“TEMAN SETIA” SEBAGAI MAKNA AULIYA’ DALAM Q.S. AL-MAIDAH AYAT 51

0
370

A. Pertanyaan :
Sdr. Drs. H. Mahrus dan Drs. Ahmad Wahib dalam group WA milik PCNU berdiskusi tentang issue yang beredar tentang penerjemahan lafadz dalam Al-Qur’an yang berbeda dengan penerjemahan dalam “Al-Qur’an dan Terjemahannya” yang dilakukan para ulama seperti KH. Ali Maksum Yogyakarta, KH. Prof. Anwar Musaddad Garut Bandung (keduanya tokoh NU yang sudah wafat, RahimahumAlloh) dan ulama lain, yang resmi diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, yaitu lafadz اولياء yang seharusnya diartikan “pemimpin” tetapi diartikan “teman setia”. Bagaimana hukumnya hal itu dalam pandangan fiqih Islam?

B. Jawaban :
Lafadz “auliya” adalah bentuk jamak taksir dari lafadz mufrod “wali”. Dia adalah lafadz musytarak, yaitu satu lafadz yang mempunyai banyak arti. Bisa berarti pemimpin atau penguasa seperti kosakata “walikota”, bisa berarti kekasih seperti “wali Allah”, bisa berarti pengasuh atau penanggungjawab seperti “wali murid” atau “wali yatim”, bisa berarti teman setia seperti sabda Nabi SAW “Ali adalah waliku” dan lain sebagainya.
Akan tetapi untuk bisa mengartikan lafadz dalam ayat Al-Qur’an harus mengetahui ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu balaghoh dan ilmu-ilmu lain dan juga harus mengetahui sebab-sebab turunnya ayat tersebut.

Ayat tersebut diturunkan karena setelah kekalahan kaum kafirin oleh kaum muslimin dalam perang Badar, maka kaum Yahudi Suku Quroidhoh dan kaum Nasrani Najran marah dan memiliki rencana busuk terhadap kaum muslimin. Maka sahabat Ubadah bin As-Shomit mengatakan kepada Nabi SAW bahwa dia akan memutus hubungan baik dengan kaum Yahudi demi membela Nabi dan kaum muslimin.

Sedangkan Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh kaum munafiqin, mengatakan bahwa dia akan tetap menjaga hubungan baik dengan kaum Yahudi Quraidhoh dan Nashara Najran karena takut mendapat bahaya dari mereka. Setelah Nabi SAW menjawab dengan bersabda : “Hai Abu Hubab (Ibnu Ubay bin Salul), apa yang kau bela yaitu bersekutu Yahudi atas Ubadah bin As-Shomit, maka itu adalah urusanmu”, maka turunlah ayat ini.

Jadi, lafadz auliya’ jika diterjemakan “teman setia”, apabila yang dimaksudkan adalah sekutu sebagaimana dalam uraian asbabun nuzul di atas, maka itu tidak apa-apa, justru akan meningkatkan bobot larangan dalam ayat tersebut. Begini logikanya : “Jika Yahudi dan Nashara tidak boleh dijadikan teman setia, apalagi dijadikan pemimpin, maka lebih tidak boleh lagi”. Yang terpenting penerjemahan itu tidak boleh menyimpang dari maksud dan tujuan lafadz dalam Al-Qur’an, supaya tidak masuk kategori Taghyir atau Tahrif terhadap Al-Qur’an.

Ayat tersebut mempunyai banyak maksud :
1. Yahudi, Nashara dan semua kuffàr tidak boleh dijadikan auliya.
2. Hubungan dagang dan semua bentuk muamalah seperti kerjasama urusan pekerjaan, pembangunan fisik dengan mereka tidak dilarang.
3. Menjadikan mereka sebagai “Bithonah” (link kekuasaan) tidak dibolehkan.
4. Bersekutu dengan mereka atau bersekutu dengan sekutu mereka untuk mengalahkan kaum muslimin dilarang atau diharamkan.
5. Persekutuan dengan mereka merupakan akibat dari lemahnya iman.
6. Hakikat muwàlàh (menjadikan pihak lain sebagai auliya’) adalah hubungan saling mengasihi dan saling membela.

Maka yang mengasihi dan membela Yahudi dan Nashara untuk mengalahkan kaum muslimin, maka itu sama dengan membenci dan menghinakan kaum muslimin, dan itu hukumnya sama dengan kemurtadan.

C. Referensi :

١. فلا مانع شرعاً من ترجمة معاني القرآن الكريم إلى أي لغة أخرى بشرط أن يكون المترجم أميناً عالماً… بل إن ذلك مطلوب شرعاً لأن القرآن العظيم نزل للناس كلهم، وترجمة معانيه إلى لغاتهم مما يسهل وصوله إليهم واطلاعهم عليه
وأما ترجمته الحرفية فلا تصح لأن الترجمة الحرفية معناها ذكر المرادف أو المقابل للفظ من اللغة الأخرى، وهذا ما لا يمكن في اللغة العربية مع غيرها لسعتها ووجود الكناية والاستعارة، وغير ذلك من أساليب البلاغة التي تختص بها العربية ويقل نظيرها في اللغات الأخرى، فإذا ترجم القرآن ترجمة حرفية تغير المعنى.
وقد ترجم بعضهم قول الله تعالى: هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ {البقرة:187}، ترجمة حرفية فقال: هن بنطلونات لكم وأنتم بنطلونات لهن، فليس المقصود باللباس هنا اللباس الحسي وإنما هو السكن والستر فكل واحد منهما ستر وسكن لصاحبه.
وأما كتابة ألفاظه العربية بحروف أجنبية فإنه لا يجوز لما فيه من التحريف وتغيير بعض الحروف، فبعض حروف اللغة العربية لا يوجد في غيرها من اللغات، وقد اتفق أهل العلم على وجوب التقيد بكتابة المصحف على الكتابة الأولى التي كتب بها أصلاً بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم في المصاحف العثمانية التي أجمع عليها الصحابة وهذا بالحروف العربية، فكيف بغيرها لا شك أن ذلك سيكون أبعد مما كتب عليه، والحاصل أن الترجمة الحرفية لا تصح، وأن ترجمة المعاني أمر مطلوب شرعاً، ونرجو الاطلاع على الفتوى رقم: 32300، والفتوى رقم:61198

٢. قال عطية العوفي : جاء عبادة بن الصامت فقال : يا رسول الله ، إن لي موالي من اليهود كثير عددهم حاضر نصرهم ، وإني أبرأ إلى الله ورسوله من ولاية اليهود ، وآوي إلى الله ورسوله ، فقال عبد الله بن أبي : إني رجل أخاف الدوائر ، ولا أبرأ من ولاية اليهود ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : “يا أبا الحباب ، ما بخلت به من ولاية اليهود على عبادة بن الصامت فهو لك دونه” ، فقال : قد قبلت ، فأنزل الله تعالى فيهما : ( ياأيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ) إلى قوله تعالى : ( ترى الذين في قلوبهم مرض ) يعني عبد الله بن أبي ( يسارعون فيهم ) في ولايتهم ( يقولون نخشى أن تصيبنا دائرة ) الآية

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here