TASAMUH VS LIBERAL

1
27

Oleh : Muhammad Fatkhurrois

 

Dalam berinteraksi social berhadapan berbagai kelompok maupun individu yang majemuk adalah sebuah keniscayaan. Bermacam macam suku, warna kulit dan keyakinan akan  mewarnai cara berinteraksi social. Dalam situasi fenomenal seperti ini, tentu akan memancing penilaian subyektifitas kebenaran dari masing masing kelompok atau golongan, maka sangat diperlukan sebuah cara untuk mendialogkan berbagai kepentingan ini.

Sudah beberapa kali public di suguhi berbagai peristiwa intoleran yang berakar dari perbedaan yang tidak berkomunikasi secara dewasa.  Hanya karena berbeda ras, kilit dan idiologi mereka harus berseteru hingga menumpahkan darah. Kondisi seperti ini telah memunculkan keprihatinan bahkan  berbagai penelitian  dan analisa untuk mencari cara yang harus ditempuh. Seruan agar hidup rukun dan toleran antar golongan dan idiologhi menggema dimana mana. Berbagai dialog dan diskusi digelar diberbagai media dan event. Kutukan terhadap tindakan intoleran diserukan lewat berbagai media.

Sikap tatoruf dalam memegang teguh kebenaran yang diyakini oleh kelompok tertentu baik ras, warna kulit agama dan sebagainya, sehingga kerukunan antar kelompok di abaikan, hal tersebut Telah memunculkan  berbagai reaksi yang membela toleransi dengan berbagai bentuk. Mulai dengan diskusi yang melibatkan berbagai pemeluk keyakinan yang berbeda beda sampai do’a bersama antar agamapun dilakukan.

Pada intinya, sikap dan perbuatan intoleran yang terjadi di mana-mana telah menimbulkan perlawanan dengan menampakkan toleransi dari berbagai kegiatan. Dari kerjasama antar keyakinan dalam bentuk kegiatan social sampai pada membedah perbedaan antar Aqidah secara besar besaran. Gerakan atas nama toleransi dan menjunjung HAM ini dipelopori oleh gerakan Islam Liberal. Islam Liberal berangggapan bahawa Islam dewasa ini mesti lebih membuka ruang dialog dan membuka seluas luasnya kebebasan beragama di tengah masyarakat. Dalam dialog yang diadakan oleh kyai muda Jawa Timur, Ulil Absar Abdallah ( salah satu tokoh utama Islam Liberal) mengungkapkan bahwa  secara teori sah sah saja seseorang pindah pindah agama meskipun sulit dilakukan, karena toh semua agama itu benar.

Islam Liberal memang gencar dalam mengusung kebebasan beragama, mengajak melakukan penerapan alquran secara kontekstual, anti terhadap prilaku beragama yang dianggap konservatif dan tekstualis.Negara dianggap tidak perlu membawa  nama agama dalam mengatur negara,sehingga negara dan agama harus dipisahkan. Atas nama toleransi antar Agama dan menjaga kerukunan diperbolehkan perkawinan antar Iman. Menurutnya keluar dari agama islam dan berpindah pada agama lain ( Nasrani dan Yahudi ) adalah sesuatu yang sah dan diperkenankan, karena toh semua agama samawi mempunyai akar teologi yang sama. Kebenaran dan persamaan antar agama tidak hanya di ranah social saja, tetapi juga mempunyai kesamaan pada pondasi akidah. Menurut Islam Liberal tuhan tidak mempersoalkan cara penyembahan pada tuhan, karena yang di sebut dosa adalah yang terkait dengan social kemanusiaan bukan ritual ketuhanan. Keberpihakan total ( baca berlebihan ) Islam liberal pada urusan social dapat digambarkan lewat tulisan Sumanto al Qurtubi, seorang tokoh JIL ( Jaringan Islam Liberal ) tentang seks bebas berikut :

“…Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “ demokratis” , tidak ada pihak yang disubordinasi dan diintimidasi ? atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur ( maaf kalau kata ini kurang sopan ), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya ? Atau hukum seorang perempuan, tante tante, janda janda atau wanita wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “ menjual” otaknya untuk mendapatkan honor , atau seorang da’I atau seorang penghotbah yang  “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang menjual pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjait atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi kelurga, apakah tidak boleh seorang laki laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminya untuk menghidupi anak isterinya /suami mereka?

