Tentang Padi

0
155
Moh. Muzakka Mussaif

Padi adalah tumbuh-tumbuhan sejenis rerumputan yang menghasilkan makanan pokok. Ia menghasilkan gabah yang dapat diproses menjadi beras. Beras dapat dimasak jadi nasi, lontong, ketupat, bubur, bahkan bisa juga menjadi tepung yang dapat dibuat peyek, kerupuk, dan lain-lain.

Orang suka makan transformasi padi. Tidak suka makan padi, gabah, atau beras. Begitulah gambaran memahami agama dengan arif yang telah dilakukan para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, Imam madzhab, para wali dan para ulama hingga sekarang.

Dasar pengambilan hukum Islam adalah teks Alquran dan hadits. Ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi itu turun ada sebab-sebabnya (konteks). Konteks sangat terkait dengan waktu, tempat, dan situasi. Lantas bagaimana kita berhukum di era digital ini?, apa semua teks-teks itu bisa kita aplikasikan seluruhnya sesuai konteks masa lalu?. Tentu sangat tidak mungkin. Di sinilah kemudian muncul dalil aqli. 

Penggabungan dalil naqli dan aqli secara berimbang itulah kita bisa mengambil hukum secara Arif. Jadi, urutannya menjadi Alquran, hadits, dan rasio. Rasio orang memahami teks itu bisa kolektif bisa sporadis. Rasio kolektif menghasilkan keputusan bersama (ijma’ ulama), sedangkan rasio sporadis menghasilkan dalil qiyas (analogi). Di sinilah kemudian pengambilan hukum Islam itu menggabungkan empat dalil tersebut, yakni Alquran, hadits, ijmak, dan qiyas.

Contoh, kewajiban membayar zakat fitrah menggunakan ayat dan hadits umum yang sangat sulit diaplikasikan di Indonesia dan negeri negeri lain. Rosulullah membayarnya dengan kurma, gandum, atau sair (sejenis gandum).

Melihat yang demikian inilah Imam Syafi’i menggunakan dalil qiyas menjadi makanan pokok. Kita pun membayarnya dengan beras. Pertanyaannya apakah dalil qiyas ini mengingkari teks Alquran dan hadits?. Jawabannya tentu tidak. Sebab membayar zakat itu perintah Allah dan Rasulullah. Membayarnya tidak seperti Rasulullah tetapi menggunakan dalil qiyas.

Namun, pemikiran rasional yang bertolak dari teks ini sering dianggap sesat atau bid’ah oleh orang-orang yang memahami teks secara tekstualis dan formalistis. Inilah yang kemudian menjadikan kegaduhan masyarakat. Apakah makan padi, gabah, atau beras itu lebih baik dan enak dibandingkan makan nasi, bubur, lontong, ketupat, dengan pasangan peyek dan kerupuk. Apakah makan padi atau beras dengan kelapa itu lebih mudah dan enak dibanding dengan makan bubur yang diberi santan kelapa?. Tentu jawabnya tidak.

So, memahami agama harus dengan kecerdasan dan kearifan.Wallahu A’lam

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here