Wisata “Bencana”

0
246

Oleh : Fahroji

Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal kembali menarik perhatian masyarakat untuk mengunjunginya. Kali ini masyarakat dibuat seakan tidak percaya. Betapa tidak, Dusun Kenjuran yang merupakan dusun paling tinggi dan berada di lereng gunung Prahu diterjang banjir yang merusak 21 rumah penduduk dan menghanyutkan harta benda serta puluhan ternak kambing mati.

 Tahun 2012 Desa Purwosari  juga pernah mengundang perhatian masyarakat untuk datang ke sana karena insiden bentrok masa akibat kutbah jum’at provokatif salah satu anggota ormas radikal. Suasana menjadi ramai lantaran orang-orang dari luar kota  banyak yang datang ke Desa Purwosari yang waktu itu terjadi di Dusun Banom.

Lebih  jauh ke belakang,  sekitar tahun 2004, di Dusun Kenjuran Purwosari juga pernah terjadi kebakaran hebat. Waktu itu di Kenjuran terjadi musibah kebakaran rumah berantai. Beberapa rumah yang saling berhimpitan ludes dilalap si jago merah sehingga luluh lantah. Masyarakatpun berdatangan untuk sekedar melihat puing-puing rumah yang sudah menjadi arang dan abu.

Dengan beberapa kejadian itu masyarakat akhirnya mengenal Desa Purwosari. Purwosari seakan menjadi obyek wisata baru. Teman kerja saya, Wahidin Said,  menyebutnya sebagai “wisata bencana”. Lebel itu  tidak salah, karena ketika ada bencana orang akan tertarik melihat dari dekat  kondisi nyata akibat bencana.

Sore itu, Selasa ( 28/2/2017) rombongan MWC NU Sukorejo yang terdiri  rais syuriyah : KH.Ibadi, wakil katib : ky. Sabukri, a’wan : H. Abdul Syukur dan H. Sarman Abdurrahman, Ketua : Fahroji, sekretaris : Suharyana, bendahara : Tarmuji dan sekretaris LP Ma’arif: Budi Irwanto meluncur ke Kenjuran, Purwosari. Rasa penasaran, keheranan dan ikatan hati telah menyatukan tekad rombongan harus sampai ke Dusun Kenjuran. Rasa penasaran muncul karena keingintahuan bagaimana keadaan Kenjuran pasca bencana lonsor dan banjir. Sementara rasa keheranan menghinggapi pikiran “ Kok bisa-bisanya daerah pegunungan dilanda banjir”. Ikatan hati sebagai sesama muslim dan warga NU nampaknya menjadi energi sendiri bagi pengurus MWC NU Sukorejo  harus sampai ke Dusun Kenjuran,  karena mereka yang terdampak musibah sebagian besar warga NU.

Ikatan hati dan idiologi itu pula yang menyebabkan saya pribadi tidak bisa menghitung sudah berapa kali mengunjungi  Dusun Kenjuran. Saling mengunjungi apabila ada berita duka dari keluarga atau berita gembira  ketika  “punya gawe”. Ikatan itu sudah seperti keluarga, padahal mereka hanya teman. Teman seperjuangan sejak masih aktif di organisasi IPNU.

Masih belum memudar ingatan saya, waktu itu tahun 1993 pertama kali datang ke Kenjuran dalam acara pembentukan ranting baru IPNU IPPNU Purwosari. Sejak pembentukan IPNU IPPNU Purwosari kemudian banyak kegiatan PAC IPNU IPPNU Sukorejo digelar di sana, karena tempatnya memang  memungkinkan. Ada lapangan sepak bola yang berdekatan dengan SD yang bisa dipinjam gedungnya, ditambah suasana pegunungan dengan keindahan panoramanya merupakan kelebihan Dusun Kenjuran untuk menggelar kegiatan semacam Kemah Aswaja, Makesta, Lakmud dan Diklatsar Banser.

Ada rasa ikut  bahagia pula ketika mengetahui  pengurus PR IPNU IPPNU Purwosari  periode pertama banyak menjadi pejabat di desanya. Kang Khudhori yang dulu jadi ketua IPNU sekarang menjabat sebagai Kadus Dusun Kenteng. Kang Mi’adi saat ini menjadi kepala desa Purwosari. Kang Abdul Wahab menjadi bekel Kenjuran. Kang Isrok jadi ketua Ranting NU dan kepala SMP NU 11  dengan status darurat. Mengapa darurat ? karena jika dilihat dari kualifikasi persyarat mungkin ia tidak memenuhi kriteria.

