Tamakkun

0
176
Oleh: KH. Mohammad Danial Royyan

Secara bahasa tamakkun artinya: tetap berada di tempat
Menurut pendapat Syeikh Al-allamah Ibnu ‘Atholillah As-Sakandari, “Jika seseorang dikehendaki oleh Allah Swt ditempatkan pada suatu “tempat” yang terbaik menurut Allah, maka tidak diperkenankan baginya untuk berusaha keluar atau pindah dari tempat tersebut, hingga Allah sendiri yang akan memindahkannya. Dan hal tersebut termasuk adab bagi seseorang yang sedang atau akan menjalankan makrifat kepada Allah.

Jadi dalam kehidupannya orang yang mutamakkin selalu berpasrah diri (توكل), menyerahkan seluruhnya (تسليم) atau ( تفويض) terhadap kekuasaan Allah Swt. Hubungan Allah dengan makhluk-Nya itu seperti jemari tangan dengan pena, dimana pena dapat menulis apa saja tergantung kehendak jemari tangan. Sehingga bagi seseorang yang sedang melewati tangga menuju makrifat kepada Allah, ia tidak merasakan kekhawatiran dan kesusahan sedikitpun dalam kehidupannya. Hatinya selalu merasakan kehadiran Allah.

Selanjutnya Syeikh Ibnu ‘Athoillah menyatakan, bahwa ketika seseorang sudah mencapai maqam makrifat, maka jalan masuk dan jalan keluar yang ia lalui merupakan jalan kebenaran yang selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Swt. Sehingga dalam kehidupannya, apabila ia masih bujangan ia tidak berharap untuk menikah, apabila ia menikah ia tidak berharap untuk berpisah, apabila ia miskin ia tidak berharap menjadi kaya, apabila ia kaya ia tidak berharap menjadi miskin, apabila ia dalam keadaan sehat ia tidak berharap sakit, apabila ia sakit ia tidak berharap sehat, dan seterusnya. Apapun yang terjadi ia tetap berada di tempatnya, hingga Allah sendiri merubah posisinya. Miskin atau kaya, sakit atau sehat baginya adalah sama saja, ia pasrahkan jiwa raganya hanya kepada Allah ta’ala semata.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa hati seseorang ketika sudah sangat dekat dengan Allah, maka yang ia rasakan adalah kenikmatan yang tak terkira saat ia dekat dengan Kekasih yang begitu ia cintai dan rindukan yaitu Allah Swt. Alhasil yang ia rasakan adalah kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan. Ia tidak pernah merasa sedih dan kuatir terhadap masa depannya, karena ia selalu berserah diri secara total kepada Allah Swt.
Semoga bermanfaat.

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here