Tentang Niat

0
79
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Kalau ada orang yang bekerja dengan sesuka hatinya, orang  menganggap “kerjo kok ora niat“. Ada lagi orang yang berkehendak melakukan perbuatan baik, tetapi ia tidak berbuat juga, ia bilang “sing penting niate wis apik“. Misal, saya berbicara pada seseorang bahwa besok saya akan bersedekah yang banyak, naik haji, dst.

Kedua pemahaman tentang niat itu kurang tepat. Orang bilang salah kaprah. Yang pertama menganggap niat sebagai profesionalitas, sedangkan yang kedua menyerupakan niat dengan azam, keinginan, harapan, atau cita-cita.

Dalam kitab fikih, niat itu menjadi hal yang paling penting. Sebab, ibadah apapun tanpa disertai niat tidak sah dan tidak ada nilainya sama sekali. Karena semua amal seseorang itu tergantung dari niatnya. Hal ini berdasar pada hadits  Rasulullah yang terpopuler yang dirujuk oleh semua kitab fikih. Dalam kitab Hadits Arbain Annawawiyah pun diletakkan sebagai hadits yang pertama. Meskipun haditsnya agak panjang, tetapi sering dikutip poin pentingnya, yakni

 انما الاعمال بالنيات وانمالكل امرئ مانوى

Dari hadits itu muncul pertanyaan, “Apakah niat itu?, niat yang bagaimana yang menyebabkan amal itu diterima?”.

Pengertian niat secara fikih dirumuskan dengan gamblang. Misal dalam kitab fikih dasar Safinatun Najah disebutkan bahwa, “Niat adalah menyengaja melakukan sesuatu diikuti dengan tindakan, tempatnya di dalam hati…”.

Jika kita mengacu pada pengertian tersebut, maka niat itu hakikatnya adalah motivasi internal yang dilakukan berbarengan dengan perbuatannya. Bisa jadi disederhanakan dengan gerakan hati yang diekrepesikan dalam tindakan.

Dengan mengacu batasan iitu pula, maka orang yang beraktivitas dengan hasil yang tidak optimal, maka orang itu niatnya tidak bulat atau bisa jadi melakukannya karena terpaksa. Begitu juga orang yang banyak keinginan, harapan, cita-cita, tetapi tidak ada upaya maksimal untuk mewujudkan perbuatan itu pun belum dianggap berniat.

Oleh karena itu, sebagai pribadi kita harus menguatkan niat dan meluruskan niat dalam beribadah dan dalam beraktivitas lainnya. Dalam hal ibadah, kedua hal itu harus dikukuhkan dengan keikhlasan dalam berniat. Sebab tanpa niat yang ikhlas, amal itu pun tidak diterima oleh Allah Swt.

Terkait keikhlasan dalam niat, mari kita tengok kembali hadits Rasulullah yang disampaikan langsung pada Muadz bin Jabbal RA, dalam kitab Nashoihul Ibad yang artinya, “Ikhlaskan niat niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu sedikit”.

Penulis adalah Pengasuh Majelis Taklim Al Muslikhun Kendal 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here