Ya, Masalah Sumber Daya Manusia (SDM)  di Purwosari memang sejak dulu rata-rata penduduknya lulusan SD. Bagi yang mampu,  sebagian lalu memilih meneruskan ke pesantren. Kalau kemudian kang Mi’adi kang Wahab dan kang Khudhori  mampu menjadi pejabat di desanya barangkalai itu keberkahan ilmu dan pengabdiannya di IPNU. Materi Makesta atau Lakmud tentang kepemimpinan, management, keorganisasian,  administrasi maupun problem solving barangkali sangat bermanfaat untuk mengemban amanatnya sebagai pejabat desa.

Keberhasilan mereka menjadi pajabat di desanya setidaknya juga telah menepis olok-olok orang bahwa kalau mengurus organisasi semacam IPNU, Ansor dan NU dikuatirkan tidak bisa makan. Keiklasan mereka mengikuti kegiatan NU dan banomnya di Sukorejo dengan jarak tempuh sekitar satu jam dengan kondisi jalan seperti “ kali mati” disisi lain justru semakin menjadikan mereka kader-kader tangguh di desanya.

Kondisi infra struktur jalan di Kendal dalam beberapa tahun terakhir memang sangat memprihatinkan. Jangankan yang di pelosok pedesaan di perkotaan saja banyak ditemukan jalan berlobang. Kondisi jalan menuju Purwosari ini sangat bertolak belakang dengan jalan yang ada di desa sebelahnya seperti Desa Larangan, Desa  Bojong Kecamatan Tretep yang sudah masuk wilayah kabupaten Temanggung. Di Kecamatan Tretep jalan di daerah pegunungan  sudah halus beraspal hotmic seperti jalan tol, sehingga membuat iri warga Purwosari. Andaikan ada referendum atau jajak pendapat warga Purwosari mau ikut Kendal atau Temanggung, mungkin mereka lebih memilih bergabung dengan KabupatenTemanggung.

Melihat semangat kader-kader NU dari lereng gunung Prau seperti Purwosari, Ngargosari, Bringinsari, Tamanrejo maupun Gentinggunung kadang saya menjadi terharu, sekaligus menjadi motivasi tersendiri untuk tidak mudah menyerah mengimbangi semangat mereka. Disisi lain saya juga merasa prihatin ketika kader-kader yang ada di daerah bawah justru sebaliknya, kehilangan semangat, sibuk dengan urusan pribadinya dan pekerjaan. Seolah-olah pekerjaan yang sudah mapan menjadi tujuan hidupnya. Mereka lupa bahwa dirinya sedang terperangkap dalam zona nyaman yang bisa membunuh kretifitasnya. Mereka sesekali muncul di kegiatan semacam konferensi untuk kemudian menghilang lagi. Atau pada moment-moment pemilihan umum mereka berteriak- teriak NU.

Isyarat tangan ketua PAC Ansor Sukorejo, Rudi Susanto, untuk membuka kaca mobil tiba-tiba telah membuyarkan  lamunan. Ternyata rombangan MWC NU Sukorejo telah sampai di Dusun Kenjuran. “Langsung ke rumah pak kyai Isrok saja pak “, kata Rudi dari balik kaca mobil.

Sesampai di rumah ketua ranting NU Purwosari, rombongan mendapat suguhan teh panas  dilengkapi dengan gula tebu produk sendiri untuk sekedar mengusir hawa dingin Dusun  Kenjuran. Kesempatan itu kemudian tidak disia-siakan oleh  pak Haji Sarman untuk menanyakan   kejadian bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kenjuran. Sesaat kemudian kyai Isrok menceritakan  kronologi tanah longsor dan banjir bandang yang menimpa kampungnya  secara rinci dan terstruktur seperti seorang juri kunci yang sedang menjelaskan sejarah wali dalam wisata religius.  Padahal,  sebenarnya ia sedang menjelaskan kronologi kejadian bencana dalam wisata bencana di  kampungnya.

