Oleh: Moh. Muzakka Mussaif
Sekarang ini umat Islam tengah memasuki tahun baru 1443 hijriah. Pergantian tahun ini pasti menandai bahwa umur seseorang bertambah jumlahnya meskipun secara hakikat berkurang. Hal demikian perlu disadari agar manusia sebagai hamba Tuhan lebih berhati-hati dalam hidup serta lebih taat dan dekat kepada-Nya. Di awal tahun baru ini, di samping hamba Tuhan perlu mengevaluasi diri terhadap aktivitas dan ibadah yang telah dijalaninya, juga perlu mengkaji makna hijrah secara mendalam di masa pandemi ini.
Mengapa demikian? Sebab, Allah SWT memerintah para hamba-Nya untuk selalu berinstrospeksi setiap waktu. Tentang perintah berintrospeksi ini ditegaskan Allah dalam Alquran Surat Alhasyr, 18 yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Hasil instrospeksi, tentu sangat bermanfaat bagi seseorang, yakni menjadi tolok ukur dalam meningkatkan kebaikan-kebaikan. Sebab, dari hasil itu pula, secara berkelanjutan seseorang dapat melihat perubahan perilaku dan membandingkannya dengan sebelumnya. Dari situlah dapat diketahui apakah hasilnya lebih baik, sama, atau lebih buruk. Jika hasilnya lebih baik berarti masuk kategori beruntung. Jika hasilnya sama berarti masuk kategori merugi. Dan, jika lebih jelek, maka masuk kategori rusak atau hancur. Penilaian semacam ini bukan mengada-ada, tetapi mengacu pada hadis Rasulullah SAW yang artinya, “Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka”.
Introspeksi setiap waktu itu pada hakikatnya bagian dari makna hijrah itu sendiri. Mengapa bisa demikian? Sebab, hijrah itu sebenarnya bukan pindah secara fisik semata, tetapi yang terpenting adalah hijrah mental dan spiritual. Sebab, terkait dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke Madinah itu juga hakikatnya adalah hijrah mental spiritual karena didasari oleh (wahyu) perintah Tuhan. Dengan menjalankan perintah Tuhan, kepindahan Rasul itu di samping Tuhan menyelamatkan Rasul dan pengikutnya dari berbagai terror orang-orang kafir, juga memberikan peluang untuk menyebarkan agama di Madinah yang lebih kondusif.
Di sinilah kemudian hijrah itu bukan semata-mata pindah tempat, tetapi menjalankan syariat, yakni hijrah mental spiritual. Hal demikian bisa juga dibuktikan, bahwa setelah peristiwa hijrah itu, Rasulullah pun tidak diperintah lagi oleh Allah SWT hijrah ke tempat lain termasuk ke Mekah meski sudah dikuasainya. Terkait dengan hijrah mental spiritual ini juga dikukuhkan Rasulullah saat ditanya oleh sahabat, “Ayyul hijratu afdholun, ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, “Man hajaras sayyiat”. “Hijrah apa yang paling utama, Ya Rasulullah”? Beliau menjawab, “Orang yang pindah atau meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk”.
Dengan mengacu pada hadis tersebut, tampak bahwa poin penting makna hijrah itu adalah perpindahan dan atau perubahan perilaku dan mental-spiritual individu. Yakni, pindah atau berubah dari hal-hal buruk menuju kebaikan, pindah dari kekurangtaatan menuju ketaatan dan ketakwaan pada Tuhan.
Makna Hijrah di Masa Pandemi
Di masa pandemi ini, mestinya kita merenungkan sekaligus mengevaluasi diri mengapa pandemi Covid-19 belum juga berlalu? Mengapa Tuhan tidak segera mengangkat wabah Covid-19 ini dari negeri kita? Pertanyaan ini penting bagi setiap diri untuk merenungkan sekaligus berintrospeksi. Dengan wabah panjang ini, sebenarnya para hamba tengah diuji oleh Tuhan, Sebab, darinya dapat dinilai dan dikategorisasi dalam dua kutub. Yakni kutub hamba-hamba sabar dan hamba-hamba yang tidak sabar. Kutub pertama menyikapinya dengan meningkatkan ketaatan pada Tuhan sedangkan kutub kedua menghadapinya dengan tindakan-tindakan yang kontraproduktif karena lebih mengedepankan nafsu dan egonya.
Dengan meminjam istilah yang disampaikan KH. Cholil Nafis, menurut hemat penulis, pandemi panjang ini tidak akan pernah selesai tanpa campur tangan penduduk bumi dan Penguasa Langit. Kalau para hamba sebagai penduduk bumi hanya memohon pada Penguasa Langit dengan berdoa saja, tanpa ada perubahan sikap dan perilaku yang sungguh-sungguh, maka hal itu akan sia-sia saja. Sebab, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mau mengubahnya. Hal demkian ini dijelaskan dalam Alquran surat Arra’du, ayat 11.
Dari ayat di atas sangat jelas, bahwa memohon dan berdoa saja pada Tuhan, Penguasa Langit dan Bumi, tidak cukup. Bahkan, tidak akan dikabulkan manakala penduduk bumi tidak berikhtiar untuk mengubah sikap dan perilakunya dalam menghadapi pandemi. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan usaha dengan ilmu dan kekuatan teknologi saja, tanpa mohon pertolongan Tuhan, maka persoalan pandemi ini juga tidak akan selesai.
Jadi, sebenarnya dengan pandemi panjang ini semua menjadi tampak jati dirinya. Siapa yang berpaham jabariah, yang menganggap hidup hanya sekadar menjalani takdir saja serta siapa pula yang berpaham qodariyah, yang hanya mendewakan usaha dan pikirannya? Kedua, paham tersebut ditolak oleh paham ahlussunnah wal jamaah. Sebab, yang pertama meniadakan ikhtiar sedangkan yang kedua meniadakan campur tangan Tuhan. Oleh karena itu, untuk mengurai persoalan pandemi ini harus bersungguh-sungguh dengan ikhtiar dan tawakal.
Ikhtiar penduduk bumi harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh mengikuti ketentuan yang digariskan para ahli, sebab kita bukan ahli di bidang itu. Di samping berikhtiar dengan baik, penduduk bumi juga harus bersungguh-sungguh dalam tawakal pada Allah SWT. Dengan ikhtiar dan tawakal serta memperbanyak istigfar, zikir, dan doa dalam menghadapi pandemi ini, niscaya Allah akan segera menghilangkan pandemi ini di planet bumi ini. Wallahu A’lam.

Penulis adalah Ketua PC LDNU Kabupaten Kendal dan Dosen FIB UNDIP