasi/lembaga dan program-programnya supaya operasional kuatitatif sehingga bisa meningkatkan kualitas warga NU secara maksimal. Disinilah relevansi reformulasi Aswaja Nahdliyah di era modernisasi sekarang ini supaya sesuai dengan semangat zaman. Kader-kader muda NU yang mengenyam perguruan tinggi sudah bergulat dengan banyak wacana, baik itu yang sekuler, liberal, dan fundamental sehingga dibutuhkan penyegaran dan pembaruan konsep Aswaja. Disinyalir konsep Aswaja klasik tidak mampu merespon tantangan global karena hanya berkutat pada tiga bidang. Yaitu akidah, syari%u2019ah, dan tasawuf. Sementara tantangan bidang sosial, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, pertahanan dan keamanan, politik global, informasi, dan pemikiran berjalan dengan massif dan eskalatif. Berkaitan dengan pendidikan yang menjadi tanggung jawab para guru NU khususnya di wilayah Jawa Tengah adalah mengentaskan anak didiknya dari kemiskinan ilmu dan kurangnya wawasan terutama ilmu yang pada akhirnya mampu membentengi mereka dari serbuan aliran yang bertentangan dengan aliran Ahlusunnah wal-Jama%u2019ah. Selain hal tersebut, munculnya golongan dan paham radikalisme dan liberalisme terutama di Jawa Tengah akhir-akhir ini merupakan tanggung jawab dan tantangan tersendiri bagi guru NU dalam menjelaskan kepada anak didiknya agar mereka terhindar dari paham radikal dan liberal tersebut. Maraknya penangkapan para teroris oleh Densus 88 di sebagian wilayah Jawa Tengah merupakan bukti bahwa terorisme telah berkembang di Jawa Tengah. Selain itu, ditemukannya beberapa sekolah di Jawa Tengah pada saat pelaksanaan upacara bendera yang tidak membolehkan (mengharamkan) hormat pada Bendera Merah Putih. Praktik-praktik perilaku radikalisme tersebut sebagian dari akibat massifnya para pendakwah dari golongan pengusung ideologi takfir yang disiarkan secara fulgar di medsos. Golongan Takfir adalah golongan yang sering dan gampang mengkafirkan orang lain yang dianggap tidak sepaham dan sealiran dengan mereka, seperti kaum Khawarij, Wahabi Salafi, Hizbut Tahrir, Jamaah Anshorut Tauhid, dan lain sebagainya. Sedangkan paham Liberal adalah golongan umat Islam yang secara bebas menafsirkan ayat-ayat Alquran dan Hadis serta teks-teks dalil agama tanpa berpedoman pada qaul para ulama mazhab khususnya para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Golongan-golongan tersebut sudah tumbuh subur pula di Jawa Tengah, sehingga memprihatinkan semua pihak terutama para tokoh Nahdliyyin. Seperti golongan Wahabi yang tidak menggunakan takwil ketika menjelaskan ayat-ayat mutasyabbihat. Ada juga majlis ilmu yang masih eksis sampai sekarang yaitu pengajian MTA (Majlis Tafsir Alquran) yang dipimpin oleh Sukino. Meskipun Sukino sudah meninggal, namun MTA masih bekembang di daerah-daerah. Para pengikut Sukino ini sangat %u2018ngawur%u2019 menerjemahkan dan menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan tanpa didasari ilmu yang cukup. Padahal orang yang dengan sengaja menafsirkan ayat Alquran dengan pemikirannya sendiri, maka bersiaplah ia akan dicampakkan ke dalam neraka. Penguatan dan Peran Guru NU tidak sekedar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan belaka, namun juga membina dan membentuk karakter anak didik dengan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupannya. Kegagalan anak didik dalam mengimplementasikan pengetahuannya khususnya dalam bidang agama di masyarakat menjadi cermin negatif seorang guru di sekolah maupun madrasah. Sebagaimana adagium populer di telinga kita, "guru kencing berdiri, murid kencing berlari.