Tentang Tato

0
405
sumber: hellosehat.com

oleh: Muhammad Umar Said

Tulisan ini menarik dibaca, karena tato sedang nge-trend di kalangan pemuda-pemudi. Bahkan, orang tua pun banyak yang bertato. Seakan permasalahan hukum sudah terbaikan. Mereka beranggapan, bahwa tato merupakan seni lukis yang menyenangkan dan pelakunya merasa PD. Lalu, apa sebenarnya Tato itu? Dan bagaimana hukumnya?

Tato adalah melukis, menggambar sesuatu dengan cara melukai anggota badan/tubuh,  ditandai dengan keluarnya darah yang lalu darah itu membeku.

Hukum membuat tato adalah haram. Dalam sebuah hadits dikatakan:

(لعن الله الواشمات والمستوشمات (متفق عليه

Artinya: “Allah melaknat para perempuan bertato dan para perempuan yang meminta ditato.” (Muttafaq ‘Alaih).

Kenapa tato diharamkan? Karena tato di dalamnya mengandung najis dan mengubah ciptaan Allah SWT.

فيحرم في الوجه وجميع البدن لما فيه من النجاسة المجتمعة وتغيير الخلق

artinya: “Dan haram mentato wajah, bahkan haram juga semua bagian tubuh yang lain karena di dalam tato mengandung najis yang menggumpal begitu juga karena mengubah ciptaaan Allah.”

Hukum Salat Orang Bertato

فتجب إزالته مالم يخف ضرارا يبيخ التيمم،  فإذا خاف لم تجب إزالته،  ولا إثم عليه بعد التوبة،  وهذا إذا فعله برضاه بعد بلوغه وإلا فلا تلزمه إزالته وتصح صلاته وإمامته ولا ينجس ماوضع فيه يداه مثلا إذا  كان  عليها وشم

Artinya: “Kemudian tato tersebut wajib dihilangkan apabila orang yang bertato tidak khawatir menghilangkannya akan menimbulkan bahaya sampai tingkat yang memperbolehkan tayammum, jika tidak khawatir maka tidak wajib menghilangkannya dan tidak ada dosa baginya setelah ia bertaubat. Hal ini mesti dibaca dalam konteks ketika ia membuat tato dengan sukarela setelah dewasa, jika tidak demikian, maka tidak wajib menghilangkanya. Shalat dan menjadikannya imam shalat adalah sah. Dan tidak najis misalnya anggota tubuh yang bertato disentuh tangan.”

والله أعلم بالصواب

Refresensi:

  1. Abdurrauf al-Munawi, at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Riyadl-Maktabah al-Imam asy-Syafi’i, cet ke-2, 1408 H/1998 M, juz, II, h. 909
  2. Muhammad asy-Syarbini al-Khathib, al-Iqna` fi Halli Alfazhi Abi Syuja`, Bairut-Dar al-Fikr, 1415 H, juz, I, h. 151
  3. Muhammad Nawawi Al-Bantani, Sullam al-Taufiq, Thoha Putera Press, tth.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here