Setelah keterangan kyai Isrok dirasa cukup rombongan meminta waktu untuk mengunjungi lokasi bencana. Lalu-lalang orang-orang yang menyaksikan lokasi bencana sangat rame, seperti orang keluar masuk  obyek wisata. Padahal,  mereka sedang melihat lokasi saudara-saudara kita yang sedang menderita.  Mereka hampir lupa, bahwa mereka tidak sedang refresing. Orang-orang berpakaian doreng tapi bukan TNI terlihat berbaur dengan penduduk setempat. Mereka adalah Banser Ansor yang setia membela rakyat jelata membersihkan sisa-sisa dampak bencana pada hari Ketiga. Penduduk warga Kenjuran  terutama pemuda yang rumahnya aman dengan suka rela menunjukan lokasi bencana dan memberi informasi bagaikan pemandu wisata.

Itulah kenyataan, saat ini Desa Purwosari telah menjadi desa bencana. Padahal dibalik itu Desa Purwosari menyimpan pesona yang bisa disulap menjadi desa wisata atau wisata desa. Pemandangan yang indah, penduduk yang ramah merupakan modal untuk mengubah Desa Purwosari menjadi desa wisata. 

Kesadaran masyarakat Purwosari harus segera dibangunkan. Hutan gundul yang menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang harus menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat. Desa Purwosari harus segera dihijaukan  kembali. Tugas kang Mi’adi mantan aktifis IPNU yang sekarang menjadi kepala desa memang sangat berat.  Saya jadi teringat, sebulan lalu saya  membaca novel “ Bu Lurah” karya perdana Edi Harsoyo anggota KPU Kota Pekalongan yang terbit  pertengahan tahun 2016.

Novel yang mengangkat kisah nyata perjuangan  ibunda penulis yang menjadi lurah di daerah pegunungan terpencil sekitar tahun 1978. Latar belakang tempatnya mirip desa Purwosari.  Dalam novel itu diceritakan Mawarti yang menjadi satu-satunya lurah Perempuan di Jawa Tengah itu memimpin Desa Semboja yang terletak di daerah pegunungan perbatasan kabupaten Pekalongan dan Banjarnegara. Penulis menyebutnya sebagai “Negeri Atas Awan” di sekitar dataran tinggi Dieng.

Menurut saya novel itu tentu sangat menginspirasi bagi para kepala desa di daerah pegunungan. Diceritakan dalam novelnya bagaimana perjuangan “Bu Lurah Mawarti” mengatasi wargannya yang sebagian besar buta huruf, bagaimana menyadarkan bahaya hutan gundul dan pentingnya penghijauan. Bahkan dikisahkan mengapa rakyat diminta menanam bunga tidak hanya jagung. Hasil perjuangan” Mawarti” yang tanpa kenal lelah, dalam novel itu diceritakan Mawarti mampu membawa desanya menjadi desa Teladan Nasional dan mendapat undangan penghargaan di Istana negara oleh Presiden Suharto waktu itu. Karena novel itu diangkat dari kisah nyata maka saingan “ tokoh Mawarti” kira-kira adalah almarhum bapak Hasanudin yang waktu itu menjadi Kepala desa Sukorejo dan ikut dalam lomba desa Nasional di era 80 an.

Tidak hanya berhenti di situ, Novel “Bu Lurah” juga menceritakan hasil program reboisasi atau penghijauannya telah menghatarkan “Mawarti” mendapatkan undangan  berpidato di depan sidang PBB bidang Unesco di Paris Prancis.

Ya… itu sekedar cerita novel yang mempunyai setting tempat yang hampir mirip dengan Desa Purwosari. Dalam dunia nyata kita hanya berharap untuk masa-masa mendatang  ketertarikan masyarakat untuk berkunjung ke Desa Purwosari tidak karena ada bencana lagi. Tapi kita kembali tertarik mengunjungi  Desa  Purwosari  karena  Desa Purwosari sudah menjadi desa yang asri tidak lagi dilebeli orang “wisata bencana”.

Untuk mewujudkan itu, sebelum berpamitan pulang, rombangan MWC NU Sukorejo berdoa bersama yang dipimpin rois syuriyah KH. Ibadi  untuk kesejahteraan masyarakat Desa Purwosari. Apakah doanya sama dengan yang dibaca ketika di Lokalisasi Alaska ? Tentu saja tidak.

                                                                                    Sukorejo, 2 Maret 2017

                                                                                    Tulisan Essay Perjalanan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here