Ada sebuah kisah dalam sejarah keislaman yang layak kita jadikan bahan renungan ada seorang pelacur kawakan yang telah letih mencari pengampunan  kemudian menyusuri padang tandus. Ia hanya berbekal sebotol air dan sepotong roti. Tapi ditengah perjalanan ia melihat seekor anjing yang sedang kelaparan dan kehausan. Karena perasaan iba pada anjing tadi, si pelacur kemudian memberikan air dan roti itu padanya. Berita ini sampai kepada Nabi Muhammad yang mulia. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa sipelacur tadi kelak akan masuk surga.

Kisah ini menunjukkan bahwa Islam lebih mementingkan rasa social kemanusiaan ketimbang urusan perkelaminan…”

 Apa yang di ungkapkan oleh Sumanto al Qurtubi ini tentu bersebrangan dengan pendapat Ulama pada umumnya yang memposisikan berzina ( baik terjadi karena perkosaan atau saling menginginkananya ) adalah dosa besar yang harus dijauhi berdasarkan al Quran Surat al Isra’: 32 :

Dan janganlah kamu mendekati zina Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk / yang sangat merusak.

            Tulisan Sumanto al Qurtubi ini menggambarkan bahwa Islam Liberal memposisikan urusan social adalah sesuatu yang teramat dipertimbangkan ketimbang urusan yang bersifat ritual dan akhlak yang berkaitan dengan akidah. sehingga apa yang di tulis dalam Al Quran perlu ditafsirkan sesuai dengan kehendak kebutuhan sosial dan perkembangan zaman.  Sesuatu yang di anggap haram oleh para Ulama bisa dihalalkan manakala urusan social menghendaki demikian.

Bentuk toleransi, kemanusiaan, HAM atau apapun namanya yang penting berkaitan dengan hubungan social dengan sesama manusia sebagaimana yang ditawarkan oleh “mazhab” liberal, sekilas merupakan gagasan kemanusiaan yang cukup sempurna. Tetapi ternyata mengundang banyak kritikan dan melukai ajaran Islam mainstrim. Karena membawa hubungan toleran antar sesama manusia termasuk antar Agama pada persoalan akidah tentu akan mengundang “kekacauan” Iman.

Ajaran Tasamuh dalam Islam

Dalam Islam, kehidupan antar umat beragama, suku,ras dan idiologi ataupun kepentinagan, tentu telah di atur sedemikian rupa. Di awal perdaban Islam, Rosulullah pernah menorehkan sejarah yang dijadikan referensi bagi generasi berikutnya yang di kenal dengan istilah Piagam Madinah. Konon Piagam ini adalah “senjata” untuk mengahdapi realitas social yang bernama kemajemukan itu. Piagam Madinah adalah konstitusi tertua yang mengatasi problematika perbedaan, berbagai agama ras suku bahkan kelompok seperti ansor dan muhajirin, dipersatukan dalam konstitusi tersebut. Piagam Madinah  kecuali sebagai bukti bahwa islam sangat tidak mentolelir adanya gesekan akibat perbedaan, juga mengandung ajaran Toleransi ( Tasamuh ).   Toleransi atau yang populer dengan istilah Tasamuh,menjadi sesuatu yang penting dalam membangun kemanuasian dan peradaban.

