Tentang Taubat

0
354
Oleh: KH. Moh. Muzakka Mussaif

Taubat adalah permohonan ampunan seorang hamba kepada Allah Swt. Sebab, setiap hamba tak akan pernah luput dari perbuatan salah dan lupa, bahkan hamba itu sendiri menjadi tempat salah dan lupa.

Karena hamba atau orang itu tempat salah dan lupa maka sepanjang hidupnya mereka akan dipenuhi dosa. Padahal dosa-dosa itulah yang akan menjadikan manusia menerima siksa dan azab neraka.

Alhamdulillah, Allah yang Maha Pengampun ini akan mengampuni dosa-dosa hamba yang berbuat dosa baik besar maupun kecil bila hamba itu mau bertaubat.

Dalam QS. Surat At-Tahrim, ayat 8, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya atau “taubatan nasuuha“. Artinya, Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali ke jalan yang benar.

يا ايها الذين امنوا توبوا الى الله توبة النصوحا

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa perintah Allah itu dikhususkan pada orang-orang yang beriman. Hal itu menunjukkan bahwa orang-orang beriman itu juga penuh dengan dosa sehingga diperintah untuk bertaubat.

Nabi Juga Bertaubat

Ada yang harus direnungkan secara mendalam terkait taubat ini. Rasulullah Saw sebagai kekasih Allah yang maksum, yakni terpelihara dari berbuatan maksiat pada Allah, dengan keagungan perilakunya ternyata beliau selalu bertaubat dalam setiap saat. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Rasulullah bertaubat dalam sehari 70 kali dan ada yang menyebut 100 kali mohon ampun kepada Allah Swt. Dari sinilah kemudian Rasulullah Saw memerintahkan umatnya dan atau manusia untuk bertaubat.

Kalau Rasulullah Saw sebagai orang terpelihara saja bertaubat sampai 100 kali sehari, bagaimana dengan kita sebagai ummatnya dan manusia lainnya yang setiap hari melakukan perbuatan dosa. Bagaimana kita bisa berharap surga jika tidak diampuni oleh Allah Swt.

Terkait dengan pertaubatan dosa ini dijelaskan dalam Kitab Durrotun Nasihin bahwa orang yang masih melakukan perbuatan dosa itu pertanda orang itu berkurang imannya. Maka orang yang ingin berhasil dalam bertaubat, ia harus bisa sabar atau menahan diri dari berbuat maksiat. Sabar juga sangat sulit dilakukan kecuali dengan memunculkan rasa takut terhadap siksa Allah yang amat pedih.

Rasa takut terhadap siksa Allah, bisa tumbuh manakala kita tahu besarnya madharat atas dosa-dosa yang kita lakukan. Dan yang terakhir ini tidak akan berhasil jika kita tidak dapat membenarkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dari persoalan itulah, maka muncul persoalan bagi orang yang belum mampu meninggalkan perbuatan dosa atau maksiat. Orang itu dikhawatirkan akan meninggal dunia dalam su’ul khotimah. Naudzubillah min dzaalik.

Dari uraian singkat itu, sangat jelas bagi kita karena ajal manusia adalah rahasia Allah, maka sudah seharusnya dan menjadi kewajiban kita untuk senantiasa bertaubat pada Allah dan ber-istighfar sepanjang waktu. Berdoalah selalu, mudah-mudahan kelak kita meninggal dalam husnul khatimah.

Ngaji Sabtu Subuh di Masjid Baitun Nikmah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here