Tentang Kezaliman

0
158
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Perbuatan zalim (dholim) maknanya dipertentangkan dengan perbuatan adil. Yakni, perbuatan zalim itu bermakna perbuatan yang tidak adil. Begitu pun sebaliknya, perbuatan adil itu terbebas dari sifat zalim. Kalau adil itu didefinisikan dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya, maka zalim adalah sebaliknya, yakni meletakkan sesuatu di luar tempatnya.  Sebagai ilustrasi, seseorang yang meletakkan kopyah di kaki atau sepatu di kepala atau di tangan adalah kezaliman. Sebab, letak kopyah itu di kepala dan sepatu itu di kaki.

Sekarang ini, banyak sekali manusia yang berbuat zalim. Bahkan, perbuatan zalim manusia sekarang ini dapat dikategorikan zalim komprehensif. Mengapa komprehensif?, sebab banyak manusia yang berbuat zalim pada dirinya, sesama, dan pada Tuhannya. Bahkan, dalam ranah yang lebih luas lagi, manusia juga berbuat zalim pada binatang, tumbuhan, dan semesta alam lainnya.

Kezaliman manusia pada dirinya timbul karena dorongan syahwatnya yang besar sehingga dia melakukan perbuatan di luar kemampuannya, baik fisik, psikologis, maupun kompetensinya yang lain. Karena di luar kemampuannya itulah ia menjadi tidak mampu berbuat baik dan optimal.

Kezaliman yang paling banyak dilakukan manusia adalah kezaliman terhadap sesama. Mengapa hal ini selalu terjadi? Sebab, kebanyakan manusia bersifat serakah dan egois. Sifat serakah menjadikan manusia ingin menguasai banyak hal yang bersifat duniawi sehingga  ia mempersempit orang lain dalam berikhtiar untuk mendapatkan kue dunia. Sifat egois menjadikan manusia tak siap bersaing sportif. Dengan keegoisannya manusia menganggap sesama bukan sebagai mitra, tetapi memandangnya sebagai saingan, bahkan bisa jadi dianggap musuh. Karena orang lain itu dianggap sebagai musuh, maka dengan egonya manusia demikian ini akan menganiaya secara kejam pada sesama, bahkan bisa jadi menghabisi sesamanya.

Adapun kezaliman yang paling besar dilakukan manusia adalah menganiaya Sang Pencipta. Mereka lupa atau barang kali tak merasa kalau kehadiran mereka di dunia karena diciptakan. Mereka bisa hidup senang karena disayang oleh Sang Pencipta Alam.  Mereka menganiaya Sang Pencipta dengan melupakan-Nya, menjauhi-Nya, menduakan dan menyekutukan-Nya. Padahal sekutu-sekutu yang dihadapkan Allah adalah ciptaan Allah. Sekutu-sekutu itu bisa berupa harta benda, pangkat-jabatan, atasan, manusia, hingga jin dan setan. Maka sangatlah durhaka manusia demikian ini pada Sang Penciptanya. Kezaliman pada Sang Pencipta inilah yang paling terlarang dan tak terampuni oleh Tuhan. Sebab, Alquran Surat Luqman menegaskan, “ Hai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah penganiayaan yang besar terhadap Tuhan”.

Terkait perbuatan zalim ini Rasulullah menyampaikan penegasan Allah dalam hadits yang shohih. Allah menegaskan, “Wahai hambaku, sesungguhnya aku mengharamkan perbuatan zalim atas Diriku dan hamba-hamba-Ku. Maka ingatlah, janganlah kamu sekalian berbuat dzalim” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Dalam hadits lain Rasulullah juga menegaskan, “Takutlah kalian pada perbuatan zalim, maka sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat”.

Penulis adalah Pengasuh Majelis Taklim Al Muslikhun Kendal 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here