Tasamuh berasal dari bahasa Arab yang berarti toleransi yang mempunyai arti bermurah hati, kata lain dari tasamuh adalah ‘tasahul’ yang memiliki arti bermudah-mudahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata toleransi adalah suatu sikap menghargai pendirian orang lain (sepertin pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian diri sendiri.

Sementara Tasamuh dalam kehidupan sosial dan beragama dimaknai sebagai Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan ,terutama dalam hal hal yang bersifat furu’,sehingga tidak terjadi pertentangan atau perasaan tidak nyaman karena terganggu hak untuk berbeda pandangan dan keyakinan sebagai hak prifatnya. Dengan sikap tasamuh ini diharapkan paling dapat  tidak dapat meminimalisir permusuhan dan perpecahan, sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (  ukhuwah islamiyah ). Perbedaan merupakan fenomena yang tidak bisa ditolak, jangankan hanya berbeda pendapat dan furu’,bahkan Allah menciptakan manusia berbeda jenis kelaminya , suku dan bangsa, sebagaimana FirmaNya dalam Q.S alHujrat ayat 13 :

Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah. Ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, “(QS Al Hujrat 13)

Ayat ini secara langsung telah menyatakan bahwa kemajemukan adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari karena memang tuhan menciptakan yang demikian itu. Sehingga menghargai keberagaman baik ras ,suku dan bangsa adalah sebuah keharusan. Lantas dalam praktik beribadah yang berasal dari ajaran Agama, Allah telah menggariskan dalam firmanya yang menegaskan bahwa al din yang diridhai hanyalah al Din al Islam. Islam mengajarkan menghargai dan menghoramati perbedaan keyakinan sesama manusia tidak bisa dibantah.Tetapi Islam meneguhkan keyakinan dan kebenaran Islam sebagai satu satunya agama yang haq adalah sesuatu yang wajib bagi dipegang teguh pemeluknya. Hal ini juga dipertegas oleh Rosulullah yang mulya dengan ungkapan “…gigitlah dengan gerahammu”.

Sehingga dalam menyikapi perbedaan agama ajaran Ahlu al sunah wa al jamaah, mengajarkan untuk meyakini kebenaran Islam sebagai al din al haq sebagai kebenaran mutlak dari Allah, dan menghargai, menghormati dan tidak mengganggu peribadatan pemeluk agama lain.

Sementara fenomena toleransi di negara majemuk sebagaimana Indonesia, ajaran Ahlussunah waljamaah dalam berbagai diskursus banyak melakukan toleransi terhadap tradisi lokal yang telah terlanjur berkembanag di Masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya.

Sikap toleransi yang diajarkan ahlu alsunah wa al jamaah yang demikian ini rupanya yang telah berhasil mempersembahkan makna khusus dalam konteks kemanusian yang lebih luas. Ajaran seperti ini pula yang telah menaklukkan banyak hati umat manusia khususnya di Indonesia sehingga Islam berhsil menjadi Agama mayoritas , bahkan telah menjadi penduduk islam terbesar didunia. Sehingga nilai pluraristiknya pola pikir serta sikap hidup masyarakat adalah sebuah keniscayaan dan akan mengantarkan kepada visi kehidupan. Fenomena beragama sebagaimana diajarkan oleh ajaran ahlu al sunah wa aljamaah khususnya di Indonesia inilah yang telah menyedot perhatian kaum muslim di belahan dunia. Sehingga sangat tepat jika Nahdlatul Ulama sebagai mesin penggerak utama ajaran ahlu al sunah wa aljamaah meneguhkan Islam Nusantara sebagai peradaban indonesia dan dunia..wallahu a’lam.(Oji)

Penulis adalah ketua PR NU desa Bringinsari kec. Sukorejo, kab. Kendal

1 KOMENTAR

  1. Assalamuaikum hanya sekedar bertanya kira kira apa yg membuat umat islam terpecah menjadi berbagai golongan apakan karena mengambil sebagian aturan islam sj dan tidak secara keseluruhan..mohon jawabannya…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here