Tawadhu’ (2)

0
237

Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Dengan berjalan kaki, Santri meneruskan perjalanan pulang dengan harapan sesampainya di rumah, ia akan mengabdi kepada emaknya dan masyarakat di kampungnya. Ketika ia tiba di Pati ia bertemu dengan seseorang yang aneh dan janggal. Betapa tidak, orang aneh itu memenuhi kolam dengan air yang diambilnya dengan keranjang atau kurungan ayam. Meski airnya berceceran ke mana-mana tetapi kolam itu terisi penuh dengan air.

Lagi-lagi ia gemetar ketika melihat orang yg dianggapnya kurang waras dapat memenuhi kolam dengan keranjang. Santri pun mendekati orang aneh dan bertanya, “Kang, bagaimana akang bisa melakukan pekerjaan yang ganjil ini?” Dengan aneh pula ia menjawab, “Ini perintah guru, Santri harus bisa melaksanakannya”. Astaghfirullah, sampaikan salamku pada gurumu Kang! Santripun mencium tangan orang aneh dan pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang. Dalam hati santri bergumam, ternyata ilmu yang kupelajari 20 tahun ternyata belum membuatku pandai.

Setelah berpamitan dan bercium tangan dengan orang “gemblung” itu, Santri pun melanjutkan perjalanan pulang. Di jalan ia terngiang dengan kata-katanya, “Untuk perintah guru sekalipun tak masuk akal Santri harus bisa”.

Sambil merenung di jalan, tak terasa Santri sudah sampai di kawasan hutan. Dengan mempercepat jalannya, santri tak henti-hentinya melafazkan dzikir. Tak sengaja di depannya, Santri melihat lelaki tua tengah dirampok dua begundal paruh baya. Dengan sigap dan lincah, Santri dapat membekuk dua begundal itu karena di sela ia mengaji ratusan kitab kuning ia juga latihan olah kanuragan di pesantren.

Santri kaget dan terkesima, lelaki tua itu malah menyerahkan hartanya kepada begundal dan menyuruhnya pergi dengan penuh keikhlasan. Dengan hati tergetar, Santri itu pun bertanya pada lelaki tua itu. “Apa yang mendorong Bapak mengampuni dan mengikhlaskan harta pada mereka, padahal mereka menyakiti Bapak”? Tanya santri. “Aku melakukan itu karena aku berpikir bahwa Allah itu sedang menguji mereka dengan kekurangan harta. Aku berharap dengan sikapku mereka akan mendapat petunjuk Allah untuk jadi orang baik”, jawab lelaki tua itu.

Santri pun bergumam, “Andai hidayah itu dicabut oleh Allah niscaya aku juga akan menjadi jahat”. Santri pun beristighfar dan mencium tangan lelaki tua itu, sebab tak sengaja ia telah mendapat ilmu hikmah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here