Tawadhu’ (1)

0
49

Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Seorang santri yang dianggap cukup ilmunya oleh sang Kiai meninggalkan pesantren salaf yang telah ditinggalinya selama 20 tahun. Ia berpamitan dengan Sang Kiai yang telah mengajarkan lebih dari 150 kitab yang berisi beragam ilmu agama. Di jalan ia bertemu dengan seorang yang sangat tua yang akan pergi ke masjid, ia berjalan di belakang orang itu dengan perlahan. Ia sangat sedih hatinya karena melihat orang tua renta itu sangat semangat ikut salat berjamaah. Ya Allah, orang itu tentu banyak sekali pahalanya di sisi-Mu sebab dari muda hingga tua semangat ibadahnya pada-Mu tidak pernah surut. Selepas salat jamaah santri itu pun bersalaman mencium tangan orang tua tadi.

Selepas jamaah salat zuhur, santri meneruskan langkah perjalanannya. Ketika santri melintasi kompleks pemakaman, tidak sengaja ia bertemu seorang anak berpakaian rapi dan bersarung serta berpeci. Santri bertanya, “Dari mana Dik?” Bocah yang kira-kira berumur 10 tahunan itu pun menjawab, “Dari makam ibu dan bapak, Kang”. “Memangnya, ayah dan ibu Adik sudah meninggal dunia,” tanya santri lagi dengan nada gemetar. Bocah itu pun menjawab, “Ya, Kang mereka berdua meninggal dunia karena kecelakaan saat mereka mau membelikan sarung untukku, setahun yang lalu. Setiap habis salat aku selalu mendoakannya dan setiap Kamis sore aku ziarah ke kuburnya”. Santri itupun gemetar dan memeluk bocah itu. “Ya, Allah ampunilah aku. Bocah ini sangat muda tetapi ibadah dan birrulwalidain-nya luar biasa. Dia juga masih muda, belum baligh tentu belum ada dosa baginya. Sedang Aku ya Allah, jauh lebih tua darinya, tentu aku lebih banyak dosanya. Aku pun belum menunjukkan baktiku pada orang tuaku dengan sepenuh hati”. Dengan mendekap erat pada bocah itu santri pun berkata lirih, “Dik, doakan Kakang ya, agar Kakang menjadi orang yang baik seperti adik.
Subhanallah.

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here