Topeng

0
114

Oleh: Abdul Basyid

Dunia bagai panggung sandiwara. Banyak rupa namun tak mencerminkan rasa. Segala tipu daya terus melaju memburu nafsu dan ambisi. Tampilan hanya topeng belaka. Berteriak dibalik topeng agama pun tak apa-apa, yang penting obsesi bisa terwujud. Laskar kebusukan tebarkan kekacauan.

Topeng terus memburu keniscayaan, merongrong kemapanan. Berbagai dalih dikemas dalam bingkai cerita cerdas agar masyarakat tak bisa tidur pulas karena kupasan yang lugas. Mulut – mulut manis bergincu tipis mengobral kata – kata sinis membuat miris bagi yang keyakinannya tipis.

Topeng-topeng kian semangat menari-nari, yang diinginkan terjadi. Gorengan  hangat bermunculan setiap ada bahan-bahan perpecahan. Argumen diputarbalikkan demi kemenangan pembenaran diri.

Topeng-topeng berteriak surga mengintimidasi neraka. Semua dosa, celaka, tak satu pun tersisa hanya mereka yang paling pantas menghuni surga. Satu persatu muncul menari nari mengitari negeri menjual buaian memabukan hati, membisikan narasi  kemapanan berteologi, mengobarkan cacian dan kebencian membangun isu-isu picisan. Dengan beragam gaya dan rupa mereka hembuskan dusta untuk memburu simpati. Mereka nekat enggan berlalu meski hempasan peluru terus memburu. Bagi mereka sebelum raga terpisah nyawa secercah asa masih dipunya.

Topeng-topeng bermetamorfosa mengikuti perkembangan dunia, beradaptasi selaras kultur negeri. Di perguruan tinggi, sekolah, kantor, jalan, pasar, bahkan tempat ibadah topeng-topeng memburu segala lini mengumbar janji, memprovokasi, menyebar benci, di tengah hausnya rasa keadilan. Satu noktah berubah seribu tuah, setitik nila serasa selaksa duka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here