Sholawat Tanda Pisah

0
189

Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Dalam suatu majelis taklim yang gayeng, setelah ngaji rampung dan sarapan, jamaah asyik berdiskusi meski sebagian yang lain ngobrol santai. Tiba-tiba ada seorang jamaah nyeletuk, “Bang, sholawati dulu saja biar jamaah bubar dulu”. Jamaah lain nimpali dengan mulut tersenyum, “Husss, emang sholawat itu untuk membubarkan orang ya?”.

Kutipan peristiwa itu pasti menggelitik kita bukan? Setidaknya menggelitik saya untuk menanggapinya.

Memang, sering kita lihat peristiwa serupa di mana-mana. Setelah rampung acara apapun yang digelar kaum santri, sebelum di-sholawati (diucapkan sholawat oleh MC misalnya) jamaah tidak bubar atau pulang. Tak heran jika orang awam menganggap bahwa salah satu fungsi sholawat itu untuk membubarkan kegiatan hajatan atau majelisan. Anggapan ini perlu saya luruskan agar kaum santri memahami dasarnya dan tidak salah persepsi.

Pembacaan sholawat di akhir aktivitas majelis sebelum berpisah itu sunnah Rasulullah. Sholawat tersebut bukan sholawat yang berfungsi membubarkan atau “mengusir” suatu majelisan, tetapi sholawat sebagai tanda berpisah bagi jamaah dalam suatu majelis. Hal demikian ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir RA:

ما جلس قوم مجلسا ثم تفرقوا على غير صلاة علي الا تفرقوا على انتن من ريح الجيفه

Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah majelis kemudian mereka berpisah tanpa bersholawat padaku, kecuali mereka berpisah dengan bau yang lebih busuk daripada bau bangkai.

Hadits ini menjelaskan pentingnya bersholawat sebelum berpisah dalam suatu majelis apabila kegiatan majelis sudah selesai. Sebab, dengan bersholawat lalu berpisah ini akan memberikan tambahan kebaikan (barokah). Sebaliknya, jika perpisahan jamaah ini tanpa bacaan sholawat akan berdampak buruk bagi jamaah majelis. Rasulullah SAW menyatakan hal itu sebagai bau yang lebih busuk dari bau bangkai. Di sinilah pentingnya bersholawat pisah dalam majelisan.

Hal-hal kecil demikian janganlah ditinggalkan dalam bermajelis apalagi diabaikan. Jika kita mengabaikan hal-hal kecil itu, lama-lama pasti kita akan lupa bersholawat pada Rasulullah SAW. Jika hal ini terjadi, bahaya akan mengancam kita. Sebab, lupa bersholawat akan menyebabkan kita lupa pada jalan menuju surga. Dengan banyak bersholawat pada Rasulullah, maka akan menjadikan kita mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasulullah.

Terkait bahaya melupakan bersholawat ini, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairoh RA

من نسي الصلاة علي نسي طريق الجنة

Barang siapa lupa bersholawat kepadaku, maka dia akan lupa jalan menuju surga

والله اعلم بالصواب

Penulis adalah Ketua LDNU Kabupaten Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here