Dibalik Tradisi Weh-Wehan, Tak Sekedar Bertukar Makanan

...

Oleh: Laila Maghfiroh, S.Sos

Setiap bulan Maulid tiba, umat muslim menyambutnya dengan suka cita dan bahagia. Kaliwungu yang masyhur sebagai kota santri, sentranya ilmu agama dan tradisi religi tak menyia-nyiakan datangnya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini. Bulan mulia ini selalu warnai tradisi unik yang bermakna mendalam. Pada suatu kesempatan di tahun 2018, penulis sempat melakukan wawancara dengan Guru Besar Sejarah Undip asli Kaliwungu, Prof. Dr. KH. Muhajjirin Thohir. Beliau menceritakan sebuah makna mendalam yang tersimpan dibalik tradisi weh-wehan yang biasa dilakukan masyarakat Kaliwungu Kendal ini.

Weh-wehan berasal dari bahasa Jawa “Aweh-awehan”, yang berarti saling memberi. Hal ini dimaksudkan supaya saudara atau tetangga yang kekurangan, atau belum pernah merasakan nikmatnya rasa dari makanan tertentu, akan mendapatkan kesan tersendiri bahkan pengalaman baru dengan tradisi saling memberi dan bertukar makanan semampu kita. Dengan begitu, tradisi ini juga dapat meringankan beban sesama.

Ada kata lain dari weh-wehan, yakni “ketuwinan”, berasal dari kata ”tuwi”, yang artinya tilik dalam bahasa Jawa dan berarti menengok dalam bahasa Indonesia. Dengan saling berkunjung dalam memberikan makanan, secara langsung akan menghidupkan silaturrahmi diantara warga. Tradisi ini sudah turun temurun ada, namun secara pastinya Prof. Muhajjirin Thohir tidak dapat memastikan kapan.

Salah satu yang istimewa adalah hadirnya makanan yang bernama sumpil. Makanan yang berasal dari beras, dibungkus daun kelapa, dibentuk segitiga yang biasanya sama sisi, rasanya gurih disajikan dengan sambal kelapa parut atau masyarakat Kendal biasa menyebut sambel docang atau sambal urap. Adanya sumpil inipun mempunyai makna filosofis yang cukup mendalam. Segitiga runcing vertikal menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya, Allah SWT (Habluminallah) dan dua kakinya runcing horisontal menggambarkan hubungan manusia dengan sesamanya (habluninnash).

Meski Jaman telah berubah, tradisi ini tetap dilestarikan terutama oleh masyarakat Kaliwungu Kendal, dan sekitarya. Tak aneh tradisi ini tetap dipertahankan, mengingat makna yang terkandung didalamnya begitu mendalam. Seakan mengingatkan kepada kita, bahwa dengan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW tak cukup hanya dengan bergembira dan membaca sirohnya, namun saling mengingat untuk membantu terhadap sesama, bersuka cita menyambut kelahiran Baginda tercinta, mengisinya dengan segala perbuatan kebaikan. Selamat merayakan kelahiran Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya kelak di yaumul qiyamah, Allahuma aamiin.

Penulis adalah Pengajar di SMK N 01 Kendal, Juara Lomba Penulisan Tokoh NU Kendal Tahun 2021

Advertisement

Press ESC to close