%u201D Dengan demikian, artinya menjadi penting bagaimana menjadikan para guru NU kita untuk tampil di masyarakat dan sekolah sebagai pelopor dan penggerak Aswaja. Melalui pemahaman agama yang benar dan sikap bijak dapat membantu peran pemerintah dalam menjaga keharmonisan masyarakat khususnya di Jawa Tengah. Guru NU memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam masalah ini. Atas peran merekalah masyarakat dapat sukses menyiapkan para generasi yang pintar dan berkarakter di masa depan. Guru NU merupakan pilar utama Aswaja yang mengusung misi perdamaian di kehidupan masyarakat. Institusi pendidikan sebagai tempat berproses mengkader para generasi sudah selayaknya dijadikan sarana untuk mentransformasikan pemahaman agama yang sejuk dan penuh kedamaian. Misalnya, menanamkan sikap bijak dan kedewasan dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Krisis spiritual yang melanda masyarakat sekarang ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa agama semakin ditinggalkan, dan peranan guru NU amat dibutuhkan. Sependapat atau tidak, kekerasan yang berbau agama yang terjadi di masyarakat mudah sekali membara. Salah satu faktornya, yakni dangkalnya pengetahuan agama. Banyak ayat-ayat Alquran yang dipahami secara radikal sehingga mendorong gerakan provokatif dan berlanjut ke tindakan anarkisme. Misalnya, memahami kata jihad. Kebolehan mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani hingga kini juga terus menjadi polemik akhir tahunan. Padahal sejumlah tokoh agama seperti halnya Gus Dur dan tokoh-tokoh NU generasi berikutnya tidak mempermasalahkannya (tergantung niat pengucapannya) dan tentunya dari sisi cara pandangnya. Dalam hal ini, transformasi pengetahuan yang luas oleh kalangan guru NU kepada para anak didiknya menjadi penting. Sehingga, kelak dapat menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, seorang guru agama (baca: guru NU) seperti ustad TPA/TPQ di kampung memberikan pengetahuan tambahan. Mereka yang selama ini hanya mengajarkan menulis dan membaca Alquran mau menambahkan pengetahuan dasar seperti saling bertoleransi antar teman saat berbeda pemahaman dan keyakinan. Jika sikap seperti toleransi tidak diperkenankan sejak dini, bisa menimbulkan pemahaman yang fatal dikemudian hari. Minimnya peranan guru NU dalam ikut andil menciptakan kehidupan yang toleran di permukaan perlu diubah seolah hanya melibatkan segelintir tokoh di masyarakat, padahal kasus intoleransi mudah terjadi. Terbukti, kasus-kasus intoleransi di kalangan masyarakat yang hingga kini belum menemukan kejelasan. Akibatnya, kita tak pernah mampu merawat kelangsungan kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian. Perbedaan pemahaman dan keyakinan masih belum bisa disikapi dengan dewasa. Sesungguhnya guru NU memiliki peranan penting dalam merawat kehidupan di masyarakat baik saat ini maupun ke depan. Pasalnya, guru NU yang bertugas sebagai orang yang memberikan pemahaman ajaran-ajaran agama melalui mata pelajaran yang diampu di bangku sekolah/madrasah maupun pesantren memiliki posisi strategis. Guru NU sebagai ujung tombak dalam memberikan pemahaman dan pencerahan di kalangan generasi bangsa yang duduk dibangku sekolah/madrasah. Kedangkalan dalam memahami agama dikalangan anak didik (generasi muda) di kemudian hari jelas dapat membawa dampak besar bagi keberlangsungan kehidupan beragama di masyarakat. Sejak kepergian Gus Dur Sang Guru Bangsa, hingga sekarang ini masalah perdamaian di kalangan masyarakat ini masih mudah terusik. Kehidupan sosial masyarakat yang konon agamis masih mudah bergesekan, baik itu karena persoalan perbedaan pemahaman maupun keyakinan. Perjuangan Gus Dur dalam membangun masyarakat yang toleran dan kokoh belumlah sepenuhnya berhasil sempurna hingga sekarang ini. Masih begitu banyak persoalan-persoalan yang hingga kini membutuhkan perjuangan lanjutan. Untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur, siapa lagi kalau bukan Guru NU? Allahu %u2018alam bis Shawab Referensi : 1. Asep Saefuddin Chalim, MA, Dr., Membumikan Aswaja di Tengah Aliran-Aliran : Pegangan Para Guru NU, Mojokerto: PP. Pergunu, 2016. 2. Muhammad bin Alawy Al-Maliky, Mafahim Yajibu An-Tushohhaha, Mesir :Darul Hadits, tt. 3. Muhammad Danial Royyan, Haqiqatu Ahlissunnah Wal Jamaah, Yogyakarta: Putera Menara Yogyakarta, 2010. 4. Tim Aswaja NU Centre Jawa Timur, Khazanah Aswaja, Surabaya, 2016.

Penulis adalah Ketua Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kabupaten Kendal

Advertisement

Press ESC to close