UMAR BIN KHOTTHOB R.A. MENCARIKAN SUAMI BAGI HAFSHOH PUTRINYA

0
159

Umar bin Khathab R.A, shahabat pemberani yang karenanyalah Islam memiliki wibawa. Hafshah adalah putri Umar yang masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan disegani. Dia pernah dinikahi Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud namun setelah itu dia meninggal di Madinah karena sakit yang  dialaminya pada waktu perang Uhud. Dia meninggalkan seorang janda yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshah yang ketika itu masih berumur 18 tahun.

Umar benar-benar merasakan gelisah dengan keadaan putrinya yang menjanda padahal masih muda. Umar juga merasakan kesedihan dengan meninggalnya menantunya yang muhajir dan mujahid. Umar merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami bagi putrinya agar kebahagiaan yang telah hilang selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.

Umar ingin menawarkankan putrinya kepada Abu Bakar Ash Shidiq RA, orang yang paling dicintai Rasulullah SAW. Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutan dapat diharapkan membimbing Hafshah yang mewarisi watak bapaknya yakni semangat tinggi dan watak tegas. Maka segeralah Umar menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal Hafshah berserta ujian yang menimpanya. Abu Bakar memperhatikan cerita Umar dengan rasa iba dan belas kasihan. Setelah Umar menawarinya agar mau memperistri putrinya, ternyata Abu Bakar tidak menjawab apa-apa. Maka berpalinglah Umar dengan membawa kekecewaan hati.

Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju rumah Utsman bin Affan yang ketika itu istrinya bernama Ruqqayah binti Rasulullah baru saja meninggal. Umar menceritakan perihal putrinya kepada Utsman dan menawari agar mau menikahi putrinya, namun dia menjawab: “Aku belum ingin menikah saat ini”. Semakin bertambahlah kesedihan Umar atas penolakan Utsman setelah penolakan Abu Bakar.

Kemudian dia menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar maupun Utsman. Maka tersenyumlah Rasulllah SAW seraya berkata: “Jangan kau tawari Utsman untuk menikahi putrimu, karena dia akan saya nikahkan dengan wanita yang lebih baik dari pada putrimu”. Umar semakin sedih mendengarnya tetapi harus rela karena kecintaanya kepada Rasulullah. Lalu Nabi melanjutkan ucapannya: “Tetapi putrimu Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman”. Wajah Umar berseri-seri mendengarnya dan hilanglah segala kesusahan hatinya, tetapi belum memahami maksud Nabi.

Maka Umar mendatangi Ali bin Abi Thalib yang bisa menafsirkan ucapan Nabi. Ali menjelaskan: “Maksud Nabi, Utsman itu akan dinikahkan dengan Ummi Kultsum putri Nabi. Dia wanita yang lebih baik daripada Hafshoh putrimu. Tetapi Hafshoh akan dinikahi oleh Nabi sendiri, orang yang lebih daripada Abu Bakar dan Umar”.

Langsung Umar melakukan sujud syukur saking gembiranya, dia ingin menyampaikan kabar gembira tersebut kepada setiap orang yang dikenalnya. Abu Bakar adalah orang yang pertama kali yang dia temui. Maka tatkala Abu Bakar melihat Umar dalam keadaan gembira dan suka cita maka beliau mengucapkan selamat kepada Umar dan meminta maaf kepada Umar sambil berkata “janganlah engkau marah kepadaku wahai Umar karena aku telah mendengar Rasulullah SAW menyebut-nyebut Hafshah. Hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah SAW, karena seandainya beliau gagal menikahi Hafshah maka pastilah aku akan menikahinya.

Sontak kota Madinah mendapat barokah dengan pernikahan Nabi SAW dengan Hafshah binti Umar pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyah. Begitu pula Madinah memperoleh barokah dengan pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum binti Muhammad SAW pada bulan Jumadil Akhir tahun ketiga Hijriyah juga.

Akhirnya Hafshah menjadi salah satu dari istri-istri Rasulullah dan Ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga Nubuwwah ada istri selain Hafshoh yakni Saudah dan Aisyah. Maka tatkala ada kecemburuan di antara mereka, Hafshoh mengalah kepada Aisyah karena dia lebih pantas dan lebih layak untuk cemburu. Hafshoh senantiasa mengalah dengan Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang berkata: “Betapa kerdilnya engkau bila dibanding dengan Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila dibandingkan dengan Abu Bakar ayahnya”.

Hafshah dan Aisyah pernah menyusahkan Nabi, maka turunlah ayat :”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril” (Q.S. at-home: 4).

Telah diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah mentalak sekali untuk Hafshah tatkala Hafshah  menyusahkan Nabi, namun beliau merujuk kembali atas perintah Alloh yang dibawa oleh Jibril AS, dia berkata: “Dia adalah seorang wanita yang rajin puasa, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga”. Hafshah pernah merasa bersalah karena menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi dengan menyebarkan rahasianya namun akhirnya menjadi tenang setelah Rasulullah SAW memaafkannya. Kemudian Hafshah hidup bersama Nabi dengan hubungan yang harmonis sebagai seorang istri bersama suaminya. Ketika Rasul yang mulia menghadap ar-Rafiiq al-A’la dan Khalifah dipegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, maka Hafshah-lah yang dipercaya di antara Ummahatul Mukminin termasuk Aisyah di dalamnya, untuk menjaga mushaf Al-Qur’an yang pertama.

Hafshah radhiallaahu ‘anha mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta’at kepada Allah, rajin puasa dan juga shalat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan Al-Qur’an sebagai undang-undang umat ini dan kitab yang paling utama sebagai mukjizat yang kekal, sumber hukum yang lurus dan ‘aqidah yang utuh. Ketika ayahnya yang ketika itu adalah Amirul mukminin merasakan dekatnya ajal setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah seorang Majusi pada bulan Dzulhijjah tahun 13 hijriyah, maka Hafshah adalah putrinya yang mendapat wasiat yang beliau tinggalkan.

Hafshah wafat pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan, setelah memberikan wasiat ayahnya kepada saudaranya yang bernama Abdullah bin Umar. Semoga Allah meridhainya karena telah menjaga al-Qur’an al-Karim, dan dia adalah wanita yang disebut Jibril sebagai Shawwamah dan Qawwamah (Wanita yang rajin puasa dan rajin shalat) dan bahwa dia adalah istri Nabi SAW di surga. Semoga kita memperoleh barakah dari mereka dan dapat dipertemukan dengan mereka di akhirat kelak. Amiin. Wallohu A’lam Bisshowab. (MD Royyan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here